Ada Risiko Membayangi Saham BRMS, BRPT, dan UNTR, Apa Itu?

idxchannel.com
4 jam lalu
Cover Berita

Saham BRMS, BRPT, dan UNTR menghadapi risiko penyesuaian kepemilikan oleh investor institusi.

Ada Risiko Membayangi Saham BRMS, BRPT, dan UNTR, Apa Itu? (Foto: Magnific)

IDXChannel – Saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT United Tractors Tbk (UNTR) menghadapi risiko penyesuaian kepemilikan oleh investor institusi.

Ketiganya dinilai berpotensi kehilangan tempat dalam indeks acuan investasi, dengan UNTR menghadapi risiko tambahan akibat aksi pembelian kembali saham (buyback).

Baca Juga:
IHSG Sesi I Terkoreksi ke 4.860, Saham Konglo Berguguran

Risiko tersebut berkaitan dengan ukuran kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan porsi saham beredar di publik (free float-adjusted market capitalization). Faktor ini menjadi salah satu penentu kelayakan saham untuk masuk dan bertahan dalam indeks acuan investor global.

Dalam riset pada 3 November 2026, UOB Kay Hian memperkirakan BRMS, BRPT, dan UNTR berpotensi masuk dalam daftar kandidat saham yang dikeluarkan dari indeks MSCI pada evaluasi mendatang.

Baca Juga:
Timothy Ronald Koleksi 1,26 Persen Saham TMPO

“Kami memperkirakan BRPT, BRMS, dan UNTR akan masuk dalam daftar kandidat saham yang berpotensi dikeluarkan dari indeks berdasarkan kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan porsi saham publik dalam denominasi dolar AS,” tulis analis UOB.

Khusus UNTR, terdapat risiko tambahan berupa kemungkinan penurunan Foreign Inclusion Factor (FIF) menyusul aksi pembelian kembali saham perseroan.

Baca Juga:
Indocement (INTP) Cetak Laba Bersih Rp1,3 Triliun hingga Kuartal III-2026, Tumbuh 22 Persen

FIF merupakan faktor yang digunakan MSCI untuk menentukan porsi saham suatu perusahaan yang dapat diperhitungkan dalam indeks setelah mempertimbangkan ketersediaan saham bagi investor asing.

Sementara itu, risiko terhadap BRMS dan BRPT juga disoroti Mirae Asset Sekuritas.

Dalam riset yang terbit pada 2 November 2026, Mirae Asset memperkirakan BRMS memiliki peluang sekitar 90 persen untuk keluar dari indeks MSCI Standard. Sementara, peluang BRPT diperkirakan mencapai sekitar 40 persen.

Mirae Asset menilai BRMS menjadi kandidat paling rentan karena harga sahamnya tidak mampu bertahan di atas ambang batas untuk tetap berada dalam indeks MSCI Standard selama sebagian besar periode pengamatan.

Berdasarkan perhitungan Mirae Asset, BRMS perlu mempertahankan harga minimal Rp440 per saham agar memenuhi ambang batas tersebut. Namun, selama periode pengamatan 19-30 Oktober 2026, saham BRMS hanya ditutup di atas level tersebut pada satu dari 10 hari perdagangan.

Pada akhir periode pengamatan, harganya berada di Rp332, atau 24,5 persen di bawah ambang batas.

Sementara itu, BRPT memiliki ambang batas harga untuk bertahan di indeks MSCI Standard sebesar Rp1.290 per saham.

Saham tersebut ditutup di bawah level itu pada empat dari 10 hari pengamatan, termasuk pada hari terakhir setelah terkoreksi 7 persen ke Rp1.070.

Jika diturunkan dari indeks MSCI Standard, BRMS diperkirakan masih berpeluang masuk ke indeks MSCI Small Cap.

Sebaliknya, BRPT berpotensi terhapus sepenuhnya dari indeks MSCI karena kapitalisasi pasar penuhnya terlalu besar untuk memenuhi kriteria indeks Small Cap.

Dari sisi aliran dana, Mirae Asset memperkirakan perubahan klasifikasi BRMS dapat memicu arus dana keluar dari investor pasif sekitar Rp300 miliar.

Jumlah tersebut setara dengan sekitar 900 juta saham atau 1,1 persen dari total kepemilikan asing di BRMS.

Sementara itu, jika BRPT dihapus dari indeks, potensi arus dana keluar diperkirakan mencapai Rp900 miliar, setara sekitar 840 juta saham atau 3,7 persen dari kepemilikan asing di emiten tersebut.

Dengan demikian, jika kedua skenario terjadi, potensi arus dana keluar dari investor pasif dapat mencapai Rp1,2 triliun.

Meski demikian, UOB Kay Hian menegaskan bahwa ketiga saham tersebut masih sebatas kandidat berdasarkan estimasi mereka.

Ambang batas final, tanggal acuan harga, serta perlakuan terhadap saham beredar di publik masih akan ditentukan oleh MSCI.

Jika risiko penghapusan tersebut terealisasi, pengelola dana pasif yang mengikuti indeks terkait berpotensi melepas kepemilikannya untuk menyesuaikan portofolio dengan komposisi terbaru.

Besarnya tekanan terhadap masing-masing saham akan bergantung pada bobot saham dan jumlah dana yang mengikuti indeks tersebut.

Bagi investor, potensi perubahan komposisi indeks tidak serta-merta mencerminkan perubahan fundamental bisnis ketiga emiten.

Namun, risiko penyesuaian portofolio investor pasif tetap perlu diperhitungkan karena dapat memengaruhi permintaan saham di pasar sekunder. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Harga Emas 4 November 2026: Antam Turun Rp 4 Ribu, Galeri24 Melonjak Rp 16 Ribu
• 6 jam lalu
0
thumb
Demokrat Waspada Disadap Listyo dkk: Tunggu Hasil Penyelidikan, Apakah Juga Sadap Kami?
• 1 jam lalu
0
thumb
Korut tolak tuduhan provokatif AS sebagai dalang peretasan Binance
• 11 jam lalu
0
thumb
Suahasil Pastikan Kemenkeu Tak akan Masuk Jadi Pemilik Saham BEI
• 16 jam lalu
0
thumb
Nusron Wahid Sambangi KPK, Diperiksa sebagai Saksi Dugaan Suap Lahan HGB
• 5 jam lalu
0
Berhasil disimpan.