Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengungkapkan pasar Surat Berharga Negara (SBN) domestik tetap menunjukkan ketahanan di tengah volatilitas pasar keuangan global pada kuartal III 2026. Kepercayaan investor global terhadap SBN Indonesia masih relatif tinggi, tercermin dari pembelian bersih oleh investor asing.
Sepanjang Juli hingga September 2026, investor non-residen mencatatkan pembelian bersih SBN sebesar Rp 28,79 triliun. Dengan demikian, kepemilikan investor asing meningkat 3,28 persen dibandingkan posisi akhir 2025.
“Kalau kita lihat pasar SBN cukup resilient di tengah volatilitas pasar keuangan global pada triwulan III-2026. Kepercayaan investor global terhadap SBN domestik masih relatif tinggi, investor non-resident mencatatkan pembelian bersih sebesar Rp 28,79 triliun sehingga kepemilikan non-resident naik 3,28 persen dibandingkan posisi di akhir tahun 2025,” kata Suahasil dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Selasa (3/11).
Selain itu, kinerja SBN juga tercermin dari selisih imbal hasil (yield spread) SBN seri benchmark tenor 10 tahun terhadap US Treasury (UST) tenor 10 tahun yang berada di level 183 basis poin.
Angka tersebut turun tipis dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar 184 basis poin. Menurut Suahasil, kinerja positif pasar SBN tersebut berhasil dicatatkan di tengah kondisi suku bunga global yang masih tinggi.
Di sisi lain, tekanan terhadap pasar keuangan global masih berlanjut seiring eskalasi konflik geopolitik yang mendorong kenaikan harga energi. Kebijakan moneter negara-negara utama juga cenderung ketat sehingga meningkatkan imbal hasil aset keuangan global.
“Di pasar keuangan global, preferensi investor terhadap aset portfolio di negara berkembang masih relatif terbatas dan menyebabkan tetap kuatnya indeks mata uang dolar AS terhadap negara maju dan negara berkembang,” ujarnya.
Kondisi tersebut berpotensi menahan aliran modal masuk ke negara berkembang, termasuk Indonesia. Pemerintah bersama otoritas terkait akan terus memantau perkembangan tersebut dan memitigasi dampaknya terhadap stabilitas sistem keuangan domestik.
Suahasil menambahkan, fundamental ekonomi Indonesia dan respons kebijakan yang adaptif masih mampu menjaga stabilitas sistem keuangan di tengah tekanan eksternal.
KSSK yang terdiri dari Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua Dewan Komisioner OJK, dan Ketua Dewan Komisioner LPS akan terus mencermati perkembangan ekonomi dan sektor keuangan secara forward looking.
“KSSK yang terdiri atas Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua DK OJK dan Ketua DK LPS akan terus mencermati dan melakukan assessment yang bersifat forward looking terhadap perkembangan ekonomi dan sektor keuangan serta kami akan terus memperkuat kerja sama dengan semua pemangku kepentingan untuk mengantisipasi dampak rambatan risiko global,” tuturnya.






Komentar (0)