Ahli Kaget Temukan Bentuk Bumi Mulai Berubah, Ini Penyebabnya

cnbcindonesia.com
1 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Perubahan iklim ternyata tidak hanya berdampak pada suhu dan cuaca ekstrem, tetapi juga mulai mengubah bentuk fisik Bumi. Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa planet yang selama ini dikenal berbentuk bulat perlahan mengalami perubahan bentuk dan semakin membulat.

Perubahan tersebut berkaitan erat dengan mencairnya lapisan es di wilayah kutub akibat pemanasan global. Fenomena ini membuat permukaan padat Bumi mengalami pergeseran, sehingga bagian kutub perlahan terangkat dan tonjolan di sekitar garis khatulistiwa menyusut.

Baca: 40.000 PNS Jadi Korban Peretasan, Nomor HP Sampai Email Bobol

Dilansir dari Live Science, temuan ini sekaligus menjadi salah satu indikator dampak perubahan iklim akibat aktivitas manusia terhadap planet. Para peneliti menyebut pemantauan perubahan bentuk Bumi dapat membantu mengungkap seberapa besar pengaruh mencairnya lapisan es di kutub terhadap kondisi fisik planet.

Bumi sebenarnya bukanlah bola sempurna. Akibat rotasinya, planet ini sedikit lebih pipih di bagian kutub dan menggembung di sekitar khatulistiwa. Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa Bumi semakin membulat dengan kecepatan yang meningkat, terutama akibat perubahan yang dipicu oleh mencairnya lapisan es di kutub.

Baca: Tertidur Selama 700.000 Tahun, Gunung Berapi Ini Kembali Aktif

Temuan ini hanya berlaku pada bagian padat Bumi; lautan tetap menggembung ke luar di khatulistiwa.

Penelitian yang diterbitkan pada 9 September di jurnal JGR Solid Earth menggunakan pengukuran langsung dari sistem satelit navigasi global (GNSS) untuk melacak perubahan bentuk planet dari waktu ke waktu. Sistem ini menyediakan pengukuran langsung, tetapi memiliki keterbatasan. Misalnya, hanya sedikit stasiun GNSS yang berada di dekat Kutub Utara dan Kutub Selatan serta di wilayah laut terpencil karena perangkat tersebut harus dipasang pada pelampung.

Christoforos Kotsakis, profesor geodesi di Aristotle University of Thessaloniki, Yunani, mengembangkan metode baru untuk menganalisis data GNSS agar perubahan permukaan planet dapat terdeteksi dengan lebih akurat.

Baca: Gempa Megathrust Bangkitkan Tsunami 8 Meter, Sapu Pesisir Pangandaran

Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa wilayah kutub mengalami kenaikan permukaan, sementara tonjolan di khatulistiwa menyusut. Keduanya mengalami perubahan sekitar 0,04 inci atau 1 milimeter per tahun selama periode 2011 hingga 2015.

Angka tersebut memang terbilang kecil jika dibandingkan dengan diameter Bumi di khatulistiwa yang mencapai sekitar 7.926 mil atau 12.756 kilometer. Namun, perubahan itu lebih besar dibandingkan periode 1997-2000, ketika Bumi membulat dengan kecepatan sekitar 0,02 inci atau 0,5 milimeter per tahun.

Artinya, kecepatan perubahan bentuk Bumi menjadi semakin membulat bertambah sekitar 0,016 inci atau 0,4 milimeter per tahun setiap dekade.

Perubahan ini dipicu oleh mencairnya es di wilayah kutub. Ketika lapisan es mencair, tekanan terhadap kerak Bumi berkurang sehingga permukaannya perlahan terangkat kembali. Kondisi tersebut mirip dengan adonan roti yang kembali mengembang setelah ditekan menggunakan jari, seperti dilaporkan Kotsakis.

Sementara itu, peningkatan massa di sekitar khatulistiwa memberikan tekanan pada kerak Bumi sehingga tonjolannya berkurang. Namun, ada hal lain yang perlu diperhatikan ketika memperhitungkan Bumi padat dan lautan secara bersamaan.

Jika keduanya dihitung, Bumi justru menjadi semakin pipih sekitar 0,03 inci atau 0,8 milimeter per tahun. Hal ini terjadi karena air laut semakin menggembung di sekitar khatulistiwa akibat perpindahan massa air dari wilayah kutub. Penambahan massa air tersebut lebih besar dibandingkan efek pembulatan yang terjadi pada bagian batuan di bawahnya.

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa perubahan distribusi massa tersebut turut memperlambat rotasi Bumi.

Selain menggunakan GNSS, para peneliti juga memantau perubahan bentuk Bumi melalui pengukuran medan gravitasinya. Medan gravitasi Bumi dapat berubah mengikuti distribusi massa di berbagai wilayah.

Kotsakis menemukan bahwa hasil pengukuran GNSS dan medan gravitasi tidak sepenuhnya menunjukkan pola yang sama. Hal ini mengindikasikan bahwa perubahan bentuk fisik Bumi dan medan gravitasinya tidak selalu bergerak seirama.

Meski demikian, kedua metode tersebut dapat digunakan secara bersamaan untuk memantau dampak utama perubahan iklim, terutama mencairnya lapisan es di Greenland dan Antarktika serta perubahan distribusi air laut.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kronologi 3 Pemuda Tewas Usai Pesta Miras di Cirebon, Tenggak Alkohol Kadar Tinggi yang Dicampur Minuman Berenergi
• 12 jam lalu
0
thumb
Wayan Sudirta Pertanyakan Peran Presiden Prabowo Dalam Menjaga Independensi KPK
• 10 jam lalu
0
thumb
Shalat Dhuha Lebih Utama Berapa Rakaat? Ustaz Khalid Basalamah Beri Penjelasan
• 10 jam lalu
0
thumb
Kurikulum Sekolah Berubah, Foto Firaun Diganti-Kota Bersejarah Hilang
• 3 jam lalu
0
thumb
Sumedang Gelar Pilkades Elektronik di 92 Desa, Ini Hasilnya
• 8 jam lalu
0
Berhasil disimpan.