Kurikulum Sekolah Berubah, Foto Firaun Diganti-Kota Bersejarah Hilang

cnbcindonesia.com
4 jam lalu
Cover Berita
Foto: Sejumlah siswa Suriah bersekolah. (Dok. UNICEF)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perubahan kurikulum pendidikan yang diberlakukan di Suriah menuai kontroversi dan gelombang kritik di media sosial. Perubahan tersebut di antaranya menambahkan hijab pada gambar figur perempuan, menghapus gambar perempuan dan anak-anak, menutupi patung, dan mengganti lukisan serta karya seni.

Mengutip laporan Euro News, sejumlah perubahan tersebut memicu kembali perdebatan mengenai standar yang digunakan oleh Kementerian Pendidikan ketika meninjau kurikulum, dan seberapa jauh standar tersebut mempertimbangkan keragaman sosial dan budaya Suriah. 

Perubahan pada gambar, ilustrasi dan konten pendidikan


Seorang warga Suriah pengguna media sosial X mengunggah perbandingan antara edisi buku pelajaran sekolah lama dan yang telah direvisi. 

Perubahan tersebut tidak terbatas pada teks saja, tapi juga gambar dan ilustrasi menggunakan Photoshop. Ada karakter guru perempuan yang kini diganti dengan versi hijab, karakter perempuan memakai gamis panjang, seluruh gambar perempuan dihapus, patung ditutupi, dan patung serta karya seni dihilangkan atau diganti dengan yang lain.

Perubahan visual pada lukisan dan ilustrasi ekspresif menjadi fokus utama kontroversi, setelah panitia menghapus lukisan terkenal "Mona Lisa" dan menghapus gambar yang menunjukkan seorang gadis lompat tali di samping dua anak di buku teks untuk kelompok usia dini.

Firaun pakai kemeja

Salah satu contoh yang memancing cemoohan dan perdebatan di media sosial adalah patung Firaun yang mengenakan kemeja bergaris, yang oleh banyak warganet disebut mirip dengan seragam penjara.

Revisi tersebut juga mencakup peta sekolah. Distrik Iskenderun dan Golan Suriah yang dijajah hilang dari salah satu peta. Satu paragraf tentang peran perempuan Suriah dalam menolak Mandat Prancis juga dihapur. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang motif di balik perubahan tersebut dan dampaknya terhadap narasi sejarah yang disajikan kepada siswa.

Baca: Berkat Ikuti Petunjuk Bocah, Arkeolog Temukan Peti Emas Firaun

Kritikus dan pengamat menuduh pemerintah berupaya menerapkan ideologi tertentu melalui sistem pendidikan, dengan alasan bahwa mengubah penampilan visual karakter perempuan dan menghilangkan elemen warisan seni global mencerminkan upaya untuk membentuk kembali persepsi anak-anak dan membangun identitas sosial baru.

Meski begitu, Kementerian Pendidikan Suriah pada hari Senin menolak tuduhan tersebut dalam sebuah pernyataan resmi. Menurut kementerian, perubahan yang ada hanya berfokus pada penghapusan simbol-simbol dan konten ideologis rezim yang digulingkan dan mengoreksi citra dan materi yang terkait dengannya, terutama dalam kurikulum IPS dan pendidikan Islam setelah digabungkan dan disatukan, untuk menjaga keberagaman masyarakat Suriah dan memperkuat kehadiran seluruh komponen dan budayanya.


(hsy/hsy)
Saksikan video di bawah ini:
Video: FIFA Untung Rp90 Triliun Dari Tiket Piala Dunia 2026

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Wamenhaj Buka Peluang Non-Muslim Jadi Petugas Haji, Ini Alasannya
• 10 jam lalu
0
thumb
Dwi Bagus Bikin Tungku buat Bakar Jasad Istri Siri-Anak, Berdalih untuk Sampah
• 17 jam lalu
0
thumb
Wapres Gibran Bertemu Father of Asian EV Prof Chan, Bahas Teknologi Kendaraan Listrik
• 9 jam lalu
0
thumb
Cegah kekerasan suporter, I.League dan klub perkuat keamanan
• 4 jam lalu
0
thumb
Samudra Indonesia Optimistis Kinerja Perusahaan Bakal Lampaui Prediksi di Awal 2026
• 13 jam lalu
0
Berhasil disimpan.