Airlangga Soroti Jurang Fiskal Jabodetabek: Bogor Paling Parah

cnbcindonesia.com
1 jam lalu
Cover Berita
Foto: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto saat menyampaikan pemaparan dalam Kearney 100 Years of Impact di The Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Rabu (28/10/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyoroti kesenjangan kapasitas fiskal antara DKI Jakarta dan daerah penyangga di sekitarnya. Ia menilai kebijakan yang dibuat bersama dan skema subsidi silang diperlukan agar Jakarta bisa naik kelas menjadi kota global.

Hal itu disampaikan Airlangga di dalam acara Kearney 100 Years of Impact bertema "Jakarta Towards 500: Shaping the Next Global City Together" di Jakarta, Rabu (28/10/2026). Menurut Airlangga, pertumbuhan Jakarta tidak bisa dilepaskan dari Jabodetabek.

"Yang paling penting itu Jabodetabek," ujar Airlangga.


Baca: Konser Kanye West Sumbang Rp450 M, Jakarta Genjot Ekonomi Kreatif

Ia menyebut jumlah penduduk Jabodetabek mencapai sekitar 42 juta jiwa, sementara Jakarta sekitar 11 juta jiwa.

Airlangga mengatakan kapasitas fiskal DKI dan daerah penyangga masih terpaut jauh. Di antara daerah penyangga, kondisi Tangerang dan Bekasi menurutnya relatif lebih baik, sedangkan Bogor paling lemah.

"Tangerang, Bekasi lumayan, Bogor parah," katanya.

Untuk menjembatani kesenjangan itu, ia mengusulkan kebijakan bersama yang solid antardaerah, termasuk skema subsidi silang. Menurutnya, skema itu tidak hanya menguntungkan daerah penyangga, tetapi juga Jakarta.

"Kalau ada subsidi silang (cross subsidy) jalan, yang mendapat manfaat juga DKI," ujarnya.

Baca: Pemerintah Bangun PFII di Jakarta, Airlangga Ungkap Progresnya

Hub and Spoke, ASN Berangkat Subuh Pulang Malam

Selain fiskal, Airlangga menyoroti transportasi. Ia mendorong pembangunan sistem hub and spoke yang menghubungkan Jakarta dengan wilayah sekitarnya.

Ia mencontohkan banyak aparatur sipil negara (ASN) yang tinggal di Bekasi dan Bogor. Mereka berangkat sekitar pukul 05.00 dan baru tiba kembali sekitar pukul 21.00, sehingga waktu bersama keluarga sangat terbatas.

Karena itu, Airlangga menilai Jakarta perlu tumbuh ke atas. Pembangunan hunian vertikal, termasuk tower untuk ASN, dinilai akan lebih efektif di Jakarta, sehingga masyarakat bisa tinggal lebih dekat dengan pusat kegiatan.

"Jakarta itu sebetulnya tidak bisa lagi menjadi flat city, harus naik ke atas," katanya.

Di sisi lain, Airlangga menyebut pemerintah pusat telah mendukung pembangunan transportasi massal di Jakarta, yang seluruhnya berstatus Proyek Strategis Nasional (PSN). Ia menyinggung rencana MRT timur-barat yang menghubungkan Bekasi hingga BSD, serta pengembangan LRT dari Kelapa Gading yang tidak berhenti di Rawamangun, namun ditarik hingga Manggarai.


(haa/haa)
Saksikan video di bawah ini:
Video: DKI Terima Hibah Tanah dan Bangunan Dari KPK

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kinerja CIMB Niaga Solid Disokong Pertumbuhan Kredit dan Transaksi Digital
• 6 jam lalu
0
thumb
Sumpah Pemuda dan Masa Depan Ketahanan Energi
• 20 jam lalu
0
thumb
Indonesia Pangkas Ekspor Gas ke Singapura, Ini 2 Kemungkinan Motifnya Menurut Pengamat
• 14 jam lalu
0
thumb
KDM Tinjau Pilkades Digital di Sumedang, Warga Tak Perlu Lagi Mencoblos
• 14 jam lalu
0
thumb
Beras SPHP Diduga Dijual sebagai Premium Rp17.000 per Kg, Mentan Amran Minta Penindakan Tegas
• 10 jam lalu
0
Berhasil disimpan.