Jakarta (ANTARA) - Bank Sampah Gunung Mas di RW 08, Kelurahan Gunung, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan mengubah sampah plastik menjadi tabungan warga sebagai upaya mendorong ekonomi sirkular sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memilah sampah.
"Melalui bank sampah ini, kita diajak untuk mengubah sudut pandang terhadap sampah. Sesuatu yang selama ini dianggap tidak bernilai atau sering kita abaikan, ternyata dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomis," kata Lurah Gunung, Andika Eka Saputra di Jakarta, Jumat.
Andika mengatakan, kehadiran Bank Sampah Gunung Mas RW 08 ini diharapkan tidak hanya melayani warga setempat, tetapi juga terbuka bagi nasabah dari RW lain. Selain sebagai tempat menabung sampah, lokasi ini dapat menjadi pusat edukasi bagi masyarakat.
Melalui mekanisme bank sampah, maka sampah-sampah ini akan dikumpulkan, ditimbang, dan dikonversi menjadi nilai ekonomi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, baik untuk keperluan rumah tangga maupun tabungan yang hasilnya dapat diambil saat membutuhkan.
"Saya ingin menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada pengurus bank sampah, Ketua RW, beserta jajarannya yang telah menunjukkan semangat luar biasa dalam mewujudkan program ini," ucapnya.
Selain kehadiran bank sampah, lanjut dia, adanya lokasi pemilahan sampah seperti biopori jumbo dan teba modern di sekitar lokasi, juga membuat efektifitas pengelolaan sampah di RW 08 ini semakin terasa.
"Pengelolaan atau pemilahan sampah dari hulu sangat penting karena mulai awal Agustus mendatang, Dinas Lingkungan Hidup akan memprioritaskan pengangkutan sampah residu dan limbah B3. Oleh karena itu, pemilahan sampah organik dan anorganik dari tingkat rumah tangga menjadi kewajiban kita bersama," katanya.
Ia menambahkan, kehadiran bank sampah di sini juga diharapkan dapat menjadi pemicu dalam mengatasi permasalahan di lingkungan lainnya. Hal itu, karena di sekitar lingkungan RW 08 masih ada wilayah yang belum terdapat memiliki Bank Sampah.
"Jadi, kehadiran Bank Sampah RW 08 ini diharapkan tidak hanya melayani warga setempat, tetapi juga terbuka bagi nasabah dari RW lain. Sehingga, ikhtiar kita dalam mengatasi permasalahan bersama dapat terwujud dengan baik," katanya.
Sementara, Staf Satpel Lingkungan Hidup Kecamatan Kebayoran Baru, Faisal menyebut selain adanya tempat pengelolaan sampah, perubahan perilaku warga terkait pemilahan sampah juga sangatlah penting dalam upaya mengatasi permasalahan sampah lingkungan.
Ia mengimbau, warga untuk lebih bijak dan selektif terkait penggunaan wadah yang dapat menimbulkan tumpukan sampah di lingkungan seperti, plastik belanja maupun plastik makanan dan minuman yang tidak dapat terurai jika tidak diolah.
"Harapan saya ke depannya, Bank Sampah RW 08 ini dapat dikembangkan dengan inovasi yang lebih menarik, sehingga warga semakin antusias untuk mengelola dan memilah sampahnya," ucapnya.
Sementara itu, Ketua RW 08 Kelurahan Gunung, Dirwantoro mengungkapkan sebelum adanya bangunan Bank Sampah Gunung Mas, penimbangan sampah dilakukan di pekarangan rumahnya.
Namun karena antusias warga dalam pengelolaan sampah, lanjut Dirwantoro, lokasi lama tidak mampu menampung sampah anorganik dan akhirnya melalui inisiatif bersama pengurus lingkungan, bank sampah dibuat di lokasi yang lebih memadai.
"Alhamdulillah antusias warga di sini cukup tinggi dalam pengelolaan sampahnya. Dalam tiap penimbangan saja bisa menghasilkan 200-300 kilogram sampah dari 40 nasabah," ucapnya.
Baca juga: DLH: Limbah elektronik tak boleh dibuang sembarangan, termasuk B3
Baca juga: Pemkab Bekasi klaim bank sampah daerahnya terbanyak Indonesia
Baca juga: Pemkot Jaktim perkuat budaya pilah sampah lewat Bank Sampah Pintar Kemilau
"Melalui bank sampah ini, kita diajak untuk mengubah sudut pandang terhadap sampah. Sesuatu yang selama ini dianggap tidak bernilai atau sering kita abaikan, ternyata dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomis," kata Lurah Gunung, Andika Eka Saputra di Jakarta, Jumat.
Andika mengatakan, kehadiran Bank Sampah Gunung Mas RW 08 ini diharapkan tidak hanya melayani warga setempat, tetapi juga terbuka bagi nasabah dari RW lain. Selain sebagai tempat menabung sampah, lokasi ini dapat menjadi pusat edukasi bagi masyarakat.
Melalui mekanisme bank sampah, maka sampah-sampah ini akan dikumpulkan, ditimbang, dan dikonversi menjadi nilai ekonomi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, baik untuk keperluan rumah tangga maupun tabungan yang hasilnya dapat diambil saat membutuhkan.
"Saya ingin menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada pengurus bank sampah, Ketua RW, beserta jajarannya yang telah menunjukkan semangat luar biasa dalam mewujudkan program ini," ucapnya.
Selain kehadiran bank sampah, lanjut dia, adanya lokasi pemilahan sampah seperti biopori jumbo dan teba modern di sekitar lokasi, juga membuat efektifitas pengelolaan sampah di RW 08 ini semakin terasa.
"Pengelolaan atau pemilahan sampah dari hulu sangat penting karena mulai awal Agustus mendatang, Dinas Lingkungan Hidup akan memprioritaskan pengangkutan sampah residu dan limbah B3. Oleh karena itu, pemilahan sampah organik dan anorganik dari tingkat rumah tangga menjadi kewajiban kita bersama," katanya.
Ia menambahkan, kehadiran bank sampah di sini juga diharapkan dapat menjadi pemicu dalam mengatasi permasalahan di lingkungan lainnya. Hal itu, karena di sekitar lingkungan RW 08 masih ada wilayah yang belum terdapat memiliki Bank Sampah.
"Jadi, kehadiran Bank Sampah RW 08 ini diharapkan tidak hanya melayani warga setempat, tetapi juga terbuka bagi nasabah dari RW lain. Sehingga, ikhtiar kita dalam mengatasi permasalahan bersama dapat terwujud dengan baik," katanya.
Sementara, Staf Satpel Lingkungan Hidup Kecamatan Kebayoran Baru, Faisal menyebut selain adanya tempat pengelolaan sampah, perubahan perilaku warga terkait pemilahan sampah juga sangatlah penting dalam upaya mengatasi permasalahan sampah lingkungan.
Ia mengimbau, warga untuk lebih bijak dan selektif terkait penggunaan wadah yang dapat menimbulkan tumpukan sampah di lingkungan seperti, plastik belanja maupun plastik makanan dan minuman yang tidak dapat terurai jika tidak diolah.
"Harapan saya ke depannya, Bank Sampah RW 08 ini dapat dikembangkan dengan inovasi yang lebih menarik, sehingga warga semakin antusias untuk mengelola dan memilah sampahnya," ucapnya.
Sementara itu, Ketua RW 08 Kelurahan Gunung, Dirwantoro mengungkapkan sebelum adanya bangunan Bank Sampah Gunung Mas, penimbangan sampah dilakukan di pekarangan rumahnya.
Namun karena antusias warga dalam pengelolaan sampah, lanjut Dirwantoro, lokasi lama tidak mampu menampung sampah anorganik dan akhirnya melalui inisiatif bersama pengurus lingkungan, bank sampah dibuat di lokasi yang lebih memadai.
"Alhamdulillah antusias warga di sini cukup tinggi dalam pengelolaan sampahnya. Dalam tiap penimbangan saja bisa menghasilkan 200-300 kilogram sampah dari 40 nasabah," ucapnya.
Baca juga: DLH: Limbah elektronik tak boleh dibuang sembarangan, termasuk B3
Baca juga: Pemkab Bekasi klaim bank sampah daerahnya terbanyak Indonesia
Baca juga: Pemkot Jaktim perkuat budaya pilah sampah lewat Bank Sampah Pintar Kemilau






Komentar (0)