Jakarta, CNBC Indonesia - Menghadapi orang manipulatif bukan perkara mudah. Mereka kerap menggunakan emosi, kebingungan, hingga rasa bersalah untuk memengaruhi keputusan dan perilaku orang lain.
Namun, ada satu kalimat sederhana yang bisa digunakan untuk menghadapi perilaku tersebut.
Mengutip CNBC, peneliti perilaku, Shadé Zahrai, mengungkapkan bahwa kalimat tersebut menjadi salah satu cara efektif untuk menghadapi orang manipulatif.
Dalam satu dekade pengalamannya memberikan konsultasi kepada berbagai perusahaan Fortune 500, ia menemukan bahwa respons sederhana tersebut dapat membantu mengubah dinamika percakapan.
Menurutnya, orang manipulatif cenderung mengandalkan reaksi emosional, kebingungan, dan situasi yang tidak jelas untuk mendapatkan kendali dalam percakapan. Kalimat "Menarik. Bisa ceritakan lebih lanjut?" disebutnya efektif dalam menghadapi seseorang yang manipulatif.
Kata "Menarik" menunjukkan bahwa seseorang mendengarkan perkataan lawan bicaranya tanpa harus membenarkan ataupun menentang pernyataan tersebut. Respons ini juga memberikan sinyal bahwa seseorang tetap tenang dan tidak mudah terpancing.
Sementara itu, kalimat "Bisa ceritakan lebih lanjut?" mendorong lawan bicara untuk menjelaskan maksud dan alasan di balik pernyataannya.
Pendekatan ini membantu mengurangi kebingungan dan mengarahkan percakapan pada fakta.
Dibandingkan pertanyaan "mengapa" yang berpotensi terdengar seperti tuduhan dan memicu sikap defensif, pertanyaan terbuka menggunakan kata "apa" dinilai lebih efektif untuk menjaga percakapan tetap tenang.
Lantas, bagaimana menggunakan kalimat tersebut saat menghadapi berbagai bentuk manipulasi?
1. Saat Seseorang Berusaha Memutarbalikkan Fakta
Salah satu bentuk manipulasi psikologis yang dikenal sebagai gaslighting terjadi ketika seseorang membuat orang lain meragukan ingatan atau persepsinya sendiri terhadap suatu kejadian.
Sebagai contoh, seseorang mungkin mengatakan, "Saya tidak pernah mengatakan hal itu. Kamu salah mengingatnya."
Dalam situasi tersebut, seseorang bisa merespons dengan kalimat, "Menarik. Bisa ceritakan bagaimana kamu mengingat kejadian itu?"
Setelahnya, respons dapat dilanjutkan dengan, "Saya mengingatnya secara berbeda," atau mengajak orang lain yang berada di lokasi kejadian untuk mengonfirmasi fakta.
Cara ini membuat seseorang tidak perlu langsung membela ingatannya. Sebaliknya, lawan bicara diminta menjelaskan versinya secara lebih terperinci.
Ketika seseorang harus menjelaskan pernyataannya berdasarkan detail dan fakta, ketidakkonsistenan dalam ceritanya berpotensi terlihat. Dengan demikian, tekanan psikologis tidak lagi sepenuhnya berada pada orang yang menjadi sasaran manipulasi.
2. Saat Seseorang Membuat Anda Merasa Bersalah
Bentuk manipulasi lainnya adalah guilt-tripping, yakni tindakan menggunakan rasa bersalah atau kewajiban emosional untuk menekan seseorang agar melakukan sesuatu.
Contohnya, seseorang mungkin berkata, "Setelah semua yang saya lakukan untukmu, tega sekali kamu membalas saya seperti ini?"
Alih-alih langsung merasa bersalah atau membela diri, seseorang dapat menjawab, "Menarik. Apa yang membuatmu mengatakan hal itu?"
Respons tersebut kemudian bisa dilanjutkan dengan, "Saya menghargai semua yang telah kamu lakukan, tetapi keputusan ini tetap menjadi hak saya," atau, "Saya tetap peduli kepadamu meskipun memiliki keputusan yang berbeda."
Pendekatan ini mengalihkan fokus percakapan dari rasa bersalah yang ditanamkan kepada alasan di balik pernyataan lawan bicara.
Ketika seseorang diminta menjelaskan logika dan alasan di balik perkataannya, tekanan emosional yang digunakan untuk memengaruhi keputusan orang lain dapat berkurang.
3. Saat Seseorang Berusaha Memaksakan Kehendak
Manipulasi juga dapat muncul dalam bentuk tekanan terselubung atau subtle coercion.
Dalam situasi ini, seseorang mengaitkan kepatuhan terhadap suatu permintaan dengan bentuk kepedulian atau kesetiaan. Misalnya, seseorang mengatakan, "Kalau kamu benar-benar peduli, seharusnya kamu setuju dengan saya."
Untuk menghadapi situasi tersebut, seseorang bisa merespons, "Menarik. Apa yang membuatmu berpikir demikian?"
Setelah itu, respons dapat dilanjutkan dengan, "Peduli bukan berarti kita harus selalu memiliki pendapat yang sama," atau, "Saya tetap peduli meskipun memiliki pandangan berbeda."
Cara ini membantu memisahkan perasaan dan nilai pribadi seseorang dari tuntutan yang diajukan lawan bicara. Dengan demikian, seseorang tidak perlu terus-menerus membuktikan kepeduliannya hanya untuk memenuhi keinginan orang lain.
Tetap Tenang jadi Kunci Menghadapi Manipulasi
Pada dasarnya, orang manipulatif mengandalkan reaksi emosional untuk memengaruhi orang lain. Ketika seseorang mampu memperlambat percakapan dan merespons dengan rasa ingin tahu, pengaruh manipulasi tersebut dapat melemah.
Mengajukan pertanyaan dengan tenang juga membantu seseorang mempertahankan kejernihan berpikir sekaligus menjaga batasan pribadi.
Dalam percakapan yang sulit, kemampuan mengendalikan diri terkadang jauh lebih efektif dibandingkan langsung melakukan konfrontasi.
(asr/asr)





Komentar (0)