Teleskop Swift Jatuh di Atas Sumatera Utara, Pecahannya di Selat Karimata hingga Kalimantan Selatan

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Setelah bertugas 22 tahun, teleskop luar angkasa Swift akhirnya jatuh kembali ke Bumi. Swift masuk kembali ke atmosfer Bumi di atas wilayah Sumatera Utara dan serpihannya diperkirakan jatuh di sekitar Selat Karimata hingga Kalimantan Selatan. Kini, teleskop luar angkasa Hubble yang sudah berumur lebih dari 35 tahun juga terancam mengalami nasib yang sama.

Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (PRA BRIN) menyebut Observatorium Neil Gehrels Swift atau disebut teleskop luar angkasa Swift itu jatuh di atas wilayah Sumatera Utara pada Rabu (4/11/2026) pukul 19.39 WIB atau 12.39 waktu universal (UT). Ketidakpastian waktu jatuh Swift itu hanya lebih kurang 1 menit saja.

“Waktu jatuh Swift ini ditentukan berdasarkan pantauan jaringan radar sehingga datanya hampir mendekati waktu nyata,” kata Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika BRIN Thomas Djamaluddin, Kamis (5/11/2026).

Baca JugaTeleskop Luar Angkasa Swift Bisa Jatuh di Wilayah Indonesia

Definisi jatuh itu mengacu pada obyek buatan manusia yang pernah diluncurkan ke luar angkasa yang masuk kembali ke atmosfer Bumi dan penurunan ketinggiannya sudah mencapai 120 kilometer (km). Lebih rendah dari batas ketinggian tersebut, obyek akan terjun bebas, memanaskan udara di bawahnya, hingga akhirnya berpendar dan mulai terbakar. Seiring makin turunnya ketinggan benda, obyek tersebut akan hancur terbakar.  

Perhitungan waktu jatuhnya Swift oleh BRIN itu sama dengan perhitungan yang dilakukan Angkatan Antariksa Amerika Serikat. Astronom pelacak satelit asal AS Jonathan McDowell dalam akun X-nya menulis, Angkatan Antariksa AS melaporkan Swift masuk kembali ke atmosfer Bumi pada Rabu (4/11/2026) pukul 12.39 UTC. Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional AS (NASA) menyebut Swift jatuh di atas wilayah dengan posisi astronomis 3,4 derajat lintang utara dan 98,6 derajat bujur timur atau di atas wilayah udara di selatan Medan, Sumut.

Setelah memasuki atmosfer Bumi, lanjut Thomas, Swift terbakar dan pecah. Meski demikian, pecahan Swift itu masih melanjutkan atau mengikuti jalur orbitnya, tidak jatuh tegak ke bawah. Dari atas Sumut, pecahan Swift bergerak ke tenggara melintasi ujung selatan Semenanjung Malaya dan menuju Pulau Kalimantan.

“Pecahan Swift ini kemungkinan besar jatuh di sekitar Selat Karimata sampai Kalimantan Selatan,” tambahnya.

Swift jatuh di atas wilayah dengan posisi astronomis 3,4 derajat lintang utara dan 98,6 derajat bujur timur atau di atas wilayah udara di selatan Medan, Sumut.

Pergerakan pecahan Swift ke tenggara inilah yang kemungkinan dilihat sebagian masyarakat di Sumut maupun di sejumlah negara bagian di Malaysia, seperti Pahang dan Johor Bahru, pada Rabu malam, sebagai bintang jatuh atau tahi bintang. Dalam keterangan unggahan di sejumlah platform media sosial, netizen menyebut melihat kilatan cahaya yang bergerak cepat ke arah tenggara. Sebagian yang lain, melihat dan merekam obyek yang mereka sebut sebagai serpihan satelit atau meteor jatuh.

Teleskop luar angkasa Swift milik Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional AS (NASA) itu diluncurkan pada 2004 untuk mengamati semburan sinar gama dan obyek atau peristiwa berenergi tinggi lainnya, seperti supernova, lubang hitam, dan obyek transien kosmik lainnya.

Teleskop itu dirancang untuk melakukan pengamatan selama dua tahun dan hidup di orbit di ketinggian 600 km selama tujuh tahun. Nyatanya, teleskop ini tetap beroperasi hingga 20 Oktober 2026, saat NASA secara resmi mengakhiri misi tersebut karena ketinggian Swift telah turun hingga 275 km.

Baca JugaYang Hancur dan yang Bertahan di Kejatuhan Teleskop Luar Angkasa Swift

Bahkan, peneliti utama teleskop ini, Neil Gehrels sudah meninggal pada 2017. Untuk menghargai kiprah dan perjuangnnya, wahana yang sebelumnya bernama Swift Gamma-Ray Burst Explorer itu diganti menjadi Observatorium Neil Gehrels Swift.

Selama masa operasinya, Swift telah mengamati lebih dari 2.000 semburan sinar gama dan 1.400 supernova. Hanya 15 hari sejak misi Swift dinyatakan selesai, teleskop yang telah menjadi sampah antariksa itu akhirnya kembali ke Bumi dan hancur di atas wilayah Nusantara dengan mewariskan banyak pengetahuan kosmik baru untuk manusia.

Selama masa operasinya, Swift telah mengamati lebih dari 2.000 semburan sinar gama dan 1.400 supernova.

Hubble

Nasib yang sama dengan Swift, kini juga mengancam Teleskop Luar Angkasa Hubble (HST). Teleskop yang diluncurkan tahun 1990 itu juga terus mengalami penurunan ketinggian akibat hambatan atmosfer (drag). Tanpa ada upaya penyelamatan berarti, teleskop yang telah mengubah pemahaman fundamental manusia tentang alam semesta itu juga akan jatuh ke Bumi pada tujuh atau delapan tahun dari sekarang atau pada 2033-2034.

Hubble adalah teleskop yang dibuat bersama antara NASA dan Badan Antariksa Eropa (ESA). Dikutip dari Hubblereentry.com, teleskop ini mengorbit Bumi di ketinggian 612-620 km saat pertama kali ditempatkan di orbit pada 1990. Namun pada 3 November 2026, ketinggian Hubble tinggal 468-470 km. Setiap tahun, penurunan ketinggian teleskop ini mencapai 14,4 km.

Penurunan ketinggian itu murni karena adanya hambatan atmosfer yang sangat terkait dengan aktivitas sinar Matahari, terutama sinar ultravioletnya. Di orbit rendah Bumi, pada ketingguan kurang dari 1.000 km, masih ada molekul gas dari atas atmosfer Bumi yang menciptakan hambatan atau rem halus terhadap kecepatan horizontal Hubble. Akibatnya, ketinggian Hubble akan terus turun.

Saat aktivitas Matahari meningkat seiring puncak siklus 11 tahunan Matahari, seperti yang terjadi pada 2024-2025, termosfer atau bagian atmosfer Bumi yang terletak antara 85-600 km, akan mengembang. Akibatnya, gaya hambatan pada teleskop makin besar dan penurunan ketinggian Hubble pun makin cepat berlangsung. Sayangnya, sama seperti kondisi Swift, Hubble tidak dilengkapi pendorong yang membuatnya bisa menaikkan ketinggiannya sendiri.

Baca JugaStasiun Luar Angkasa Internasional Akan Dibuang ke Laut

Sepanjang lebih dari 35 tahun masa operasi Hubble hingga saat ini, seperti ditulis Space.com, Rabu (4/11/2026), Hubble telah diperbaiki sebanyak lima kali oleh astronot dalam misi pesawat ulang alik. Servis terakhir teleskop ini dilakukan pada 2009. Selama masa itu pula, Hubble telah tiga kali mengalami peningkatan ketinggian, yaitu pada 1993, 1997, dan 2002. Servis terakhir Hubble dilakukan pada 2009, tetapi saat itu tidak dilakukan peningkatan ketinggian teleskop.

Jika tidak didorong naik kembali, Hubble diprediksi akan turun hingga ketinggian 400 km dalam 4,8 tahun lagi. Masalahnya, semakin rendah ketinggian benda di luar angkasa, hambatan yang membuat obyek tersebut jatuh akan semakin besar pula. Jika tidak ada yang menaikkan Hubble kembali, maksimal pada tahun 2032, Hubble akan memasuki kembali atmosfer Bumi secara tidak terkendali pada dekade mendatang.

Kondisi itu jelas menimbulkan keprihatian dari banyak pihak mengingat Hubble bukan hanya menjadi teleskop luar angkasa yang menghasilkan banyak karya, tetapi juga wahana antariksa yang disayang masyarakat akibat foto-foto antariksanya yang mengagumkan.

Salah satu prestasi utama Hubble adalah membuktikan bahwa alam semesta memang mengembang dipercepat. Studi ini bahkan meraih Nobel Fisika 2011. Selain itu, ada lebih dari 23.000 makalah ilmiah yang telah dihasilkan dengan memanfaatkan Hubble. Banyak penemuan, baik planet, galaksi, bintang, dan bagian lain alam semesta juga diperoleh melalui Hubble.

Hubble juga banyak menghasilkan foto-foto indah alam semesta, gambar-gambar ikonik yang membuat takjub manusia. Salah satu foto yang cukup menyedot perhatian masyarakat adalah foto “Pilar-pilar Penciptaan” pada Nebula Elang. Obyek yang dalam katalog Messier diberi kode Messier 16 atau M16 itu terletak di arah antara rasi Sagittarius dan Serpens pada jarak sekitar 7.000 tahun cahaya dari Bumi.

Dengan semua karya itu, wajar jika Hubble sangat dihargai masyarakat. Karena itu, selama beberapa tahun terakhir, diskusi untuk mempertahankan pengeoperasian teleskop Hubble terus berlangsung. Toh meski umur Hubble sudah tua, teleskop ini sejatinya masih berfungsi dengan baik sampai sekarang.

Baca JugaAlam Semesta Tidak Berbentuk Trompet Sangkakala

Salah satu upaya penyelamatan Hubble pernah diusulkan miliarder teknologi AS, Jared Isaacman pada 2022. Dia mengusulkan untuk menggunakan wahana SpaceX untuk merawat dan mendorong Hubble lebih tinggi. Namun saat itu, NASA menolak ide tersebut karena justru bisa menimbulkan kerusakan pada Hubble yang kondisinya sejatinya baik-baik saja.

Belakangan, situasinya berubah. Isaacman yang menjadi administrator NASA sejak Desember 2025 dalam pernyataannya pada 30 Oktober 2026 justru mengatakan, untuk mengembalikan Hubble demi kepentingan ilmiah. Karena itu, NASA harus mempertimbangkan kembali setiap peluang yang masuk akal demi membuat Hubble hidup dan berfungsi selama mungkin.

Langkah untuk menaikkan ketinggian Hubble itu patut dipertimbangkan, apalagi bisa menghemat biaya jauh lebih besar bila dibandingkan dengan meluncurkan misi penggantinya. Namun dengan segala karya yang telah dihasilkan selama ini dan kondisi Hubble yang masih memungkinkannya untuk berkontribusi bagi sains dan kemanusiaan, maka Hubble memang pantas untuk diusahakan dan diselamatkan.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Berpacu dengan Waktu, Rekayasa Batang Air Dingin Dikebut Antisipasi Hujan Ekstrem Desember
• 3 jam lalu
0
thumb
Rekening Gratis Plus Saldo Rp 50.000 untuk 25 Juta Orang Siap Meluncur Akhir 2026
• 2 jam lalu
0
thumb
Pakar Hukum Nilai Pembatalan Suket Pendidikan Gibran Bukan Dasar Otomatis Pemberhentian Wapres
• 22 jam lalu
0
thumb
Jokowi Jadi Saksi di Sidang Roy Suryo Hari Ini, PN Jaktim Batasi Pengunjung
• 12 jam lalu
0
thumb
2 Jenazah Prajurit TNI Korban Heli Karhutla Jatuh Dibawa ke Bandung-Semarang
• 8 jam lalu
0
Berhasil disimpan.