Festival tahunan Yogyakarta yang memadukan kekayaan budaya dengan konsep wellness modern, Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2026, akan berlangsung pada 6–9 November 2026.
Berlokasi di Loman Park Hotel Yogyakarta, festival ini mengangkat tema “RECONNECT: Reconnecting People, Culture & Wellbeing”. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan bahwa tema tersebut merupakan ajakan bagi masyarakat untuk memandang wellness bukan sekadar aktivitas perawatan diri, melainkan juga upaya membangun kembali hubungan dengan budaya, lingkungan, dan sesama.
“Indonesia memiliki keunggulan melalui tradisi jamu, rempah Nusantara, perawatan tradisional, serta praktik kebugaran berbasis kearifan lokal yang menjadi pembeda di pasar internasional,” ujar Menteri Widi.
Keunggulan wellness Indonesia juga tercermin dalam kekayaan filosofi dan praktik budaya Jawa. Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu Bendara, dalam wawancaranya bersama kumparanWOMAN beberapa waktu lalu, mencontohkan tradisi nyeker atau berjalan tanpa alas kaki yang memiliki keterkaitan dengan konsep grounding dalam wellness modern.
Selain itu, ada pula seni musik gamelan yang dapat menjadi bagian dari praktik sound healing. Alunan instrumen tradisional ini menawarkan pengalaman relaksasi melalui harmoni suara dan irama yang menenangkan.
Mengemas Kearifan Budaya agar Lebih Dekat dengan Generasi MudaBukan sekadar memperkenalkan kekayaan budaya, JCWF juga menjadi wadah bagi Yogyakarta untuk merekontekstualisasi warisan budaya tak benda agar lebih relevan dengan kehidupan masyarakat masa kini.
Dengan begitu, warisan tersebut tidak hanya tersimpan dalam buku atau menjadi pengetahuan yang dibaca sekali, tetapi juga dapat terus dipraktikkan dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Salah satu contohnya adalah tradisi puasa mutih atau merowot yang kini mulai jarang dilakukan oleh generasi muda. Untuk memperkenalkannya kembali, praktik tersebut dikaji secara akademis dan dijelaskan melalui pendekatan yang lebih dekat dengan pemahaman generasi sekarang, yakni sebagai bentuk detoks ala Jawa.
Ragam Aktivitas Healing di JCWF 2026Gusti Kanjeng Ratu Bendara mengatakan bahwa seluruh rangkaian acara JCWF 2026 telah melalui proses kurasi yang cukup panjang. Hal ini dilakukan untuk memastikan setiap kegiatan memiliki konsep dan pengalaman wellness yang sesuai dengan semangat festival.
Hasil kurasi tersebut menghadirkan 89 program terjadwal, 97 komunitas dan mitra terkurasi, 65 praktisi wellness, serta 32 peserta Wellness Artisan Market. Menariknya, terdapat pula 16 program yang dapat diikuti secara gratis.
Rangkaian kegiatannya meliputi senam SKJ, yoga, pilates, meditasi, sound healing, lokakarya meracik jamu, terapi seni, hingga forum Pentahelix yang bertujuan memperkuat kerja sama antar pelaku industri.
Dalam festival ini, pengunjung dapat menjelajahi lima experience zone, yakni Mind & Body, Healing & Therapy, Nature Connection, Creative Expression, dan Culinary Wellness. Masing-masing zona menawarkan pengalaman berbeda, mulai dari aktivitas fisik hingga eksplorasi budaya dan kuliner.
Selain itu, pengunjung juga bisa mampir ke Wellness Artisan Market yang menghadirkan lima kategori produk, yaitu Healthy Food & Beverages, Local Products, Wellness & Self-Care, Creative Works, dan Sustainable Products.
“Melalui JCWF 2026, kami berkomitmen membangun ekosistem pariwisata berbasis cultural wellness yang tidak hanya memperkaya pengalaman wisatawan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, memperkuat pelaku usaha lokal, dan meningkatkan daya saing Yogyakarta di tingkat nasional maupun internasional,” ungkap Gusti Kanjeng Ratu Bendara.
Untuk melihat jadwal lengkap JCWF 2026, kamu bisa menyimak unggahan berikut ini.






Komentar (0)