Sejumlah ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2026 melambat dibandingkan realisasi kuartal sebelumnya. Konsumsi rumah tangga yang belum pulih merata serta tingginya kebutuhan impor menjadi sejumlah faktor yang menahan laju pertumbuhan ekonomi.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,23 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal III 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan kuartal II 2026 sebesar 5,29 persen dan kuartal I 2026 sebesar 5,61 persen.
"Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2026 diperkirakan sebesar 5,23 persen yoy, sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan II sebesar 5,29 persen dan triwulan I sebesar 5,61 persen," kata Josua kepada kumparan, Rabu (4/11).
Dengan proyeksi tersebut, pertumbuhan ekonomi sepanjang sembilan bulan pertama 2026 diperkirakan mencapai 5,37 persen. Menurut Josua, perekonomian Indonesia masih memiliki ketahanan yang cukup baik di tengah tekanan eksternal, tetapi akselerasi pertumbuhannya belum merata.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh 5,13 persen dan menyumbang sekitar 2,66 poin persentase terhadap pertumbuhan PDB. Sementara itu, investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) diproyeksikan tumbuh 5,59 persen dengan kontribusi 1,76 poin persentase. Adapun konsumsi pemerintah diperkirakan tumbuh 9,98 persen dan menyumbang 0,69 poin persentase.
Meski demikian, Josua menilai pertumbuhan investasi dan konsumsi pemerintah melambat dibandingkan kuartal sebelumnya. Pada kuartal II 2026, investasi tumbuh 6,87 persen, sedangkan konsumsi pemerintah mencapai 15,97 persen.
Risiko lainnya berasal dari konsumsi rumah tangga, terutama pada kelompok masyarakat menengah dan menengah bawah. Meskipun diperkirakan sedikit membaik dibandingkan pertumbuhan 5,06 persen pada kuartal II, sejumlah indikator menunjukkan daya beli belum sepenuhnya pulih.
Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) turun dari 109,4 pada Agustus menjadi 107,5 pada September. Bahkan, persepsi penghasilan masyarakat dengan kelompok pengeluaran Rp 1 juta-Rp 2 juta sudah berada di zona pesimistis.
Di sisi lain, pertumbuhan penjualan eceran September diperkirakan hanya sekitar 1,4 persen secara tahunan. Kredit konsumsi pada periode yang sama tumbuh 4,86 persen, jauh lebih rendah dibandingkan kredit investasi yang mencapai 23,20 persen. Tekanan harga pangan juga masih terlihat dari inflasi pangan bergejolak sebesar 5,03 persen pada September.
Josua menilai kondisi tersebut menunjukkan masyarakat masih berbelanja, tetapi semakin selektif dalam membelanjakan uangnya. Sebagian rumah tangga mulai mengurangi pengeluaran yang tidak mendesak, beralih ke produk lebih murah, atau menggunakan tabungan untuk mempertahankan konsumsi.
Dari sisi produksi, aktivitas manufaktur, konstruksi, serta investasi infrastruktur dan industri hilirisasi masih mendukung pertumbuhan. Indeks manufaktur Bank Indonesia pada kuartal III meningkat menjadi 52,28 dari 51,43 pada kuartal sebelumnya.
Namun, hasil survei kegiatan dunia usaha menunjukkan saldo bersih tertimbang turun dari 12,97 persen pada kuartal II menjadi 11,46 persen pada kuartal III. Menurut Josua, kondisi ini menggambarkan bahwa penguatan aktivitas ekonomi belum berlangsung secara merata.
Selain itu, pertumbuhan investasi yang semakin kuat pada industri padat modal belum tentu diikuti peningkatan penyerapan tenaga kerja dan pendapatan masyarakat dalam proporsi yang sama.
Dari sisi fiskal, belanja negara hingga September 2026 tumbuh sekitar 19 persen secara tahunan dengan realisasi mencapai Rp 2.660,5 triliun atau 69,2 persen dari anggaran. Josua menilai pemerintah perlu memastikan percepatan realisasi anggaran tidak hanya meningkatkan angka belanja, tetapi juga memperkuat pendapatan masyarakat dan aktivitas sektor riil.
Sementara itu, dari sisi eksternal, pertumbuhan ekspor barang dan jasa diperkirakan sebesar 4,45 persen, lebih rendah dibandingkan impor yang diproyeksikan tumbuh 8,30 persen. Kondisi tersebut membuat ekspor neto diperkirakan mengurangi pertumbuhan PDB sekitar 0,51 poin persentase.
Untuk keseluruhan 2026, Josua memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5,2-5,3 persen. Target pemerintah sebesar 5,4 persen masih mungkin dicapai, tetapi cukup menantang karena membutuhkan pertumbuhan sekitar 5,48 persen pada kuartal IV.
Karena itu, pemerintah perlu memprioritaskan stabilisasi harga kebutuhan pokok, perlindungan daya beli masyarakat kelas menengah dan menengah bawah, percepatan belanja produktif, serta pemberian insentif bagi industri padat karya dan usaha kecil.
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Danamon, Irman Faiz, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2026 berada di kisaran 5 persen secara tahunan, melambat dari 5,29 persen pada kuartal II.
“Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal III sekitar 5,0 persen secara tahunan, melambat dari 5,29 persen pada kuartal II. Ekonomi masih resilien, tetapi konsumsi rumah tangga diperkirakan sedikit lebih moderat, sementara kebutuhan impor yang tinggi membatasi kontribusi ekspor neto,” kata Irman.
Irman menilai indikator konsumsi menunjukkan pemulihan, tetapi masih terbatas dan belum merata. Penjualan ritel tumbuh 1,1 persen pada Juli dan 1,3 persen pada Agustus, sedangkan September diprakirakan mencapai 1,4 persen. Sementara itu, indeks kondisi ekonomi saat ini turun dari 109,4 pada Agustus menjadi 107,5 pada September.
Di tengah konsumsi yang lebih moderat, investasi dan belanja pemerintah diperkirakan menjadi penopang utama pertumbuhan. Hal ini tercermin dari kredit investasi September yang tumbuh 23,2 persen secara tahunan dan PMI manufaktur yang berada di level ekspansi 52,4. Belanja negara hingga September juga tumbuh 19 persen.
“Jadi, perkiraan perlambatan ke sekitar 5,0 persen mencerminkan konsumsi yang lebih tertahan dan kontribusi ekspor neto yang terbatas, sementara investasi dan fiskal tetap menjadi penyangga pertumbuhan,” ujarnya.






Komentar (0)