Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (5/11/2026). Pelemahan dolar AS setelah kemenangan besar Partai Demokrat dalam pemilu sela (midterm elections) menjadi salah satu pendorong penguatan mata uang kawasan.
Merujuk data Refinitiv per pukul 09.34 WIB, dari sembilan mata uang Asia yang dipantau, sebanyak tujuh mata uang menguat terhadap dolar AS. Sementara dua mata uang lainnya masih berada di zona merah.
Baht Thailand menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam pagi ini. Baht melesat 0,51% ke posisi THB33,43/US$.
Peso Filipina menyusul dengan kenaikan 0,44%, sementara rupiah berhasil menguat 0,36% ke posisi Rp18.090/US$.
Yen Jepang juga tampil cukup kuat dengan penguatan 0,32%, disusul ringgit Malaysia yang naik 0,30%.
Dolar Singapura menguat 0,13%, sementara yuan China mencatat kenaikan lebih terbatas sebesar 0,05%.
Di sisi lain, dolar Taiwan menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam setelah melemah 0,22%. Won Korea Selatan juga terkoreksi 0,17%.
Dolar AS kembali kehilangan tenaga setelah hasil pemilu sela AS mulai memberikan kepastian bagi pasar keuangan global. Indeks dolar AS (DXY) pada pagi ini terpantau melemah 0,24% ke posisi 101,322.
Pelemahan tersebut melanjutkan tekanan pada perdagangan sebelumnya. DXY pada Rabu waktu AS juga tercatat turun 0,36%, seiring meredanya ketidakpastian politik setelah hasil pemilu mulai terlihat jelas.
Partai Demokrat berhasil merebut kendali Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS dari Partai Republik yang dipimpin Presiden Donald Trump.
Hasil tersebut membuka kemungkinan terjadinya kebuntuan politik di Washington karena Gedung Putih dan Kongres kini berada di bawah kendali dua partai berbeda.
Kondisi ini berpotensi membatasi ruang pemerintahan Trump dalam menjalankan sejumlah kebijakan, termasuk terkait anggaran dan belanja pemerintah.
Namun, pasar justru menyambut hasil pemilu dengan cukup positif karena ketidakpastian mengenai hasil pemungutan suara telah berkurang.
Pasar saham global menguat, sementara obligasi pemerintah AS juga mendapat permintaan yang mendorong imbal hasilnya turun.
Ray Attrill, Kepala Strategi Valuta National Australia Bank, menilai pergerakan pasar tersebut berkaitan erat dengan hasil pemilu sela AS.
"Banyak pergerakan pasar yang kita lihat, terutama pada obligasi, menurut saya berkaitan langsung dengan hasil tersebut. Begitu juga dengan pelemahan dolar yang terjadi akibat turunnya imbal hasil Treasury," ujar Attrill, dikutip dari Reuters.
Menurut Attrill, kemenangan Demokrat juga meningkatkan kemungkinan terjadinya kebuntuan politik di Washington sekaligus mengurangi kekhawatiran bahwa Trump akan kembali meningkatkan serangan militer terhadap Iran.
Berkurangnya risiko tersebut membuat investor lebih berani kembali masuk ke sejumlah aset berisiko, sehingga kebutuhan terhadap dolar AS sebagai tempat berlindung sementara ikut menurun.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(evw/evw)





Komentar (0)