Video kebakaran di perbukitan sabana di Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, menyita perhatian publik. Warga susah payah memadamkan kobaran api besar hanya dengan daun hingga ranting.
Sepanjang akhir Oktober hingga awal November 2026, kebakaran dilaporkan terjadi di tiga distrik, Maima, Walelagama, hingga Popugoba. Wilayahnya di pinggiran Wamena, ibu kota Jayawijaya. Dari Wamena, butuh sejam menggunakan kendaraan bermotor untuk tiba di lokasi kebakaran.
Bartholomeus Wamu (52), tokoh masyarakat Distrik Maima, mengatakan, api muncul sejak dua pekan terakhir. Namun, kobaran api yang paling besar terjadi pada Sabtu (31/10/2026) hingga Minggu (1/11/2026).
“Saya di lokasi dan saya juga merekam dan foto. Namun, saya tidak bisa pastikan berapa luas kebakarannya, tapi itu kemungkinan berhektar-hektar hingga masuk ke wilayah distrik lain,” kata Bartholomeus, saat dihubungi Selasa (3/11/2026).
Bartholomeus mengungkapkan, sejak Sabtu, ia bersama tokoh pemuda menggerakkan sejumlah warga untuk memadamkan api. Upaya ini terus dilakukan selama berhari-hari.
Saat itu, Bartholomeus mengatakan, warga hanya menggunakan perkakas seadanya, seperti ranting dan daun kering. “Mau pakai air tidak ada. Sudah lama tidak hujan, sungai juga susah air,” ucapnya.
Ditambah kondisi sabana yang kering serta angin kencang, api bahkan dilaporkan cepat meluas. Selama beberapa hari, pemadaman sulit dilakukan.
Bartholomeus mengungkapkan, api bahkan sudah mencapai kebun hingga permukiman, termasuk membakar rumah. Namun, ia belum bisa memastikan jumlah rumah, ternak, hingga tanaman yang terdampak.
“Kami tidak tahu, apakah kepala distrik sudah melaporkan ke pemerintah kabupaten atau belum. Hari ini, saya ke kota melaporkan ke pemerintah provinsi,” ujarnya.
Ia mengatakan, Senin (2/11/2026), api sebenarnya mulai padam. Hujan ringan yang sempat turun ikut membuat sebagian titik kebakaran mulai padam.
“Untuk hari ini, saya belum pastikan api apakah membesar lagi atau tidak. Sekarang, saya mau sampaikan, kami sangat butuh bantuan. Kami juga memohon kepada pemerintah pusat, tolong bantu kami juga,” kata Bartholomeus.
Wakil Kepala Polres Jayawijaya Komisaris Albertus Mabel mengungkapkan, masih berkoordinasi dengan polsek terdekat terkait karhutla ini. Dia belum bisa memastikan penyebab awal kebakaran ini.
Saat dihubungi, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jayawijaya Edison Wetipo bahkan belum memberikan respons. Kepala Seksi Penyelamatan dan Evakuasi BPBD Papua Pegunungan Mesak Wenda hanya mengatakan, pihaknya sudah menerima informasi terkait kebakaran ini.
Namun, ia mengakui, ada keterbatasan bagi BPBD Papua Pegunungan. Saat ini, pihaknya belum memiliki kendaraan operasional terkait pemadaman, mobil dapur lapangan, hingga sepeda motor trail yang bisa digunakan untuk mencapai lokasi bencana itu.
Mesak mengungkapkan, keluhan ini telah berulang ia sampaikan, termasuk kepada pemerintah pusat. Saat pertemuan dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ia juga menyampaikan terkait kondisi dan kendala kebencanaan di wilayahnya.
“Tantangan kami di Papua, khususnya di pegunungan ini sangat kompleks. Namun, kami sebagai daerah otonomi baru, peralatan kebencanaan kami sangat terbatas,” ucapnya.
Secara terpisah, Pelaksana tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menyampaikan, kebakaran di Jayawijaya ini terjadi kawasan sabana yang kering. Oleh karena itu, api meluas dengan cepat.
Namun, Berton juga menyampaikan, belum menerima laporan lengkap terkait kejadian ini. Ia juga belum bisa memastikan langkah penanganan seperti apa yang telah dilakukan.
Selain itu, Berton turut merespons terkait keterbatasan peralatan saat pemadaman karhutla. “Kami segera koordinasikan ke Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana,” ucapnya.
Tahun ini, kebakaran hutan dan lahan di Papua Pegunungan terbilang sangat masif. Selain mengancam permukiman dan perkebunan warga, kebakaran berdampak pada aktivitas penerbangan.
Hal ini bisa terlihat dari aktivitas penerbangan di Bandar Udara Sentani, Jayapura, Papua. Selama periode 7-29 Oktober 2026, ada 190 penerbangan yang batal rute dari dan ke Wamena.
“Dari total 260 total pembatalan penerbangan, 190 di antaranya rute dari dan menuju Wamena. Namun, saat ini, per 29 Oktober, sudah tidak ada lagi pembatalan penerbangan,” kata Pelaksana Tugas Relation Department Head Bandar Udara Sentani Syahrial S Sembiring.
Sementara itu, jika melihat titik panas atau hotspot di Papua Pegunungan cenderung terus menurun. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan, semua pihak tetap waspada.
Ketua Tim Kerja Layanan Meteorologi Publik BMKG V Jayapura Finnyalia Napitupulu mengatakan, per 2 November 2026, BMKG mencatat ada 17 hotspot di Papua Pegunungan. Adapun, SiPongi Kementerian Kehutanan mencatat, selama 1 Januari 2026-2 November 2026, tercatat ada 6.198 hotspot di wilayah Papua Pegunungan.
“Saat ini cenderung turun, tetapi kemungkinan kembali naik itu tergantung aktivitas dari manusia,” ucap Finnyalia.






Komentar (0)