Menjelang Musim Hujan, Warga Bantaran Sungai di Jakarta Mulai Bersiaga Hadapi Banjir

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS - Sebagian warga Jakarta yang tinggal di bantaran sungai mulai bersiaga menghadapi bencana banjir menjelang datangnya musim hujan. Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan mulai mengguyur Jakarta pada pertengahan November 2026.

Kekhawatiran akan datangnya banjir ini kerap dirasakan warga Cipinang Muara, Jatinegara, Jakarta Timur. Setiap pancaroba tiba, warga yang menghuni pemukiman padat di bantaran Kali Sunter ini langsung siaga. Mereka memahami intensitas hujan yang tinggi akan dengan cepat menaikkan debit air sungai yang nantinya membanjiri gang-gang kecil pemukiman yang dihuni ratusan warga tersebut. 

Banjir sudah menjadi bencana tahunan yang akrab dialami warga Cipinang Muara. Persiapan fisik pun dikerahkan demi mengantisipasi banjir yang seringnya datang dari luapan Kali Sunter dan Kali Cipinang.

Beberapa hari terakhir, warga Cipinang Muara sudah mulai bergotong royong membersihkan saluran air dan selokan. Karung-karung berisi pasir dan material puing-puing bekas bangunan juga telah tersusun rapat sepanjang bantaran guna mencegah luapan air masuk ke rumah-rumah.

“Karena memang sungainya kecil dan tidak terlalu dangkal, jadi cepat naiknya. Kebetulan bapak-bapak di sini pada rajin, jadi bantu pasang puing-puing,” ucap Mega Ayu Pertiwi (29), Ketua RT 12 Cipinang Bali II saat ditemui di kediamannya, Minggu (1/11/1016).

Adapun hujan intensitas ringan sudah mulai mengguyur Jakarta sejak 27 - 31 Oktober 2026. Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim hujan berlangsung secara bertahap di Jakarta. Musim hujan resmi dimulai pada pertengahan November 2026 di wilayah selatan hingga akhir Desember 2026 di wilayah utara Jakarta. Sementara itu, puncak musim hujan diprediksi terjadi pada Februari 2027. (Kompas.id, 29/10/2026).

Baca JugaHujan Mulai Guyur Jakarta, Musim Hujan Datang Bertahap Mulai Pertengahan November

Berbagai upaya mitigasi pun disiapkan warga. Setiap rumah di Cipinang Muara sudah menyiapkan dipan kayu yang bisa dibongkar pasang untuk menyelamatkan perabot. Begitu hujan makin kencang, barang-barang elektronik langsung diangkut ke lantai dua. Sementara itu, sepeda motor yang terparkir di depan rumah buru-buru dievakuasi ke dataran yang lebih tinggi supaya aman dari jangkauan air.

Meskipun pola datangnya banjir seringnya bisa diprediksi, ada kalanya banjir datang secara tiba-tiba, bahkan pada malam hari ketika warga tengah tertidur pulas. Situasi ini membuat Mega tak pernah lelah mewanti-wanti warganya agar siaga sejak awal peralihan musim.

Seluruh imbauan ini disampaikan Mega melalui grup WhatsApp antar warga. Mulanya, Mega berkoordinasi dengan berbagai pihak, meliputi pemadam kebakaran (Damkar), Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), dan Dinas Sumber Daya Air (SDA) untuk memperoleh informasi tentang status waspada aliran sungai.

Setelah mendapatkan peringatan dini, Mega langsung membagikan informasi ke grup WhatsApp supaya warga langsung bersiap-siap menaikkan barang-barang. Mereka juga diminta untuk segera menurunkan sekring listrik di rumah masing-masing guna menghindari bahaya korsleting saat air mulai tinggi.

“Kita juga punya petugas keamanan. Jadi, kalau banjir datang, mereka keliling menggedor-gedor rumah warga. Karena banjir seringnya datang tengah malam. Kalau tidak digedor, warga yang sedang tidur pulas tidak tahu, tiba-tiba rumahnya sudah terendam,” tutur Mega.

Bercermin dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, Mega menyampaikan, ketinggian air bisa mencapai kisaran satu meter di area bantaran sungai. Awal tahun ini, tepatnya Februari 2026, durasi genangan berlangsung hingga dua hari sebelum benar-benar surut.

Warga tidak keberatan dan siap kalau harus digusur demi pelebaran kali, asalkan banjir dapat teratasi.

Menilik kejadian berulang ini, Mega berharap, pemerintah bisa segera memberikan solusi konkret untuk mengatasi banjir yang sudah berlangsung puluhan tahun di Cipinang Muara. Sampai sekarang, warga masih menanti solusi teknis untuk menyiasati banjir, baik melalui pengerukan sungai, pembangunan tanggul, atau pemasangan paku bumi yang tidak merusak rumah penduduk.

“Warga tidak keberatan dan siap kalau harus digusur demi pelebaran kali, asalkan banjir dapat teratasi. Namun, kelanjutan rencana tersebut dari pihak kelurahan dan pemerintah masih belum jelas,” ucap Mega.

”Banjir kiriman”

Kejadian banjir berulang kala musim hujan tak hanya dialami warga Cipinang Muara. Warga yang tinggal di kawasan Tanah Rendah, Kampung Melayu, Jakarta Timur, juga mengalami hal serupa karena berada di bantaran Kali Ciliwung.

Yatmi (57), warga Tanah Rendah, adalah salah satu yang sudah mempersiapkan diri menghadapi datangnya musim hujan. Berbeda dengan wilayah Cipinang, daerah Kampung Melayu kerap dilanda banjir bukan hanya ketika hujan mengguyur daerah tersebut, tetapi juga akibat “banjir kiriman”.

Kondisi ini terjadi ketika curah hujan tinggi di wilayah hulu sungai, yakni kawasan Puncak, Bogor menyebabkan meluapnya sungai-sungai besar, seperti Ciliwung. “Di sini kalau hujan deras memang kadang banjir. Tapi, seringnya banjir kiriman dari Bogor,” kata Yatmi sembari duduk di pelataran rumahnya.

Kawasan Tanah Rendah tempat Yatmi tinggal merupakan area yang paling dekat dengan bantaran Kali Ciliwung. Permukiman padat penduduk ini dipenuhi deretan rumah-rumah bertingkat yang saling berdempetan.

Struktur bangunan tersebut menyesuaikan kondisi yang rawan tergenang banjir. Lantai dasar difungsikan sebagai area semi terbuka, sedangkan lantai atas tempat menaruh barang berharga, elektronik, dan tempat tidur utama. Dengan begitu, warga tak perlu mengungsi ke tempat lain.

Banjir rupanya sudah menjadi hal lumrah bagi Yamti dan warga Tanah Rendah. Memasuki musim hujan, mereka cukup sedia alat pembersih dan serokan air untuk membersihkan sisa lumpur dan sampah yang terbawa arus masuk ke rumah. Kerja bakti justru seringnya dilakukan seusai banjir surut.

“Banjir beberapa tahun terakhir tidak separah dulu. Air memang masih masuk rumah atau jalanan, tapi tingginya hanya sekian sentimeter dan hitungan jam saja. Mungkin karena sudah terbantu sistem drainase di tiap rumah,” tutur Yatmi.

Masih teringat di benak Yatmi, banjir terparah terjadi pada 2007. Kala itu, ketinggian air melampaui lantai dua rumah warga. Lima tahun berselang, banjir besar serupa kembali melanda pada 2012. Warga kala itu sampai mengungsi di sekolah terdekat yang dialihfungsikan menjadi tempat pengungsi.

Sejak saat itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta bersama Kementerian Pekerjaan Umum menggarap proyek Normalisasi Kali Ciliwung yang dimulai pada 2013. Upaya ini mencakup penataan dan pengembalian fungsi sungai melalui pembuatan dinding turap beton dan pengerukan kedalaman sungai agar kapasitas alir meningkat dan mengurangi risiko banjir di Jakarta.

Baca JugaKelanjutan Normalisasi Ciliwung Dimulai Awal 2026 

Menghadapi musim hujan mendatang, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta Marulitua Sijabat menyatakan akan menaruh perhatian terhadap wilayah-wilayah yang memiliki riwayat kejadian banjir dan tingkat kerawanan tinggi. Daerah yang disasar khususnya di kawasan sekitar aliran sungai, wilayah dataran rendah, serta kawasan pesisir yang berpotensi terdampak banjir rob.

Sejumlah wilayah yang difokuskan antara lain di Jakarta Barat ada Rawa Buaya, Tegal Alur, Kedoya Selatan, Kedoya Utara, dan Kembangan Utara. Sementara itu, di Jakarta Selatan ada Jati Padang, Pejaten Timur, Pondok Labu, Ulujami, dan Cipulir.

Adapun daerah Jakarta Timur, titik kerawanan membentang di Kampung Melayu, Bidara Cina, Cawang, Cipinang Melayu, Kebon Pala, dan Cililitan. Di Jakarta Utara, perhatian dipusatkan ke daerah Pluit, Pademangan Barat, dan Rorotan.

“Wilayah-wilayah tersebut menjadi perhatian dalam perencanaan kesiapsiagaan karena memiliki potensi terdampak banjir akibat curah hujan tinggi, luapan sungai, maupun pengaruh pasang air laut,” ujar Marulitua, saat dihubungi Minggu (1/11/2026).

Marulitua menjelaskan, secara umum, ancaman genangan di Ibu Kota digerakkan oleh tiga faktor utama, yakni tingginya curah hujan lokal, kiriman air dari hulu sungai, serta naiknya pasang air laut.

Guna mengantisipasi ancaman tersebut, langkah mitigasi BPBD Jakarta menitikberatkan pada pemantauan intensif, penyebaran peringatan dini, koordinasi lintas sektor, hingga kesiapan operasional darurat.

Marulitua menambahkan, pemantauan dilakukan secara berkala melalui kolaborasi bersama BMKG untuk memantau prakiraan cuaca ekstrem, serta menggandeng SDA untuk mengawasi perkembangan tinggi muka air dan status siaga di pintu-pintu air.

Informasi peringatan dini yang terkumpul kemudian disebarluaskan secara cepat kepada masyarakat di wilayah berisiko melalui kanal resmi pemerintah, media sosial, jaringan komunikasi kelurahan dan RT/RW, hingga layanan darurat Jakarta Siaga 112.

Baca JugaBanjir Terus Menghantui, Normalisasi Kali Mampang Terkendala Lahan

Selain itu, lanjut Marulitua, BPBD juga menyiapkan rencana darurat, mulai dari pengerahan personel hingga penyediaan sarana evakuasi seperti perahu karet, pelampung, dan kendaraan operasional. Koordinasi juga dilakukan bersama pemerintah di tingkat kota hingga kelurahan untuk memastikan kesiapan lokasi pengungsian yang aman sekaligus menjamin ketersediaan logistik dan pelayanan kesehatan dasar bagi warga yang terdampak.



Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kemarin, sekat bakar lindungi orangutan hingga banjir di Aceh Besar
• 4 jam lalu
0
thumb
Komnas HAM Soroti Penggeledahan Ponpes Sukoharjo, Santriwati Diduga Ditodong Senjata
• 3 jam lalu
0
thumb
Para ”Gen Z” di Balik Sistem Pertahanan (7)
• 2 jam lalu
0
thumb
Pemprov DKI Minta Maaf Pencairan KJMU Tahap II 2026 Mundur: Perlu Verifikasi Lanjutan
• 15 jam lalu
0
thumb
Cek Prakiraan Cuaca Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik 2 November 2026
• 32 menit lalu
0
Berhasil disimpan.