Para ”Gen Z” di Balik Sistem Pertahanan (7)

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Sebelum masuk ruangan, setiap orang diwajibkan untuk melepas alas kaki. Suasananya jauh dari kesan kaku dan protokoler markas militer. Di beberapa sudut ruangan, bertebaran bean bag bergaya kasual yang biasanya kerap ditemui di kantor-kantor perusahaan rintisan atau start up.

Di balik deretan meja kerja, anak-anak muda berpakaian santai tampak lebur dalam rutinitas, menatap serius layar-layar monitor yang dipenuhi baris kode pemrograman. Ruangan ini adalah dapur perangkat lunak (software) milik PT Len Industri, yang dinaungi oleh cucu perusahaannya, PT Len Innovation Teknologi (Len IOT).

Sejak secara spesifik difokuskan pada pengembangan perangkat lunak pada 2023, Len IOT mengambil peran krusial untuk merancang sistem kritis pertahanan nasional. Karena itu, perusahaan yang didominasi Gen Z tersebut berkecimpung dengan urusan produksi Combat Management System dan Tactical C2, sebuah sistem komando operasi taktis militer.

Product Manager Len IOT Prasetyo Hery Usodo, mengatakan, dari total 45 karyawan di Len IOT, sebanyak 56 persennya diisi oleh Generasi Z. Disusul Generasi Milenial sebanyak 42 persen dan Generasi X, 2 persen. ”Makanya (kami) harus Go Ahead terus,” kata Prasetyo saat memaparkan profil perusahaannya.

Anak-anak muda di fasilitas ini merancang arsitektur sistem berlapis untuk militer. Portofolio mereka membentang dari akan imitasi (artificial intelligence/AI) untuk perangkat intelijen, sistem komando dan kendali, Cyber Education, hingga pengembangan wahana tanpa awak (UAV).

Karya mereka telah nyata beroperasi di lapangan, mulai dari sistem Firing Control System yang dipasang di KRI Usman Harun, dan saat ini mereka tengah memproses integrasi Combat Management System untuk armada kapal fregat.

Menepis zona nyaman

Generasi Z kerap diidentikkan dengan preferensi kultur kerja fleksibel di start up atau sektor teknologi komersial. Karena itu, bekerja di industri pertahanan yang sarat regulasi, kerahasiaan, dan prosedur baku birokrasi BUMN, bukanlah hal lazim bagi mereka.

Namun, bagi para insinyur perangkat lunak atau software engineer di Len IOT, ada nilai tawar yang melampaui prestise tren teknologi. Hendra, salah satu pegawai Gen Z di Len IOT, berpandangan, industri pertahanan justru menghadirkan tantangan teknis spesifik yang jarang ditemui di tempat lain, terutama menyangkut tuntutan keandalan tingkat tinggi.

”Ada kebanggaan tersendiri ketika mengetahui bahwa sistem yang kita kembangkan memiliki peran dalam mendukung kemampuan teknologi pertahanan Indonesia,” ungkapnya.

Bagi Hendra, prestise seorang insinyur tidak sekadar diukur dari tempatnya bekerja atau jumlah pengguna layanannya, melainkan dari tingkat kerumitan masalah yang mampu diselesaikannya.

Baca JugaPT Len Fokus pada ”Software”, AI, dan ”Big Data”

Hal senada diungkapkan rekan sejawatnya, Tasya. Ia melihat regulasi ketat dan kerahasiaan di industri militer bukan sebagai batasan berekspresi, melainkan bagian integral dari tanggung jawab profesi.

”Menjadi kebanggaan tersendiri ketika ilmu dan kemampuan yang kami miliki dapat berkontribusi pada perkembangan teknologi Indonesia agar semakin mandiri,” tuturnya.

Baca JugaRadar GCI GM403, ”Otak” dan ”Mata” Pertahanan Udara Indonesia
Tak boleh ada kesalahan

Pengembangan alutsista menuntut presisi dan keandalan absolut tanpa toleransi kesalahan atau zero margin of error. Mengintegrasikan teknologi modern seperti Internet of Things (IoT) ke dalam sistem senjata militer tentu memunculkan risiko kerentanan keamanan siber yang serius.

Menurut Hendra, kedisiplinan tinggi mutlak diperlukan karena baris kode yang disusun akan tertanam pada mesin-mesin perang yang berpotensi digunakan dalam situasi konflik bersenjata sungguhan. Karena itu, setiap inovasi perangkat lunak militer harus berjalan sangat terukur.

”Kami tidak cukup hanya memastikan program berjalan dalam kondisi normal. Kami juga harus memikirkan apa yang terjadi ketika komunikasi terputus, data yang diterima tidak sesuai, atau salah satu komponen mengalami gangguan,” jelasnya.

Sistem pertahanan yang baik, lanjut Hendra, harus mampu menangani masalah secara tepat ketika kondisi di lapangan berjalan tidak ideal. Ia juga merefleksikan beban moral profesinya terkait risiko kegagalan sistem tersebut.

”Kesalahan teknis dalam sistem seperti ini bisa memiliki konsekuensi besar. Tidak ada ruang untuk bekerja asal jadi. Profesionalisme juga berarti menyadari dampak dari teknologi yang kita kembangkan,” katanya.

Di sisi lain, Tasya berpandangan, ruang eksperimen sebenarnya tetap terbuka luas bagi para pengembang untuk memperbaiki arsitektur sistem. Namun, setiap pendekatan baru wajib melewati rangkaian tahapan pengujian yang ketat untuk memastikan teknologi tersebut benar-benar siap dipertanggungjawabkan fungsinya.

Kontribusi para ”Gen Z”, kata dia, harus selalu berpegang teguh pada kerangka hukum dan prinsip kemanusiaan. Sebab, kemajuan teknologi tidak melulu soal kecanggihan di atas kertas, tetapi juga tujuan menjaga kedaulatan yang menyertainya.

Baca JugaStrategi Industri Pertahanan Menjawab Lanskap Perang Masa Depan
Kolaborasi antargenerasi

Para karyawan generasi Z menilai tantangan lintas generasi muncul ketika pengembangan perangkat lunak perlu berkolaborasi langsung dengan insinyur senior atau perwira militer yang kelak menjadi pengguna akhir produk mereka. Para insinyur muda cenderung menganalisis dari kacamata teknis sistem, sedangkan para perwira fokus pada taktik operasional di medan tempur.

Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, Hendra menyebut solusi utamanya bertumpu pada keluwesan komunikasi. Ia memandang generasi muda harus mau mendengarkan kebutuhan lapangan dan berupaya menerjemahkan pendekatan teknologi ke dalam bahasa operasional yang mudah dicerna.

Tasya mengamini hal tersebut. Menurut dia, komunikasi dua arah sangat diperlukan agar fitur sistem yang dirancang benar-benar solutif di lapangan, bukan sekadar canggih secara teori.

Keterlibatan talenta-talenta muda pada akhirnya menyalakan asa optimisme panjang mengenai kemandirian teknologi alutsista nasional. Penguasaan teknologi ini kelak tidak sebatas mengamankan kedaulatan, tetapi akan menciptakan efek ganda bagi pertumbuhan industri lokal, penciptaan lapangan kerja, serta percepatan ekonomi nasional.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Sempat Dapat Perlawanan, Polisi Temukan Senpi Saat Gerebek Kampung Bahari
• 23 jam lalu
0
thumb
33 Negara Siapkan Stok Darurat, RI Aman Punya Beras 25 Juta Ton
• 16 jam lalu
0
thumb
Isenmulang FC Takluk 0-4 dari Persib, Mundari Karya Siap Bertanggung Jawab
• 6 jam lalu
0
thumb
Warga Prancis Kembali Turun ke Jalan Memprotes Biaya Hidup Mahal
• 3 jam lalu
0
thumb
Pengacara Sebut Propam Polri Usut Kasus Penggeledahan Pesantren di Sukoharjo
• 17 jam lalu
0
Berhasil disimpan.