Berawal dari rempeyek, warteg Monggo Moro melayani Tokyo

antaranews.com
1 jam lalu
Cover Berita
Tokyo (ANTARA) - Lagu berbahasa Jawa terdengar menggelegar saat kaki ini tiba di depan restoran Monggo Moro, Shinjuku, Tokyo, Jepang.

Orang-orang yang lewat di dekat warung itu hampir pasti menengok, penasaran dengan sumbernya. Yang mencolok bukan cuma suaranya, tetapi tampilan eksterior restoran ala warteg itu.

Tulisan WARTEG JAWA dan MONGGO MORO dengan latar belakang merah putih tertera di bagian tas.

Plastik-plastik isi kerupuk bawang disangkutkan di bagian luar. Jendela lainnya tak kalah ramai. Foto-foto masakan Indonesia ditempel di sana. Saat diintip, rasanya seperti melihat toko kelontong alias warung biasa di Indonesia.

Rak berisi aneka bumbu, kecap, saus, berjajar rapi. Kerupuk kulit bertumpuk di sebuah sudut. Rencengan minuman kemasan sase menghiasi dinding. Aneka camilan itu bukan sekadar dekorasi, tapi bisa dibeli.

"Berapa orang?" tanya seorang staf yang mengenakan seragam bermotif batik lengkap dengan penutup kepala tradisional.

Ia mempersilakan masuk untuk melihat sendiri etalase berisi piring-piring penuh lauk pauk khas warteg. Ayam, bebek, cumi, hingga sayur. Ketika ditanya mana lauk yang pedas, staf itu berkata, "banyak!".

Rupanya, ucapannya tak main-main.

Sama seperti di warteg pada umumnya, pengunjung bisa memilih mana lauk yang mereka mau. Paket makan siang sudah meliputi nasi, sayur, dan sup. Harganya disesuaikan dengan lauk yang dipilih. Kisaran harganya dimulai dari 1.500 yen atau sekitar Rp170ribu.

Meski di lantai bawah ada meja dan kursi, tapi ruang makan utama ada di lantai dua. Kapasitasnya di atas 30 orang. Ada meja yang bisa diduduki beramai-ramai, ada yang diatur untuk dua orang, ada pula dua tempat lesehan.

Hiasan-hiasan khas Indonesia serta pengumuman yang terkait dengan diaspora di Jepang ada di dinding. Sama seperti restoran Jepang pada umumnya. Air minum disediakan gratis. Tak jauh dari situ, ada mesin penanak nasi untuk tamu yang ingin menambah porsi secara cuma-cuma.

Paket makan siang nasi cumi asin di restoran Indonesia dengan konsep warteg Jawa, Monggo Moro, di Tokyo, Jepang (1/11). Restoran ini didirikan pasangan suami istri Jepang-Indonesia pada 2018. (ANTARA/Nanien Yuniar) Menu makan siang ANTARA kali ini adalah cumi asin pedas dengan tahu bacem, urap dan sup, ditambah petai, dan kangkung. Bukan cuma makanan, di nampan juga ada mangkuk berisi air kobokan.

"Kalau mau makan dengan tangan, ini kobokannya," ujar staf yang mengantar makanan ke lantai dua.

Begitu memasukkan sesendok nasi hangat dan potongan cumi asin dengan sambal merah, mata langsung membelalak. Asin dan pedas! Rasa yang otentik ini membuat diri lupa sedang berada di Negeri Sakura.

Rasa lauk lainnya tak perlu ditanya lagi. Mirip, kalau bukan persis, seperti makanan yang dibuat di Indonesia. Di setiap meja ada dua tempat sambal. Saat diintip, rupanya sambal hijau dan merah. Rasanya? Pedas maksimal!

Rasa penasaran apakah tamu Jepang bakal kuat dengan tingkat kepedasan otentik kuliner Indonesia dijawab oleh Retno Wahyuningsih, pemilik Monggo Moro yang mendirikan restoran ini bersama suaminya yang merupakan orang Jepang.

"Justru orang yang masuk Monggo Moro harus ngikutin rasa Monggo Moro. Jadi, saya nggak mengikuti cita rasa orang Jepang. Kalau saya enggak. Yang masuk ke sini, silakan rasa aslinya, rasa pedas aslinya itu seperti ini," kata Retno saat ditemui ANTARA di Tokyo, Minggu (1/11).


Dimulai dari rempeyek

Restoran Indonesia dengan konsep warteg Jawa, Monggo Moro, di Tokyo, Jepang (1/11). Restoran ini dikelola pasangan suami istri Jepang-Indonesia sejak 2018. (ANTARA/Nanien Yuniar) Kepiawaian Retno membuat rempeyek menjadi cikal bakal dari berdirinya restoran Indonesia Monggo Moro yang kini berlokasi di Shinjuku, Tokyo, Jepang. Perempuan asal Klaten ini memang sudah terbiasa memasak sejak kecil karena keluarganya juga berkecimpung di dunia kuliner.

"Dari SD saya bantuin ibu. Terus terang ini ilmu dari orang tua saya," katanya sambil menambahkan bahwa keluarganya juga masih punya usaha kuliner di kampung halamannya.

Setelah menikah dengan suaminya dan pindah ke Jepang, Retno kerap memasak untuk teman-temannya yang singgah ke Negeri Sakura.

"Biasa, orang Jawa kan disuguhin lah gitu ya," kata dia sambil tertawa.

Mulanya, ia membuat rempeyek yang ternyata mencuri hati banyak orang. Pesanan makanan mulai berdatangan, bahkan dari rombongan wisata. Usaha rumahan itu makin lama makin besar.

Upaya mengikuti regulasi setempat juga berlangsung mulus. Langkah berikutnya adalah mendirikan restoran. Tapi, ada syarat dari sang suami. Ia harus mencari pelanggan sebelum memutuskan untuk membuat restoran. Delapan tahun silam, Monggo Moro akhirnya berdiri.

"Monggo Moro itu artinya silakan datang. Kalau bahasa Jepangnya, kochira douzo."



Restoran Indonesia dengan konsep warteg Jawa, Monggo Moro, di Tokyo, Jepang (1/11). Restoran ini didirikan pasangan suami istri Jepang-Indonesia pada 2018. (ANTARA/Nanien Yuniar) Urusan dapur dikerjakan semua oleh Retno: mengatur menu harian, berbelanja bahan baku, memotong sayuran, dan tentunya memasak. Ada menu yang selalu tersedia, misalnya olahan bebek dan ayam, tapi sisanya disesuaikan dengan keinginan Retno.

Jika ada menu yang habis saat itu, Retno sigap memasak lagi agar etalase makanan tetap penuh, tentunya dengan menu yang berbeda agar tamu tidak bosan.

Walau namanya Warteg Jawa, ia tidak membatasi jenis masakannya. Semua yang dihidangkan adalah makanan khas Nusantara dari berbagai daerah. Retno membuka casing handphone dan mengeluarkan kertas bertuliskan menu pesanan salah satu tamu.

"Ini, ada yang pesan mie gomak. Nanti saya cari di internet, saya coba masak," kata Retno yang berusaha menuntaskan rindu pengunjung atas hidangan Tanah Air.

Untunglah bahan-bahan masakan Indonesia sudah mudah ditemui di Jepang. Sebisa mungkin ia menggunakan bahan yang bisa dibeli di sekitarnya.

Umumnya, tamu dari Indonesia menyukai olahan bebek, sementara rendang jadi favorit tamu Jepang.

Selain mempertahankan cita rasa, Retno juga memperkenalkan cara memesan di warteg. Tamu harus berinteraksi dengan penjual. Alih-alih memakai layar sentuh digital, jari tamu bisa menyentuh etalase untuk menunjuk makanan yang ia mau.

Sampai detik ini, dia belum berniat menyediakan metode pemesanan digital. Sejumlah restoran Jepang biasanya menyediakan mesin untuk memesan dan membayar makanan. Tamu bisa memilih dan membayar lewat mesin, lalu tiket dari mesin diberikan kepada pihak restoran.

Pelancong atau diaspora asal Indonesia maupun negara muslim lain tak perlu khawatir bersantap di sini karena konsep halal sudah diusung sejak awal.

"Start dari awal pun, kami juga nggak ngeluarin bir juga ya, Mbak ya. Kita murni jualan minuman juga minuman jus, kayak teh, gitu aja. Start dari awal, sama sekali kami nggak ngeluarin bir."




Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Polres Sukoharjo Kembalikan Barang Penggeledahan, Tak Terkait Perusakan Warung Mi Babi
• 21 jam lalu
0
thumb
Wali Kota Appi Ajak IPM Makassar Jadi Mitra Pembangunan
• 20 jam lalu
0
thumb
Sikap 5 Partai usai Suket Ijazah Gibran Resmi Dinyatakan Tidak Sah, Bagaimana Nasib Wapres?
• 18 jam lalu
0
thumb
Berkaitan dengan Keberuntungan dan Hal Baik, Ini Arti Mimpi Dapur yang Tak Bisa Disepelekan, Simak Penjelasannya!
• 10 jam lalu
0
thumb
Polisi dan BNN Gerebek Kampung Bahari Jakut, Sita Narkoba dan Senjata Tajam
• 6 jam lalu
0
Berhasil disimpan.