jpnn.com - JAKARTA - Wakil Ketua Harian DPP PKB Gielbran Muhammad Noor menyoroti dugaan keterlibatan massa bayaran dalam demonstrasi tandingan di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta pada 29 Oktober 2026.
Dugaan itu mencuat setelah beredar pengakuan seorang peserta aksi yang menyebut dirinya menerima uang sebagai imbalan keikutsertaan dalam demonstrasi tersebut.
BACA JUGA: Natalius Pigai Tanggapi Sinis Konten Guntur Romli yang Dukung Salib Merah di Demo Bundaran HI
Gielbran menilai, jika informasi itu benar, praktik tersebut dapat mencederai nilai-nilai demokrasi. Sebab, demonstrasi semestinya menjadi wadah menyuarakan aspirasi, bukan aktivitas yang berorientasi pada keuntungan materi.
"Kalau benar ada peserta yang datang karena mendapatkan imbalan uang, ini yang namanya The Real Mahasewa. Berangkat aksi bukan untuk menyampaikan aspirasi, tetapi untuk memperoleh money," kata Gielbran di Jakarta, Sabtu (31/10).
BACA JUGA: Kombes Adhitya Panji Anom Minta Maaf soal Polisi Intimidasi Jurnalis Peliput Demo
Dia menegaskan, PKB tidak pernah mempersoalkan hak masyarakat untuk menggelar demonstrasi. Setiap warga negara memiliki kebebasan menyampaikan kritik dan pendapat, termasuk melalui aksi unjuk rasa.
Namun, Gielbran mengingatkan agar kebebasan tersebut tidak dimanfaatkan untuk kepentingan pihak tertentu dengan mengaburkan pesan dari kelompok lain.
BACA JUGA: Sempat Ditangkap Polisi, 19 Demonstran Akhirnya Dipulangkan
Menurut dia, perbedaan pandangan dalam demokrasi seharusnya diselesaikan melalui pertarungan gagasan, bukan adu banyak massa.
Gielbran juga melontarkan sindiran terhadap dugaan pemberian imbalan kepada peserta aksi tandingan tersebut.
"Itu aksi demonstrasi atau arisan? Kok, pulang bawa bingkisan? Jangan sampai demonstrasi yang seharusnya menjadi ruang menyampaikan suara rakyat justru berubah menjadi kegiatan yang berorientasi pada imbalan," ujarnya.
Dia menambahkan seseorang semestinya turun ke jalan karena kesadaran dan keyakinan terhadap aspirasi yang diperjuangkan, bukan lantaran tekanan ataupun iming-iming uang.
Gielbran pun mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga kualitas demokrasi dengan mengedepankan sikap dewasa dan bertanggung jawab.
"Demokrasi bukan soal siapa yang paling ramai mengerahkan massa, tetapi bagaimana gagasan dan aspirasi masyarakat benar-benar didengar," ujarnya. (kkp/jpnn)
Yuk, Simak Juga Video ini!
Redaktur : Mufthia Ridwan
Reporter : Kenny Kurnia Putra





Komentar (0)