REPUBLIKA.CO.ID, KENDAL, – Perum Bulog berhasil melampaui target serapan beras dalam negeri tahun 2026. Realisasi penyerapan nasional mencapai 4,25 juta ton setara beras hingga 28 Oktober 2026, atau 106 persen dari target awal 4 juta ton.
Keberhasilan ini diumumkan dalam kunjungan media di Kendal, Jawa Tengah, Kamis. Wakil Pemimpin Cabang Perum Bulog Semarang, Kurnia Pradipta, menyatakan pencapaian ini merupakan hasil sinergi berbagai pihak.
“Keberhasilan penyerapan tidak terlepas dari koordinasi intensif antara Bulog dan para pemangku kepentingan pertanian,” kata Kurnia.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Menurutnya, petani dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) berperan memberikan informasi kesiapan panen. Sementara itu, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan Bintara Pembina Desa (Babinsa) membantu menghubungkan petani dengan petugas Bulog.
Mereka juga menyampaikan informasi mengenai potensi panen di wilayah masing-masing. Dukungan dari Dinas Pertanian setempat turut memperkuat koordinasi agar proses penyerapan berjalan sesuai kondisi lapangan.
“Sejak awal tahun kami sudah melakukan sosialisasi dan membangun koordinasi dengan dinas pertanian, PPL, serta Babinsa. Ketika ada informasi petani akan panen, Tim Jemput Pangan Bulog langsung berkoordinasi dan turun ke lokasi,” ujar Kurnia.
Strategi Jemput Bola ke Sawah
Kolaborasi tersebut terlihat nyata di Kabupaten Kendal. Tim Jemput Pangan Bulog mendatangi langsung area persawahan untuk melakukan pembelian, pemeriksaan, dan penimbangan gabah petani.
Melalui koordinasi yang terbangun sejak awal tahun, informasi lokasi dan waktu panen dapat diterima lebih awal. Hal ini memungkinkan Bulog menyiapkan petugas, armada pengangkut, serta kebutuhan teknis lainnya.
Dalam satu contoh penyerapan di Kendal, tim bergerak berdasarkan informasi potensi panen dari lahan seluas sekitar setengah hektare. Perkiraan hasil panen mencapai 4 hingga 6 ton Gabah Kering Panen (GKP).
Petugas kemudian melakukan pemeriksaan kondisi gabah dan penimbangan. Proses ini dilakukan dengan dukungan petugas pemeriksa kualitas Bulog agar berlangsung tertib, transparan, dan sesuai prosedur.
“Keterlibatan berbagai pihak di lapangan menjadi faktor penting dalam memastikan hasil panen petani terserap sekaligus memperkuat cadangan beras pemerintah (CBP),” tutur Kurnia.
Kepastian Harga dan Kemudahan Pembayaran
Selain kesiapan teknis, kepastian harga menjadi kunci. Bulog mengacu pada Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram untuk GKP di tingkat petani.
Kebijakan ini menjadi bentuk dukungan untuk memberikan kepastian harga dan menjaga kepercayaan petani. Perusahaan juga memberikan kemudahan pembayaran, baik secara tunai maupun transfer.
Pembayaran dapat dilakukan pada hari yang sama atau hari berikutnya, bergantung pada waktu panen dan penyelesaian administrasi.
“Kalau sudah melewati masa panen raya, biasanya panen tidak berlangsung serentak. Karena itu, informasi dari PPL dan Babinsa sangat membantu kami mengetahui titik-titik yang masih panen,” kata Kurnia.
“Kami tetap hadir melakukan penyerapan dengan harga sesuai ketentuan pemerintah dan memberikan kemudahan pembayaran kepada petani,” tambahnya.
Setelah pembelian, gabah diangkut menuju sentra penggilingan padi (SPP) Bulog Kendal atau mitra pengolahan. Gabah menjalani proses pengeringan menjadi Gabah Kering Giling (GKG) sebelum diolah menjadi beras.
Beras hasil pengolahan selanjutnya disimpan di gudang Bulog sebagai bagian dari pengelolaan CBP. Rangkaian proses ini menunjukkan bahwa keberhasilan penyerapan didukung kesiapan sarana dan fasilitas yang terintegrasi.
Bulog berkomitmen untuk terus mengoptimalkan penyerapan hasil panen meskipun target 2026 telah terlampaui. Langkah ini guna memberikan kepastian pasar bagi petani, mendukung stabilitas harga, dan menjaga ketersediaan cadangan beras nasional.
Komentar (0)