JAKARTA, KOMPAS-Saat pemadaman kebakaran hutan dan lahan masih dilakukan di sejumlah wilayah, angin kencang dan banjir mengintai warga di daerah lain. Pemerintah daerah diminta ikut menyiapkan rencana mitigasi untuk meminimalkan dampaknya.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Kamis (28/10/2026), banjir sudah terjadi di beberapa daerah dalam dua hari terakhir. Banjir, misalnya, melanda Kabupaten Mandailing Natal dan Asahan di Sumatra Utara (Sumut), hingga Aceh Selatan di Provinsi Aceh.
Di Mandailing Natal, hujan deras pada Rabu (28/10/2026) pukul 18.00 WIB, memicu luapan Sungai Simalagi. Akibatnya, Desa Binanga di Kecamatan Huta Bargot dan Desa Rumbio di Kecamatan Panyabungan Utara, terdampak banjir.
Banjir itu merendam 32 rumah dan 1 tempat ibadah. Banjir juga sempat melumpuhkan jalan sehingga tidak dapat dilalui oleh kendaraan roda dua maupun roda empat. Pada Kamis, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mandailing Natal melaporkan ketinggian air berangsur surut dan jalan sudah dilintasi lagi.
Di Kabupaten Asahan, banjir juga melanda Desa Sei Silau Tua dan Desa Bangun Sari di Kecamatan Setia Janji. Banjir merendam rumah warga sejak Selasa (27/10/2026) dan surut sehari kemudian.
BPBD Kabupaten Asahan melaporkan 405 unit rumah terdampak, 2 unit fasilitas pendidikan, dan akses jalan antar desa terendam. Sebanyak 3.610 warga terdampak.
Gampong Lhok Raya dan Gampong Cot Bayu, Kecamatan Trumon Tengah, Aceh Selatan juga dilanda banjir. Hujan lebat yang mengguyur wilayah itu, Rabu (28/10/2026), memicu Sungai Lae Soraya dan Kruen Trumon Raya meluap.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan memaparkan, saat ini ada bibit siklon tropis 91B yang mulai terbentuk di laut Andaman (utara Aceh).
Siklon ini memang tidak berdampak langsung ke Indonesia. Namun ada potensi hujan lebat di beberapa tempat. Hujan kategori sedang-lebat sedang-lebat berpotensi terjadi di Aceh dan Sumut. Selain itu, tinggi gelombang signifikan 1,25-2,5 meter di selatan Malaka bagian utara.
“Kami mengimbau masyarakat tetap waspada meski tidak perlu panik. Kesiapsiagaan jadi hal yang utama untuk keselamatan kita,” ujarnya.
Menurut Berton, ada potensi cuaca ekstrem saat ini di seluruh Indonesia. Untuk fase level siaga, hujan lebat-sangat lebat, berpotensi terjadi di Aceh, Lampung, Bengkulu, Riau, Sumatera Barat, dan Sumatera Selatan (Sumsel).
Sedangkan level waspada, hujan kategori sedang-berat, terjadi di Pulau Kalimantan, Sumatera, Jawa, Sulawesi, Bali, Maluku dan Maluku Utara, Papua, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.
Berton juga mengingatkan pemerintah daerah untuk memberikan atensi penuh saat hujan deras dengan durasi lama terjadi. Periksa kesiapan peralatan dan logistik di wilayah masing-masing. Bersihkan drainase sebelum puncak musim hujan tiba.
“Petakan daerah rawan banjir, longsor, dan masyarakat di pesisir. Sebarkan jalur evakuasi dan peringatan dari BMKG. Siapkan layanan kesehatan, dapur umum, dan lokasi pengungsian,” katanya.
Dikutip dari Kompas.com banjir yang melanda Kota Subulussalam, Aceh, berdampak terhadap 1.985 keluarga. Banjir yang dipicu hujan dengan intenstas tinggi dalam beberapa hari itu merendam 2.013 rumah dan fasilitas umum, lahan pertanian, dan perkebunan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh Bahron Bakti mengatakan, jumlah warga terdampak mencapai ribuan keluarga. Pendataan jumlah pasti warga terdampak bencana masih terus dilakukan.
“Warga terdampak banjir sebanyak 1.985 kepala keluarga, untuk jumlah jiwa masih dalam pendataan, Sementara ini, yang mengungsi hanya tiga keluarga di Desa Sibuasan. Tidak ada korban jiwa,” kata Bahron.
Terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla), menurut Berton, masih ada 462 hektar lahan yang masih ditangani. Ia mencontohkan 169 hektar di Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah (85 ha), dan Sulawesi Tenggara (56 ha).
Menurut Berton operasi modifikasi cuaca (OMC) juga masih dilakukan di tiga provinsi, yakni Kalimantan Tengah (Kalteng), Sumsel, dan Kalimantan Selatan. Sejauh ini, ada 22.600 kilogram dry ice dan Natrium Klorida (NaCl) yang disemaikan guna memaksimalkan hujan. Dari jumlah tersebut 11.700 kg di antaranya untuk Kalteng dan 10.900 kg di Sumsel.
“Selain itu, karhutla di Papua Selatan masih terjadi di Merauke, Boven Digoel, Mappi, dan Asmat. BNPB melakukan 10 sorti OMC dengan total semai sebanyak 10.000 kg NaCl. Sekarang ada 161 hektar yang terbakar. Titik api turun signifikan,” katanya.






Komentar (0)