Kemiskinan Tidak Boleh Diwariskan

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

MAKASSAR, KOMPAS — Dalam setahun terakhir, Sekolah Rakyat telah dibangun di 182 lokasi dan melayani sekitar 44.000 siswa dari kelompok masyarakat miskin dan terpinggirkan yang selama ini luput dari perhatian negara dan masyarakat. Melalui Sekolah Rakyat, negara memberikan perhatian khusus kepada the invisible people ini.

”Kalau bapaknya pemulung, anaknya tidak boleh jadi pemulung. Kalau bapaknya tukang becak, anaknya tidak perlu harus jadi tukang becak,” kata Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengutip arahan Presiden Prabowo Subianto saat peringatan satu tahun penyelenggaraan program Sekolah Rakyat di GOR Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (28/10/2026).

Sebanyak 182 titik Sekolah Rakyat yang ada saat ini terdiri dari 100 titik Sekolah Rakyat Permanen dan 82 Sekolah Rakyat Rintisan. Dari 100 titik Sekolah Rakyat Permanen tersebut, 93 titik di antaranya sudah beroperasi dan 7 titik lainnya dalam pembangunan.

Gus Ipul menegaskan, Sekolah Rakyat merupakan wujud nyata amanat Pasal 31, 34 ayat (1), dan 33 UUD 1945. "Di Sekolah Rakyat, ketiga pasal itu bertemu dalam satu tubuh: seorang anak," ujarnya.

Berbeda dengan sekolah formal pada umumnya, Sekolah Rakyat tidak membuka pendaftaran, tetapi calon-calon muridnya dijaring berbasis penjangkauan. Berangkat dari data, para pendamping sosial mendatangi langsung anak-anak keluarga kurang mampu dari pintu ke pintu di 497 kabupaten/kota.

Dari proses penjangkauan tersebut ditemukan fakta bahwa lebih dari 180.000 anak usia sekolah ternyata sudah bekerja demi membantu ekonomi keluarga. Dari proses penjangkauan kemudian dilakukan pemeriksaan kesehatan dan pemulihan psikologis, matrikulasi dan pemetaan bakat (Talent DNA). Dari 11.000an anak yang telah dipetakan bakatnya, ditemukan bahwa 4 dari 10 anak memiliki bakat di bidang sains dan teknologi.

Saat ini, proses pengasuhan dan pembelajaran di Sekolah Rakyat didukung oleh hampir 5.000 guru, 7.000 wali asuh, dan lebih dari 2.000 wali asrama. Pendekatan yang diterapkan mencakup tiga perubahan utama, yakni fisik (gizi/kesehatan), mental (kepercayaan diri/karakter), dan akademik.

“Mereka bukan sekadar pendidik dan pengasuh. Mereka adalah ayah dan ibu kedua bagi anak-anak,” ucap Gus Ipul.

Meski baru berjalan satu tahun, para siswa Sekolah Rakyat telah mencatatkan prestasi gemilang, di antaranya 11 prestasi internasional, lebih dari 200 prestasi nasional, dan lebih dari 1.100 siswa berprestasi di bidang olahraga, seni, serta sains.

Kalau bapaknya pemulung, anaknya tidak boleh jadi pemulung. Kalau bapaknya tukang becak, anaknya tidak perlu harus jadi tukang becak

Kemensos memastikan bahwa lulusan Sekolah Rakyat memiliki kepastian masa depan. Dari lulusan tingkat SMA tahun ini, 12 anak telah mendapatkan kepastian masa depan: 7 siswa diterima di perguruan tinggi dengan beasiswa penuh, dan 5 siswa langsung bekerja sesuai minat dan bakatnya.

Tidak hanya membina anak, negara juga melakukan pemberdayaan menyeluruh terhadap keluarga siswa. Seluruh keluarga siswa dipastikan menerima bantuan sosial (bansos) lengkap dan lebih dari 10.000 rumah orang tua siswa telah diperbaiki (bedah rumah). Selain itu,  lebih dari 11.000 orang tua menerima bantuan modal usaha dan lebih dari 9.000 orang tua mendapatkan layanan rehabilitasi sosial ATENSI.

Sementara itu, Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman menyampaikan, tidak sedikit anggaran untuk pembangunan Sekolah Rakyat di Provinsi Sulawesi Selatan. Oleh karena itu, pihaknya akan terus mendukung pelaksanaan Sekolah Rakyat di wilayahnya.

Baca JugaGus Ipul: Kerja Cepat Pasal 34 UUD 1945 untuk Fakir Miskin dan Anak-anak Telantar

“Maka kami apresiasi, atas nama pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, selaku Gubernur, mengucapkan terima kasih, Kepada Pak Presiden Prabowo Subianto, beserta seluruh jajaran yang telah menginisiasi, melaksanakan program ini, untuk generasi emas kita 2045,” kata Sudirman.

Memutus rantai kemiskinan

Peringatan satu tahun penyelenggaraan program Sekolah Rakyat di Makassar kemarin digelar bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98. Kegiatan ini mengusung tema “Satu Indonesia, Sejuta Cita-Cita” sebagai simbol komitmen negara dalam memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui pendidikan dan penjangkauan langsung.

Sebanyak kurang lebih 7.000 peserta hadir dalam kegiatan ini mulai dari siswa Sekolah Rakyat, orang tua siswa, para kepala sekolah, guru, tenaga pendidik, SDM PKH, Tagana, TKSK, PSM, dan pilar-pilar sosial lainnya. Sementara itu, puluhan ribu lainnya mengikuti acara secara daring dari Sekolah Rakyat dan Sentra Kemensos di seluruh Indonesia.

Kegiatan berlangsung meriah dengan berbagai penampilan dari siswa Sekolah Rakyat. Sebanyak 741 siswa datang dari berbagai penjuru Indonesia. Ada penampilan tarian tradisional khas dari Aceh, Sulawesi, Papua, dan NTT, lalu ada penampilan karate, pencak silat, pramuka dan baris variasi.

Ada juga penampilan drama teatrikal di mana para siswa menunjukan bakatnya dalam berakting, pembacaan puisi, hingga bernyayi, hingga pembacaan teks sumpah pemuda. Menurut Gus Ipul, penampilan-penampilan siswa ini menunjukkan bahwa ketika anak-anak dari keluarga kurang mampu mendapatkan kesempatan dan ruang untuk belajar, maka mereka akan percaya diri, disiplin, dan berkarakter.

“Kebanggaan kami sederhana, ketika mereka (siswa) tampil dengan percaya diri, kembali bisa membaca, kembali mengenal bangku sekolah,” kata Gus Ipul.

Hadir dalam kegiatan ini Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha, Ketua Ombudsman RI Nuzran Joher, Wakil Ketua Komisi V DPR RI Andi Iwan Darmawan, Rektor Universitas Pertahanan Letjen TNI (Purn) Anton Nugroho, Founder ESQ Corporation Ary Ginanjar Agustian, dan Ketua Umum Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI) Meutia Farida Hatta Swasono.

Baca JugaMimpi yang Kembali Menyala di Sekolah Rakyat

Dari jajaran Kemensos hadir pula Sekretaris Jenderal Kemensos Hasan Chabibie, Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kemensos Supomo, Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Kemensos Mira Riyati Kurniasih, jajaran Pejabat Tinggi Madya dan Pratama Kemensos, para staf khusus menteri, tenaga ahli menteri sosial, serta pejabat terkait lainnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
3 Aspirasi PPPK kepada Presiden Prabowo, MenPANRB & DPR RI sebelum Perpres Terbit
• 9 jam lalu
0
thumb
Kenapa Flavio Bolsonaro Kabur ke AS Usai Kalah Pilpres Brasil?
• 21 jam lalu
0
thumb
Usai Diguyur Hujan, Kabut Asap Karhutla Masih Selimuti Sampit
• 5 jam lalu
0
thumb
Soal Demo 28 Oktober, Menkopolkam: Pemerintah Hormati Aspirasi dan Kritik Masyarakat
• 21 jam lalu
0
thumb
Banyak yang Khawatir RI di Ambang Krisis, Ini Kata Anindya Bakrie
• 7 jam lalu
0
Berhasil disimpan.