Musik orkestra di Yogyakarta tampil di berbagai lingkungan, mulai dari Keraton, kampus, komunitas, hingga sekolah menengah. Hingga kini, belum ada data resmi mengenai jumlah pasti kelompok orkestra di kota ini.
Namun, delapan pelaku orkestra yang ditemui Pandangan Jogja menyebut jumlah kelompok orkestra di Yogyakarta tak kalah dibanding kota-kota besar lainnya.
Vishnu Satyagraha salah satunya. Kepala Seksi Monitoring dan Evaluasi Dinas Kebudayaan DIY yang juga merupakan komposer itu mengatakan, kelompok orkestra di Yogyakarta cukup unggul dibandingkan Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya, dan Semarang.
“Secara jumlah kami kurang percaya diri jumlahnya seperti apa, tetapi dari secara infrastruktur ruang, infrastruktur event-nya dan sumber daya manusia yang tersedia di Yogyakarta, cukup banyak tersedia kelompok-kelompok musik serius di Kota Yogyakarta,” kata Vishnu kepada Pandangan Jogja.
Ia juga mencermati kegiatan orkestra di Yogyakarta yang terus meningkat sepanjang tahun ini, khususnya menjelang pertengahan hingga akhir tahun.
Di antara kelompok-kelompok yang menyelenggarakan konser, tak sedikit di antaranya yang berasal dari perguruan tinggi maupun sekolah menengah. Misalnya saja unit kegiatan mahasiswa (UKM) Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO) di Universitas Gadjah Mada, yang rutin mengadakan tiga konser setiap tahunnya.
“Yang kami rencanakan untuk jadi konser annual tiap tahun selalu ada itu adalah tiga konser, 'Simulation', 'Mini Concert', dan 'Grand Concert'. Sebenarnya satu lagi yang masih on-going itu adalah 'Home Concert',” kata Ketua Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO), Medha Safia.
Di tingkat SMA, ada ekskul Padmanaba Orchestra di SMA Negeri 3 Yogyakarta yang 24 Januari lalu baru saja menggelar konser bertajuk "Lumoshpere", berkolaborasi dengan musisi Kunto Aji.
Bersama tujuh sekolah lainnya, Padmanaba Orchestra tergabung dalam Forum Orkestra Edukatif Pelajar Kota Yogyakarta (Forte). Pada 9 Juli lalu, mereka mempersembahkan konser kolaborasi bertajuk “Crescentia”.
Berakar dari Keraton, Beregenerasi Lewat PendidikanKetua Jurusan Pendidikan Musik ISI Yogyakarta, Raden Mas Surtihadi, mengatakan perkembangan orkestra di Yogyakarta tidak bisa dilepaskan dari peran Keraton.
Menurutnya, tradisi orkestra di Yogyakarta berakar sejak era Sultan Hamengku Buwono VIII pada awal abad ke-20, ketika instrumen musik Barat mulai digunakan di lingkungan Keraton untuk melengkapi pertunjukan seperti Beksan Lawung Ageng.
"Keberadaan instrumen musik Eropa di dalam gamelan itu sebenarnya istilah Jawanya dienggo pepak-pepak, untuk melengkapi sebuah penyajian iringan tari. Dominasi tetap pada musik gamelannya, bukan pada musik Europanya," kata Surtihadi.
Menurutnya, tradisi ini kemudian menyebar melalui lembaga pendidikan formal seperti Sekolah Musik Indonesia yang dibentuk pada 1952 dan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, yang terus melahirkan pemain, komposer, arranger, hingga konduktor baru.
Manager Yogyakarta Royal Orchestra, Mei Artanto, mengatakan hubungan antara pendidikan, komunitas, dan musisi yang terus beregenerasi turut membentuk ekosistem orkestra Yogyakarta hingga kini.
"Ketika kemunculan lembaga formal atau nonformal itu membuat perkembangan musik tersebut secara organik. Ada SMM, ada pendidikan musik di Jogja, kemudian ada komunitas. Itu sebagai ruang untuk membentuk SDM yang kompeten," ujar Tata, panggilan akrabnya.
Kaya Talenta, tapi Belum Jadi IndustriMeski melahirkan banyak talenta, Dosen Penciptaan Musik ISI Yogyakarta, Puput Pramuditya, beranggapan bahwa Yogyakarta lebih tepat disebut sebagai kota laboratorium orkestra ketimbang kota industri.
Hal itu, menurutnya, sebab banyak lulusan pendidikan musik di Yogyakarta yang justru memilih berkarier di kota lain, salah satunya guna mencari peluang ekonomi yang lebih besar.
"Alumni-alumni sekolah dan kampus yang mempunyai orkestra itu ternyata banyak juga yang akhirnya keluar ke kota-kota besar lain karena mencari penghidupan yang lebih baik," kata Puput.
Ia menilai pasar pertunjukan orkestra di Jogja belum cukup kuat untuk menopang kehidupan para musisinya. Sebab, kebanyakan konser yang digelar kelompok-kelompok orkestra Jogja belum berorientasi pada keuntungan.
Terkait hal ini, Tata menyebut sebuah orkestra memang tidak bisa bertahan hanya mengandalkan penjualan tiket, mengingat besarnya biaya operasional yang harus ditanggung.
"Orkestra sendiri itu adalah organisasi yang kompleks dan besar. Sehingga kalau pertanyaannya apakah dia bisa hidup dari tiket saja, saya rasa kalau itu di Yogyakarta tidak," katanya.
Menurutnya, yang dibutuhkan kelompok orkestra bukan hanya talenta, tetapi juga konsistensi, infrastruktur, pendanaan, hingga target pasar yang jelas.
“Infrastruktur ada, support funding-nya ada, SDM-nya ada, dia punya target market-nya ada. Nah, kalau aspek-aspek semacam ini terpenuhi, saya kira Yogyakarta bisa menjadi ruang baru untuk orkestra-orkestra ini tumbuh,” pungkasnya.
Liputan ini merupakan hasil kolaborasi dengan mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional UPN "Veteran" Yogyakarta, Muhammad Dzaky Fauzi.






Komentar (0)