JAKARTA, KOMPAS.com - Hasil pengolahan sampah organik dari Jakarta akan dimanfaatkan untuk mendukung peternakan, perikanan, dan pertanian di Pusat Olah Organik (POO) Ciangir, Kabupaten Tangerang, Banten, yang tengah dikembangkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan hasil pengolahan sampah organik yang dibawa ke kawasan tersebut berupa pupuk dari Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di Jakarta.
"Yang akan dibawa ke sini nantinya adalah pupuknya, pupuk hasil dari TPS3R yang ada di Jakarta yang kemarin teman-teman juga ikut melihat salah satunya yang ada di Menteng Atas," kata dia saat meninjau langsung lokasi tersebut, Jumat (31/7/2026).
Baca juga: Proyek Sentra Ketahanan Pangan DKI di Ciangir Dibangun November 2026
Menurut dia, pemanfaatan hasil olahan sampah organik itu menjadi bagian dari pengembangan kawasan ketahanan pangan yang terintegrasi.
"Maka dengan demikian penanganan persoalan persampahan tetap dilakukan secara menyeluruh dan tempat ini bukan tempat untuk sampah. Sekali lagi bukan tempat untuk sampah, tetapi tempat untuk ketahanan pangan yang berkaitan dengan sapi dan sebagainya yang tadi sudah saya jelaskan," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta Dudi Gardesi mengatakan, POO Ciangir akan dikembangkan secara bertahap.
Pada tahap awal, fasilitas tersebut memiliki kapasitas pengolahan bahan organik hingga 50 ton per hari, yang selanjutnya akan terus ditingkatkan.
"Tapi rencananya mungkin secara bertahap menuju ke 200 ton bilamana anggaran yang ada bisa memenuhi itu. Tapi nanti akhirnya mungkin sampai 1.000 ton," jelas dia.
Baca juga: Lahan Ciangir Bukan Pengganti TPS Bantargebang, Pramono: Ini Tempat Ketahanan Pangan
Dalam fase pertama, pengembangan POO Ciangir termasuk biokonversi maggot Black Soldier Fly (BSF), budidaya ikan dan ayam, serta pemanfaatan hasil pengolahan organik untuk mendukung kegiatan pertanian.
Maggot BSF dimanfaatkan sebagai sumber pakan alternatif bagi ikan dan ayam, sedangkan hasil samping pengolahannya berupa kasgot digunakan sebagai pupuk organik untuk mendukung produktivitas pertanian.
Hasil budidaya beserta produk turunannya juga akan dipasarkan sebagai bagian dari penerapan ekonomi sirkular di kawasan tersebut.
"Seluruh proses tersebut dirancang sebagai satu ekosistem yang saling terhubung," tambah Dudi.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah menyiapkan lahan seluas 40 hektar di Ciangir, Tangerang, Banten, untuk menampung dan mengolah sampah organik.
Baca juga: Kurangi Sampah Bantargebang, Pramono Siapkan Lahan 40 Hektare di Ciangir untuk Sampah Organik
Pramono Anung mengatakan lahan tersebut telah dibebaskan oleh Pemprov DKI.
"Ada satu terobosan yang dilakukan oleh Pemerintah DKI Jakarta, kami telah membebaskan lahan di Banten, di Ciangir, untuk menampung yang organik saja," jelas dia usai meninjau TPS 3R Menteng Atas, Jakarta Selatan, Kamis (30/7/2026).
Fasilitas di Ciangir berpotensi menjadi salah satu alternatif dalam pengelolaan sampah Jakarta dan mengurangi jumlah sampah yang dikirim ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.
Ia mengungkapkan lahan yang disiapkan di Ciangir memiliki luas sekitar 40 hektar.
Pramono menjelaskan, lahan di Ciangir merupakan bagian dari sistem pengelolaan sampah yang memisahkan penanganan sampah organik, anorganik, hasil refuse derived fuel (RDF), hingga residu.
"Ini merupakan satu bagian dari ekosistem penanganan sampah yang ada di Jakarta," kata dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang





Komentar (0)