Lima Tahun INA, Menanam Kepercayaan untuk Investasi Masa Depan

kompas.id
14 jam lalu
Cover Berita

Indonesia Investment Authority (INA) baru berusia lima tahun. Namun, pada usianya yang masih belia, lembaga pengelola investasi jangka panjang atau sovereign wealth fund (SWF) ini merambah sektor-sektor masa depan, seperti pusat data hingga material baterai kendaraan listrik.

INA didirikan pada Desember 2020 berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2020 tentang Lembaga Pengelola Investasi. Dasar hukum tata kelola INA ditetapkan melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020, yang kemudian digantikan oleh UU No 6/2023 tentang Perppu No 2/2022 terkait Cipta Kerja. 

Sebagai lembaga SWF pertama di Tanah Air, INA tidak hanya dituntut menghasilkan keuntungan investasi, tetapi juga membangun fondasi institusi yang kokoh. Fondasi itu, seperti membuat struktur tata kelola, merekrut talenta-talenta profesional, hingga bergabung dengan International Forum of Sovereign Wealth Funds (IFSWF), jaringan global untuk SWF.

Baca JugaINA: Investasi Harus Memberikan Nilai Tambah

Setelah beroperasi pada 2021 dengan modal negara sekitar Rp 75 triliun, dengan Rp 30 triliun merupakan uang tunai, INA membangun fondasi kelembagaan, menetapkan sektor prioritas, serta menjalin kemitraan dengan ratusan investor global. Dalam tiga tahun berikutnya, fokus INA bergeser dari membangun organisasi menuju perkuatan kualitas portofolio investasi. 

Penyaluran investasi kumulatif meningkat dari Rp 49,6 triliun pada 2023 menjadi Rp 60,9 triliun pada 2024. Pada periode ini INA juga mulai melakukan divestasi investasi digital dan jalan tol dengan imbal hasil positif. 

Memasuki tahun kelima operasionalnya, INA bersama para mitra investor telah menyalurkan investasi sebesar sekitar Rp 74,5 triliun atau sekitar 4,7 miliar dolar AS. Sebanyak Rp 33,3 triliun atau 2,1 miliar dolar AS di antaranya merupakan investasi INA sendiri. 

Selama lima tahun beroperasi, menurut Laporan Tahunan INA 2025, lembaga ini telah memperoleh komitmen investasi sebesar 25 miliar dolar AS atau sekitar Rp 450 triliun dari 40 mitra strategis di 15 negara. Mitra itu adalah dana pensiun, perusahaan asuransi, SWF, manajer aset, perusahaan strategis, dan private equity

Kepercayaan investor

Pada saat yang sama, INA turut mengundang modal asing. Hingga 2025, INA telah berkontribusi mendatangkan penanaman modal asing (PMA) ke Indonesia, dengan realisasi kumulatif mencapai Rp 41,2 triliun (sekitar 2,6 miliar dolar AS). 

”Lima tahun perjalanan INA mencerminkan bagaimana kepercayaan investor global terhadap Indonesia terus diterjemahkan menjadi investasi jangka panjang di berbagai sektor strategis,” ujar Oki Ramadhana, Ketua Dewan Direktur INA, awal Juli 2026 lalu. Kepercayaan investor itu juga tecermin dari pertumbuhan aset INA.

Ke depan, INA akan terus menjalankan mandatnya dengan memperkuat kemitraan investasi, menghubungkan modal jangka panjang dengan peluang investasi strategis, serta mendukung pembangunan ekonomi Indonesia

Tahun lalu, total assets under management (AUM) INA tercatat Rp 146,2 triliun (sekitar 9,1 miliar dolar AS) atau meningkat 1,9 kali dibandingkan AUM pada awal pendirian. Laba bersih perusahaan juga melonjak dari Rp 0,2 triliun pada 2021 menjadi Rp 7,4 triliun pada 2025.  

Menurut Oki, berbagai angka itu menunjukkan, INA tetap bertumbuh di tengah dinamika ekonomi global. ”Ke depan, INA akan terus menjalankan mandatnya dengan memperkuat kemitraan investasi, menghubungkan modal jangka panjang dengan peluang investasi strategis, serta mendukung pembangunan ekonomi Indonesia melalui investasi berkelanjutan,” ungkap Oki.

Pihaknya juga akan tetap fokus pada tata kelola yang baik, penciptaan nilai jangka panjang, serta praktik investasi yang disiplin. Menghadapi dinamika perekonomian global, INA menjalankan strategi investasi melalui tiga pendekatan utama. Pertama, strategi untuk meningkatkan investasi pada lima sektor prioritas.

Sektor itu adalah transportasi dan logistik, energi hijau, digital dan AI, kesehatan, serta material tingkat lanjut (advanced materials). Pendekatan kedua adalah melanjutkan penyesuaian portofolio menuju kelas aset dengan potensi imbal hasil lebih tinggi, termasuk untuk private equity, properti (real estate), dan hybrid capital

Pendekatan ketiga adalah memperluas investasi melalui skema investasi tidak langsung untuk membuka akses ke lebih banyak peluang investasi global sekaligus memanfaatkan keahlian mitra strategis. Dengan pendekatan ini, investasi diarahkan pada sektor-sektor yang relevan terhadap pertumbuhan jangka panjang Indonesia. 

Saat ini, transportasi menjadi sektor terbesar yang dikembangkan INA, yakni mencapai 44  persen. Bersama mitra investasinya, INA telah mendukung lebih dari 250 kilometer di empat ruas jalan tol, termasuk Jalan Tol Trans-Sumatera. INA juga mengembangkan sektor logistik dengan membangun properti logistik modern sekitar 200.000 meter persegi.

Baca JugaINA, Jalan Masuk Investasi Berkelanjutan Indonesia
Masa depan

Tidak hanya sektor transportasi dan logistik, INA juga kini mengarahkan investasi pada industri masa depan. Salah satunya sektor digital dan akal imitasi (AI), yang cakupannya mencapai 29,5 persen dari portofolio investasi INA. Investasi itu meliputi salah satu operator menara telekomunikasi terbesar di Asia Tenggara dengan lebih dari 40.000 menara di seluruh Indonesia.

Perusahaan itu telah berekspansi ke segmen jaringan serat optik sepanjang lebih dari 57.000 kilometer. INA bersama mitra investasi juga sejak 2023 mengembangkan pusat data hyperscale di Nongsa Digital Park. Proyek bernilai investasi sekitar 600 juta dolar AS itu bakal berkapasitas 72 Megawatt.

Investasi di sektor masa depan lainnya adalah material tingkat lanjut berupa pengembangan platform produksi katoda lithium iron phosphate (LFP) pertama di Indonesia di Kawasan Industri Kendal, Jawa Tengah. INA bermitra dengan perusahaan asal China, Changzhou Liyuan, untuk mengembangkan pabrik LFP melalui PT LBM Energi Baru Indonesia. 

Dengan nilai investasi sekitar 200 juta dolar AS, pabrik ini merupakan fasilitas produksi katoda LFP terbesar di luar China. Kapasitas produksinya mencapai 30.000 ton pada 2025 dan akan ditingkatkan jadi 110.000 ton pada 2026 dan 120.000 ton tahun depan. Material ini menjadi bahan untuk baterai LFP yang digunakan kendaraan listrik.

Di sektor energi hijau, investasi INA turut mendukung pengembangan salah satu portofolio panas bumi terbesar di Indonesia. Dengan produksi listrik bersih sekitar 395 GWh per bulan. Proyek ini berkontribusi terhadap pengurangan sekitar 0,3 juta ton emisi setara karbon dioksida (CO₂) setiap bulan. 

Pada sektor kesehatan, INA yang bermitra dengan SK Group Korea mengembangkan PT SKPlasma Core Indonesia, perusahaan yang memproduksi obat derivat plasma (plasma derived medicinal products). Kehadiran fasilitas fraksionasi plasma ini untuk memenuhi kebutuhan obat derivat, seperti imunoglobulin, albumin, dan faktor VIII.

Fasilitas fraksionasi plasma darah pertama di Indonesia dan diklaim terbesar di Asia Tenggara ini dapat memproses hingga 600.000 liter plasma per tahun. Jika fasilitas ini beroperasi sesuai target akhir tahun ini, sekitar 200.000 liter plasma darah dari donor tidak lagi terbuang. Harga obat derivat juga bisa lebih murah dan terjangkau bagi masyarakat.

Baca JugaInvestasi Fraksionasi Plasma untuk Obat Derivat
Investasi berdampak

Investasi berdampak dari INA juga tecermin dari kajian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) terkait pembangunan Jalan Tol Bakauheni-Terbanggi Besar (BTB) di Lampung dan Pelabuhan Internasional Belawan New Container Terminal (BNCT) di Sumatera Utara. 

”Menurut kajian kami, pembangunan BTB dalam masa konstruksi dan konsesi (2015-2067) berpotensi memberikan kontribusi Rp 400 triliun terhadap PDB (produk domestik bruto) nasional,” ujar Wakil Kepala Bidang Penelitian LPEM FEB UI Jahen F Rezki.

Jumlah itu, antara lain, berasal dari penghematan waktu, pengurangan biaya operasional kendaraan, penghematan biaya kecelakaan, dan penghindaran pungutan liar. ”Dengan akses yang semakin mudah, ada potensi lapangan kerja 20.000 pekerjaan per tahun. Pendapatan pelaku UMKM di sekitar jalan tol juga naik rata-rata 12 persen,” ujarnya. 

Pengembangan BNCT juga diperkirakan dapat memberikan nilai tambah hingga Rp 82 triliun selama periode konstruksi dan konsesi (2016-2072). ”Kehadiran BNCT juga dapat membuka 4.400 lapangan kerja per tahun, baik langsung maupun tidak langsung. Jadi, manfaat sosialnya terasa,” ucap Jahen. 

Selama lima tahun beroperasi, INA telah menorehkan sejumlah capaian investasi dan memberikan dampak kepada masyarakat. Namun, lembaga pengelola investasi ini dihadapkan pada sejumlah tantangan, seperti perekonomian dunia yang tidak pasti seiring konflik di Timur Tengah hingga ketatnya persaingan dengan SWF global. 

Suka atau tidak, INA harus berkompetisi untuk menarik modal dan ini hanya bisa melalui ”trust”.

Anggota Dewan Pengawas INA, Fauzi Ichsan, menilai, kepercayaan adalah kunci untuk menarik investasi global. Itu sebabnya, INA perlu merawat kepercayaan investor. ”INA bukan satu-satunya SWF di dunia dan di Indonesia. Suka atau tidak, INA harus berkompetisi untuk menarik modal dan ini hanya bisa melalui trust,” tuturnya (Kompas.id, 1/7/2026).

Guru Besar Manajemen Stratejik FEB UI Sari Wahyuni menilai, INA mampu mendapat kepercayaan investor karena memiliki talenta-talenta profesional, menjunjung transparansi, hingga mampu memitigasi risiko dari investasi. Salah satunya terkait kepastian investasi di Indonesia yang dipengaruhi dinamika politik.

Setelah lima tahun, menurut Sari, INA perlu kreatif mencari sumber pendanaan baru hingga mengantisipasi dampak dari geopolitik dunia, seperti perang di Timur Tengah. ”Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana INA tetap menjaga kepercayaan investor agar tetap berinvestasi di Indonesia,” ujarnya.

Baca JugaINA Arahkan Investasi ke Industri Masa Depan



Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Sarwendah Ajak Co-Parenting, Kubu Ruben: Paham Nggak Sih Artinya?
• 16 jam lalu
0
thumb
Deretan Putusan MK yang Menanti Tindak Lanjut Pemerintahan Prabowo
• 19 jam lalu
0
thumb
Studi: Skin to Skin Contact dengan Bayi Bisa Turunkan Risiko Ibu Depresi
• 7 jam lalu
0
thumb
Bukan Hybrid Konvensional, Ini Cara Kerja Teknologi REEV di iCAR V27
• 30 menit lalu
0
thumb
Bank Danamon (BDMN) Kantongi Laba Rp2,4 Triliun di Semester I-2026
• 18 jam lalu
0
Berhasil disimpan.