Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) melambat pada kuartal II, meski peningkatan belanja konsumen dan kuatnya investasi dunia usaha menunjukkan fundamental ekonomi yang masih kokoh.
Berdasarkan estimasi awal yang dirilis Kamis (30/7) oleh Bureau of Economic Analysis (BEA), domestik bruto (PDB) riil yang telah disesuaikan dengan inflasi meningkat sebesar 1,5 persen secara tahunan dalam tiga bulan hingga Juni. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan awal tahun, antara lain akibat lonjakan impor, seperti dikutip dari Bloomberg, Jumat (31/7).
Belanja konsumen, yang menyumbang sekitar dua pertiga aktivitas ekonomi AS, tumbuh 3,2 persen, lebih tinggi dari perkiraan. Sementara itu, investasi dunia usaha terus meningkat di tengah derasnya investasi pada teknologi kecerdasan buatan atau AI.
Indikator permintaan domestik yang lebih sempit, yakni penjualan akhir kepada pembeli domestik swasta, naik 3,9 persen pada kuartal II, lebih dari dua kali lipat laju kuartal pertama dan menjadi yang tertinggi sejak awal 2023. Indikator ini tidak memasukkan ekspor-impor bersih, persediaan, maupun belanja pemerintah.
Data tersebut menunjukkan perekonomian AS sejauh ini masih mampu bertahan dari dampak perang Iran. Meski konflik tersebut mendorong kenaikan harga dan menekan sentimen, penurunan harga bensin pada akhir kuartal, ditambah pengembalian pajak yang lebih besar dari biasanya serta berbagai program promosi penjualan, membantu menopang belanja rumah tangga.
Data terpisah yang juga dirilis Kamis menunjukkan belanja konsumen riil yang telah disesuaikan inflasi naik 0,4 persen pada Juni, menyamai kenaikan tertinggi sejak Juli 2025. Sementara itu, indikator inflasi pilihan Federal Reserve, yaitu indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi, turun 0,1 persen pada bulan lalu. Jika tidak memasukkan komponen makanan dan energi, kenaikan indeks tersebut lebih rendah dari perkiraan.
Investasi dunia usaha pun tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi pada kuartal II. Gelombang besar investasi AI terus memainkan peran penting, disertai tingginya permintaan terhadap peralatan industri dan transportasi.
Setelah Federal Reserve (The Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga pada Rabu (29/7), Ketua The Fed Kevin Warsh menyebut ketahanan ekonomi AS sebagai sesuatu yang “mengesankan”, tetapi menilai karakteristik paling menonjol dari ekonomi saat ini adalah kuatnya investasi dunia usaha.
Perusahaan teknologi besar seperti Meta Platforms Inc dan Microsoft Corp terus secara agresif membangun pusat data serta berinvestasi pada AI, meski investor masih mempertanyakan apakah investasi tersebut akan memberikan imbal hasil yang sepadan.
Kepala Ekonom AS Santander US Capital Markets LLC, Stephen Stanley, mengatakan rincian laporan tersebut “jauh lebih kuat dari perkiraan.”
“Saya tidak akan mengatakan ekonomi berjalan dengan kekuatan penuh di semua sektor, tetapi jelas pertumbuhannya didorong oleh lebih dari sekadar booming AI,” ujar Stanley.
Ekspor-impor bersih memangkas sekitar satu poin persentase dari perhitungan PDB pada kuartal II. Hal itu kemungkinan mencerminkan kombinasi berbagai faktor, termasuk upaya memasukkan barang ke AS sebelum gelombang tarif baru diberlakukan, serta tingginya laju investasi modal.
Persediaan juga mengurangi PDB sebesar 0,67 poin persentase, yang mengindikasikan banyak perusahaan mengurangi stok persediaan mereka selama perang berlangsung.
Belanja Konsumen AS Tetap KuatKuatnya belanja rumah tangga didorong oleh pembelian barang tahan lama seperti perabot rumah tangga dan kendaraan bermotor. Pada sektor jasa, konsumen meningkatkan pengeluaran untuk kategori yang bersifat diskresioner seperti rekreasi, layanan makanan, dan akomodasi.
Selama Juni, pengeluaran untuk olahraga tontonan melonjak 23,4 persen, yang kemungkinan didorong tingginya permintaan selama penyelenggaraan Piala Dunia FIFA.
Laporan BEA juga menunjukkan investasi tetap nonresidensial meningkat 8,4 persen. Investasi pada peralatan industri melonjak paling tinggi sejak 2011, sedangkan belanja untuk peralatan transportasi mencatat kenaikan terbesar dalam dua tahun terakhir. Pengeluaran untuk peralatan pemrosesan informasi dan perangkat lunak juga tetap tumbuh kuat, meski dengan laju yang lebih lambat.
Eliza Winger dari Bloomberg Economics mengatakan di balik angka utama PDB yang lebih lemah, permintaan domestik tetap tangguh pada kuartal II.
“Belanja konsumen pulih kuat sehingga meredakan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi yang dipicu konsumen, meski harga bensin sempat melonjak selama sebagian besar kuartal. Investasi dunia usaha pada peralatan juga tetap kuat dan pertumbuhannya kini meluas melampaui belanja yang terkait AI,” jelas Winger.
Kemudian, belanja pemerintah federal menurun, mencerminkan penjualan minyak mentah dari Strategic Petroleum Reserve (SPR), menurut laporan tersebut. Namun karena penjualan minyak itu telah tercermin dalam komponen PDB lainnya, transaksi tersebut “tidak memberikan dampak langsung” terhadap PDB. Meski demikian, belanja pertahanan nasional meningkat seiring berlangsungnya perang dengan Iran.
Investasi sektor perumahan kembali memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan, meski masih terbatas, untuk pertama kalinya sejak akhir 2024. Tingginya suku bunga KPR selama beberapa tahun terakhir secara umum menahan permintaan pembeli rumah dan membatasi aktivitas pembangunan.
Ke depan, memanasnya kembali konflik di Timur Tengah serta tarif baru yang diberlakukan Presiden Donald Trump menambah ketidakpastian terhadap prospek ekonomi. Meskipun bank sentral AS mempertahankan suku bunga pada Rabu (29/7), tiga pembuat kebijakan memilih menaikkan biaya pinjaman karena inflasi masih berada di atas target.
Namun, karena pemutusan hubungan kerja (PHK) masih terbatas, para ekonom pada umumnya memperkirakan belanja konsumen akan tetap stabil pada paruh kedua tahun ini.
Sejumlah eksekutif perusahaan seperti JPMorgan Chase & Co dan Levi Strauss & Co menyoroti ketahanan konsumen, meski perusahaan lain seperti PepsiCo Inc dan General Mills Inc mencatat bahwa masyarakat AS kini semakin selektif dalam berbelanja.
Harga bensin kembali naik pada Juli, sehingga kembali menekan anggaran rumah tangga. Selain itu, data terbaru menunjukkan tingkat tabungan masyarakat turun pada Juni ke level terendah sejak 2022.
Ekonom Senior AS Barclays, Pooja Sriram, mengatakan konsumen sejauh ini mengabaikan tekanan harga dan tetap melanjutkan belanja, pertanyaannya adalah sampai kapan mereka mampu bertahan.
“Pengembalian pajak sudah berakhir dan pertumbuhan pendapatan mulai melambat, sehingga bantalan yang selama ini menopang konsumsi akan semakin menipis pada kuartal berikutnya,” inbuh Sriram.






Komentar (0)