Jakarta (ANTARA) - Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) DKI Jakarta menilai konten kreator berpeluang besar menjadi sumber penghasilan utama di era digital.
"Konten tidak hanya membuat saja, tapi menghasilkan. Contohnya konten kreator yang berhasil dan menjadikan penghasilan utama mereka, menjadi bekal portofolio, bekal karir atau wirausahawan," kata Kepala Bidang Informasi Publik Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) Provinsi DKI Jakarta Syali Gestanon saat acara pembukaan "Bootcamp Content Creator" di Kantor Perum LKBN ANTARA, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Kamis.
Menurut dia, menjadi konten kreator saat ini tidak lagi sekadar hobi atau aktivitas mengisi waktu luang. Jika ditekuni secara serius, profesi tersebut dapat membuka berbagai peluang ekonomi.
Syali menilai, pasar industri kreator digital masih akan terus berkembang karena kebutuhan masyarakat terhadap informasi dan hiburan di platform digital tidak pernah berhenti.
"Pasar konten kreator ini tidak akan habis, ingat," ucapnya.
Baca juga: Pemprov DKI ajak kreator konten perangi hoaks melalui cek fakta
Peluang tersebut didukung besarnya jumlah pengguna internet di Indonesia. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2025, jumlah pengguna internet telah mencapai 235,2 juta orang atau 81,72 persen dari total penduduk Indonesia. Sementara identitas pengguna media sosial aktif mencapai 180 juta.
Dengan jumlah pengguna yang sangat besar tersebut, setiap unggahan memiliki potensi menjangkau audiens dalam skala luas.
"Setiap unggahan berpotensi menjangkau banyak orang. Konten kreator memiliki posisi sebagai penyampai informasi yang membantu masyarakat memahami berbagai isu sekaligus mampu menggerakkan masyarakat menuju dampak yang positif," paparnya.
Syali mengingatkan, keberhasilan seorang kreator tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pengikut atau konten yang viral. Keberlanjutan profesi konten kreator justru ditentukan oleh kualitas pesan yang disampaikan kepada publik.
Dia berpesan agar proses pembuatan konten harus dimulai dari ide yang matang, dilanjutkan dengan produksi, distribusi, hingga memastikan pesan benar-benar dipahami dan memberi manfaat bagi audiens.
"Yang paling penting bukan hanya viral, tetapi apakah pesan bisa dipahami, audiens mendapatkan manfaat, dan kualitas pesan itu yang menentukan keberlanjutan seorang konten kreator," ujar Syali.
Baca juga: LKBN ANTARA gelar Bootcamp Content Creator cetak kreator inspiratif dan berdaya saing
Baca juga: Menkop sebut koperasi konten kreator hingga animator mulai bermunculan
"Konten tidak hanya membuat saja, tapi menghasilkan. Contohnya konten kreator yang berhasil dan menjadikan penghasilan utama mereka, menjadi bekal portofolio, bekal karir atau wirausahawan," kata Kepala Bidang Informasi Publik Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) Provinsi DKI Jakarta Syali Gestanon saat acara pembukaan "Bootcamp Content Creator" di Kantor Perum LKBN ANTARA, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Kamis.
Menurut dia, menjadi konten kreator saat ini tidak lagi sekadar hobi atau aktivitas mengisi waktu luang. Jika ditekuni secara serius, profesi tersebut dapat membuka berbagai peluang ekonomi.
Syali menilai, pasar industri kreator digital masih akan terus berkembang karena kebutuhan masyarakat terhadap informasi dan hiburan di platform digital tidak pernah berhenti.
"Pasar konten kreator ini tidak akan habis, ingat," ucapnya.
Baca juga: Pemprov DKI ajak kreator konten perangi hoaks melalui cek fakta
Peluang tersebut didukung besarnya jumlah pengguna internet di Indonesia. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2025, jumlah pengguna internet telah mencapai 235,2 juta orang atau 81,72 persen dari total penduduk Indonesia. Sementara identitas pengguna media sosial aktif mencapai 180 juta.
Dengan jumlah pengguna yang sangat besar tersebut, setiap unggahan memiliki potensi menjangkau audiens dalam skala luas.
"Setiap unggahan berpotensi menjangkau banyak orang. Konten kreator memiliki posisi sebagai penyampai informasi yang membantu masyarakat memahami berbagai isu sekaligus mampu menggerakkan masyarakat menuju dampak yang positif," paparnya.
Syali mengingatkan, keberhasilan seorang kreator tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pengikut atau konten yang viral. Keberlanjutan profesi konten kreator justru ditentukan oleh kualitas pesan yang disampaikan kepada publik.
Dia berpesan agar proses pembuatan konten harus dimulai dari ide yang matang, dilanjutkan dengan produksi, distribusi, hingga memastikan pesan benar-benar dipahami dan memberi manfaat bagi audiens.
"Yang paling penting bukan hanya viral, tetapi apakah pesan bisa dipahami, audiens mendapatkan manfaat, dan kualitas pesan itu yang menentukan keberlanjutan seorang konten kreator," ujar Syali.
Baca juga: LKBN ANTARA gelar Bootcamp Content Creator cetak kreator inspiratif dan berdaya saing
Baca juga: Menkop sebut koperasi konten kreator hingga animator mulai bermunculan






Komentar (0)