Berawal dari Online, Brand Fesyen Anak Ini Bisa Ekspor ke Singapura-Malaysia

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Di tengah persaingan industri fesyen anak yang didominasi merek-merek besar, brand asal Jakarta bernama Little Fresco memilih mengambil jalan berbeda. Alih-alih bersaing di produk massal, merek ini fokus menggarap ceruk pasar pakaian dan aksesori anak laki-laki.

Owner Little Fresco, Vincent Phandinata, mengatakan bisnisnya berawal dari pengembangan lini pakaian pria dewasa yang telah lebih dulu dijalankan sejak 2016.

"Jadi sepanjang itu yang kepikiran mencari yang lebih anak-anak. Kita kan kelihatannya kita bisa kerjain gitu dan ada potensi lah. Ya kita coba," ujar Vincent kepada wartawan di tokonya, Jakarta Barat, Kamis (30/7).

Sejak awal, Little Fresco memang memposisikan diri sebagai brand yang fokus pada pakaian kasual anak laki-laki. Sekitar 80 persen koleksinya ditujukan mulai dari kaus, kemeja, celana hingga berbagai aksesori seperti dasi, suspender, bow tie, topi, dan pocket square.

Vincent mengungkap aksesori justru jadi salah satu pembeda utama dibandingkan kompetitor lain di pasaran. Menurutnya, pasar aksesori anak masih relatif sedikit digarap, sementara permintaannya tetap ada, terutama pada momen tertentu seperti kelulusan sekolah, perayaan hari besar, hingga acara formal.

Selain itu, Vincent juga menawarkan ukuran yang lebih spesifik sesuai usia anak sehingga pakaian dan aksesori bisa dikenakan dengan lebih pas.

"Kita punya salah satu aksesorisnya ya produk turunannya, kalau untuk yang kaos, kita nilai lebihnya itu ya tematik dalam arti ketika 17an (Kemerdekaan) kita banyak [pesanan]," katanya.

Tak cuma mengandalkan produk, perusahaan juga rutin memperbarui desain sesuai tema tertentu, seperti Hari Kemerdekaan, Natal, Tahun Baru, maupun kebutuhan sekolah. Katanya, strategi ini membuat koleksi Little Fresco tetap relevan meski jenis produknya tidak terlalu banyak.

Untuk proses produksi, perusahaan mengerjakan sendiri desain aksesori, sablon, jahit, hingga quality control. Sementara beberapa produk pakaian diproduksi melalui skema kerja sama dengan mitra manufaktur.

Meski menyasar pasar niche, Vincent mengatakan usaha yang digelutinya mampu mencatatkan omzet lebih dari Rp 50 juta per bulan, dengan mayoritas penjualan berasal dari kanal daring.

Setelah sempat membuka beberapa gerai di pusat perbelanjaan seperti Kelapa Gading, Little Fresco kini lebih memilih memusatkan penjualan melalui e-commerce. Kata dia, sekitar 95 persen penjualan perusahaan berasal dari Shopee.

"Kalau untuk penjualan memang kita boleh ngasih 90, yang orang market pokoknya jauh banget, mungkin 95 persen di online Shopee,” ungkap Vincent.

Menurutnya, keputusan menetap pada toko daring diambil karena biaya operasional toko fisik jauh lebih besar, sementara karakter produk Little Fresco lebih banyak dicari secara spesifik oleh konsumen melalui pencarian di e-commerce.

Toko milik Vincent ini juga aktif memanfaatkan fitur live shopping dan program afiliasi untuk menjangkau lebih banyak pelanggan.

Lebih lanjut, Vincent menyebut Little Fresco mulai menjual produknya ke luar negeri melalui Shopee yang dinilainya memudahkan pelaku UMKM mengakses pasar internasional tanpa proses administrasi yang rumit.

"Kalau untuk yang lokal kita bisa lihat ada sih beberapa customer loyal sih. Kalau yang itu [ekspor] kan kita nggak begitu bisa kelihatan orang yang sama atau nggak gitu. Cuman kalau untuk negaranya ya itu-itu aja sih, Singapura-Malaysia,” lanjut dia.

Menurut Vincent, proses ekspor lewat Shopee tidak jauh berbeda dibandingkan melayani pesanan domestik.

"Betul, nggak ribet sama sekali. Sama-sama seperti kayak kita processing aja. Cuman labelnya beda aja gitu,” tuturnya.

Saat ini, pesanan dari luar negeri memang belum sebesar pasar domestik. Tapi, Little Fresco secara rutin menerima order dari Singapura dan Malaysia, bahkan sesekali dari Brunei.

Di tengah pelemahan daya beli masyarakat dan kenaikan harga bahan baku dalam beberapa waktu terakhir, Vincent mengakui margin usaha ikut tertekan. Kenaikan harga tekstil, plastik, hingga material kemasan membuat perusahaan harus melakukan efisiensi.

"Kebetulan kita kan retail dan kita ada sedikit margin yang bisa ditahan dulu lah. Jadi enggak kalau naik gila-gila semacam seperti itu,” jelas Vincent.

Daripada menaikkan harga jual, Vincent memilih memangkas anggaran pemasaran sambil mempertahankan kualitas produk agar tetap kompetitif di pasaran.

"Dampak sih ujung-ujungnya pasti margin akan turun. Dari segi omzet pun, dari segi penjualan juga sedikit turun juga. Jadi kena kiri-kanan, cuman ya ujung-ujungnya tetap cari stabil lah kita,” sebutnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Manchester United Akhirnya Bisa Jual Marcus Rashford Seharga Rp723 Miliar ke Rival Liga Inggris
• 7 jam lalu
0
thumb
Jadi Tersangka, Pegawai KPK dari Kepolisian Diduga Peras Bupati Pemalang
• 4 jam lalu
0
thumb
Peneliti Dukung Kebijakan Pilah Sampah di Makassar
• 4 jam lalu
0
thumb
Vale (INCO) Kantongi Laba Rp 1,89 T di Semester 1 2026
• 4 jam lalu
0
thumb
Adu Kinerja 4 Anak Usaha Astra, Bagaimana Proyeksi Kinerja Entitas Induk ASII?
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.