HARI ini, umat Hindu menjalani ritual keagamaan Hari Raya Nyepi. Kebetulan perayaan Nyepi berlangsung bersamaan dengan penghujung bulan puasa Ramadan.
Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri. Menahan diri dari syahwat, amarah, hingga egoisme pribadi adalah modal spiritual yang krusial.
Di tengah khusyuknya doa Nyepi dan Ramadan, dunia di luar sana sedang tidak baik-baik saja. Ketegangan geopolitik antara poros AS-Israel melawan Iran telah mencapai titik didih yang mencemaskan. Belum diketahui kapan perang tersebut akan berakhir.
Baca Juga :
Menag Ajak Jadikan Nyepi Momentum Perkuat Persaudaraan Lintas ImanSpirit menahan diri yang terkandung dalam Nyepi dan Ramadan menjadi modal sosial dan ekonomi untuk menghadapi tantangan yang kian berat. Di tengah kondisi ekonomi yang kian menuntut masyarakat untuk hidup lebih prihatin, sangatlah elok jika para pejabat publik menjadi garda terdepan dalam mempraktikkan kesederhanaan.
Umat Hindu melakukan ritual penyucian pada upacara Tawur Agung Kesanga di kawasan Patung Catur Muka, Denpasar, Bali. Foto: Antara/Nyoman Hendra Wibowo.
Istana Kepresidenan telah mengeluarkan instruksi yang melarang para pejabat bermewah-mewah, baik saat berbuka puasa bersama maupun dalam gelaran open house Lebaran. Larangan itu bukan sekadar imbauan administratif, melainkan panggilan moral untuk kembali pada inti kepemimpinan publik, yakni melayani rakyat.
Instruksi tersebut sangat penting karena masih ada saja pejabat yang nyatanya tidak memiliki kepekaan sosial. Kasus Sekretaris Daerah (Sekda) Sidoarjo yang mengadakan acara buka puasa mewah menjadi potret buram betapa rendahnya empati sebagian pejabat kita.
Baca Juga :
Ucapkan Selamat Hari Suci Nyepi, Menag: Satu Bumi, Satu KeluargaNyepi mengajarkan diam agar dunia kembali tenang, sedangkan Ramadan mengajarkan lapar agar hati menjadi peka. Semuanya bermuara pada pengendalian diri.
Mari kita jadikan spirit pengendalian diri ini sebagai benteng menghadapi ketidakpastian global. Indonesia membutuhkan para pemimpin yang tidak hanya menyampaikan imbauan tentang keprihatinan, tapi juga mampu mewujudkannya dalam tindakan nyata. Setelah itu, rakyat akan mudah meneladani mereka.




