Setiap daerah di Indonesia selalu punya kuliner khas yang menarik untuk dicicipi. Tak terkecuali di Maluku Utara, yang menyimpan banyak hidangan tradisional dengan cita rasa unik, salah satu yang cukup populer adalah nasi jaha.
Makanan ini resmi tercatat sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) yang dilindungi negara. Artinya, nasi jaha bukan sekadar hidangan lezat, tapi juga bagian dari warisan budaya yang diakui dan dijaga keberadaannya.
Nasi jaha sendiri merupakan makanan berbahan dasar beras ketan yang dicampur santan, lalu dimasak di dalam bambu. Sekilas, tampilannya memang mirip dengan lemang.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum Maluku Utara, Budi Argap Situngkir, menyebut bahwa nasi jaha kini telah mendapatkan perlindungan negara melalui pencatatan di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum. Menurutnya, langkah ini penting untuk menjaga warisan kuliner tradisional agar tidak disalahgunakan oleh pihak luar.
"Perlindungan kekayaan intelektual komunal berupa pengetahuan tradisional seperti nasi jaha bertujuan untuk mencegah eksploitasi oleh pihak luar, menjaga identitas budaya, dan memberikan manfaat ekonomi yang adil bagi masyarakat," kata Budi dikutip dari Antara, Selasa (17/3).
Hal senada juga disampaikan Kepala Divisi Pelayanan Hukum Kemenkum Maluku Utara, Rian Arvin. Ia mengajak berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, komunitas, hingga akademisi untuk bersama-sama mendaftarkan potensi kekayaan intelektual komunal lainnya. Menurutnya, saat ini proses pendaftaran sudah dapat dilakukan secara online dan pihaknya siap memberikan pendampingan secara gratis.
Sementara itu, Syarif Hi. Sabatan dari Lembaga Seni Budaya Molokiyah dan Yayasan Mahakota Gamalama Maluku Utara mengatakan, nasi jaha bukan sekadar makanan, tetapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat Ternate. Hidangan ini telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari tradisi yang terus dijaga hingga kini.
“Nasi jaha merupakan representasi sosial budaya masyarakat dan telah dikenal luas sebagai makanan khas Ternate,” katanya.
Popularitas nasi jaha juga terasa di kalangan pedagang. Risma, seorang penjual takjil di Ternate, mengaku bahwa makanan ini selalu laris, terutama selama bulan Ramadan. Dalam sehari, ia bisa menjual hingga lima bambu nasi jaha, bahkan lebih.
“Kami jual Rp 10 ribu dapat empat potong,” ujarnya.





