Jakarta, VIVA – Perkembangan teknologi analisis data mulai memainkan peran penting dalam industri keuangan, terutama dalam proses penilaian risiko kredit. Pemanfaatan data yang lebih luas dinilai dapat membantu lembaga keuangan membuat keputusan pinjaman secara lebih terukur.
Di tengah meningkatnya permintaan kredit di Indonesia, bank dan lembaga pembiayaan dihadapkan pada tantangan untuk memperluas akses pembiayaan tanpa mengabaikan manajemen risiko. Teknologi analitik data menjadi salah satu pendekatan yang mulai digunakan untuk menjawab kebutuhan tersebut.
Melalui analisis data yang lebih mendalam, lembaga keuangan dapat memahami profil calon peminjam secara lebih komprehensif. Informasi tersebut kemudian digunakan untuk membantu proses penilaian kredit atau underwriting secara lebih akurat.
Pendekatan ini juga dinilai penting dalam konteks pertumbuhan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Di Indonesia sendiri terdapat puluhan juta UMKM yang menjadi tulang punggung aktivitas ekonomi nasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah UMKM di Indonesia mencapai sekitar 65,5 juta unit usaha. Sektor ini juga menyerap sekitar 119 juta tenaga kerja dan berkontribusi lebih dari 61 persen terhadap produk domestik bruto nasional.
Meski memiliki peran besar dalam perekonomian, akses pembiayaan bagi pelaku UMKM masih menjadi tantangan. Proses pengajuan pinjaman sering kali dianggap lebih rumit dan biaya pembiayaan juga relatif lebih tinggi dibandingkan di sejumlah negara lain.
Dalam kondisi tersebut, pemanfaatan teknologi analisis data diharapkan dapat membantu lembaga keuangan mengidentifikasi peluang kredit secara lebih tepat. Data yang lebih lengkap memungkinkan bank melihat potensi serta risiko kredit secara lebih seimbang.
Salah satu bentuk kolaborasi dalam pemanfaatan teknologi ini dilakukan oleh Mastercard bersama biro kredit swasta di Indonesia, CLIK. Kerja sama tersebut bertujuan menyediakan layanan konsultasi berbasis data bagi penerbit kartu dan lembaga keuangan.
CLIK menyediakan berbagai informasi terkait riwayat kredit serta analisis pembayaran yang lebih luas. Data tersebut kemudian dapat digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan model penilaian kredit yang lebih prediktif.
Chief Digital Transformation Officer CLIK Credit Bureau, Lucky Herviana, mengatakan pemanfaatan data yang lebih luas dapat membantu lembaga keuangan menyeimbangkan target pertumbuhan dengan manajemen risiko. Menurutnya, pendekatan berbasis data dapat membuka peluang baru bagi industri keuangan.





