Bisnis.com, JAKARTA – PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) saat ini sedang dalam proses penggalangan dana publik melalui penambahan Modal Dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue.
Direktur Utama & CEO BNBR Anindya N. Bakrie cukup percaya diri dengan kesuksesan aksi korporasi yang akan berlangsung sampai 10 Juni 2026 ini, meskipun kondisi pasar sedang bergejolak.
Indeks harga saham gabungan (IHSG) sampai sesi I perdagangan hari ini, Senin (16/3/2026) turun 1,37% ke 7.039. Level indeks komposit mencerminkan kontraksi 14,28% dalam sebulan terakhir atau 18,59% sejak awal tahun.
Sejalan dengan itu, saham BNBR pada sesi I perdagangan terpangkas 4,03% ke Rp119, atau turun 16,78% dalam sepekan terakhir. Hanya saja, level harga BNBR masih mencerminkan kenaikan 15,53% dalam sebulan terakhir, walau secara year to date (YtD) harganya terkoreksi 6,30%.
"Memang pasar selama dua bulan terakhir ada berbagai macam adjustment atau koreksi, tapi sangat kondusif terutama untuk bisnis yang memiliki kestabilan cashflow. Kita lihat Bakrie & Brothers ini semakin hari menjadi fokus ke cashflow bisnis seperti [diversifikasi] ke infrastruktur jalan tol, pipa gas dan lain-lain," ujar Anin saat menanggapi pertanyaan Bisnis beberapa waktu lalu.
Menilik diversifikasi bisnis BNBR, terdapat 6 anak usaha yang langsung berada di bawah holding Bakrie & Brothers yaitu PT Vktr Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR), PT Bakrie Metal Industries, PT Bakrie Building Industries, PT Bakrie Indo Infrastructure, PT Bakrie Harper, dan PT Kreasindo Jaya Utama. Keenamnya mempunyai fokus bisnis yang beragam mulai dari infrastruktur, kendaraan listrik sampai manufaktur.
"Juga banyak investor-investor yang ingin growth story terjadi. Growth story itu dijadikan [melalui] baik dengan organik seperti yang dilakukan oleh VKTR maupun anorganik melalui akuisisi," ujarnya.
VKTR sendiri berkontribusi atas Rp1,08 triliun pendapatan bersih BNBR secara konsolidasi sepanjang 2025. Manajemen optimis sampai 2030 VKTR memiliki potensi pertumbuhan signifikan seiring percepatan elektrifikasi transportasi di Indonesia.
Sementara untuk cara anorganik, BNBR di akhir 2025 melalui anak usahanya, PT Bakrie Toll Indonesia (BTI) telah mengakuisisi 100% PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT). Meski akuisisi ini membebani kewajiban perseroan, Anin percaya investasi tersebut akan menguntungkan secara bisnis. Dia menghitung jalan tol sepanjang 26 km tersebut menghasilkan Rp2 miliar sampai Rp3 miliar per hari oleh 43.000 kendaraan yang setiap hari melewati.
Di sisi lain, rights issue yang dilakukan perseroan juga diharapkan dapat menekan debt to equity ratio (DER) dari 5 kali menjadi 2 kali, membuat postur utang perusahaan lebih terkendali.
Melansir keterbukaan informasi, BNBR mengumumkan pelaksanaan PMHMETD V dengan menawarkan 86.708.416.254 saham biasa seri E dengan nominal Rp12 per saham. Aksi korporasi ini telah mendapat persetujuan pemegang saham melalui RUPS pada 27 Februari 2026.
Periode perdagangan dan pelaksanaan HMETD berlangsung pada 26 Mei-4 Juni 2026 dan distribusi saham baru hasil pelaksanaan HMETD berlangsung pada 2-8 Juni 2026. Sampai selanjutnya, tanggal pembayaran penuh oleh pembeli siaga dilakukan pada 10 Juni 2026.





