Kontroversi pernyataan bintang sepak bola Prancis, Kylian Mbappé, yang menyebut Mao Zedong sebagai “diktator Tiongkok” belum mereda. Komedian Prancis Régis Mailhot justru menyindir kasus tersebut dalam sebuah acara, dengan mengatakan bahwa Mbappé dibungkam oleh rezim Partai Komunis Tiongkok (PKT) hanya karena mengutarakan fakta. Namun, ia menegaskan bahwa dirinya tidak takut kepada Xi Jinping.
EtIndonesia.com Pada 3 November, dalam sebuah acara di stasiun radio swasta Prancis, Sud Radio, Mailhot melontarkan sindiran bahwa Mbappé telah melakukan “kesalahan sejarah yang tidak termaafkan”.
“Dia ternyata mengatakan kebenaran,” ujarnya, disambut gelak tawa pembawa acara dan para tamu di studio.
Dengan nada mengejek, ia melanjutkan, “Ini benar-benar sesuatu yang baru. Sekarang, kita bahkan tidak boleh menyebut seorang diktator sebagai diktator. Selama Mao Zedong berkuasa, puluhan juta orang meninggal dunia.”
“Jadi, kita tidak boleh menyebut Mao sebagai diktator. Kita harus menyebutnya sebagai pembina perkemahan musim panas yang agak otoriter atau manajer sumber daya manusia yang tingkat pergantian pegawainya sedikit tinggi. Kalau terus begini, sebentar lagi kita juga harus meminta maaf karena menyebut Hitler sebagai seorang Nazi.”
11月3日,法国 Sud Radio 喜剧演员雷吉斯·迈约调侃,姆巴佩犯了个“不可饶恕的历史性错误”——“他竟然说了实话。” 他諷刺說,“我才不怕习近平”。 https://t.co/1o0B1kZvlG
— ying tang (@yingtan04410735) November 6, 2026Pembawa acara kemudian mengatakan bahwa Mbappé terpaksa meminta maaf akibat tekanan ekonomi dari Tiongkok. Ia pun bertanya apakah Mailhot tidak takut menyebut Mao Zedong sebagai diktator.
“Kalau saya? Sama sekali tidak takut. Anda mengenal saya, bukan? Saya orang bebas. Saya tidak bisa dibeli. Saya tidak takut kepada Xi Jinping,” jawab Mailhot.
Ia kemudian mengungkapkan bahwa dirinya bahkan sudah secara khusus bertanya kepada pihak produser untuk memastikan apakah ia memiliki jadwal pertunjukan di Shanghai.
“Tidak ada satu pun pertunjukan. Sekarang saya lega. Saya bisa mengatakan dengan lantang bahwa Mao Zedong memang seorang diktator.”
Pembawa acara tertawa terbahak-bahak dan kembali menyindir, “Anda tidak takut mereka akan membalas dendam?”
Mailhot menjawab sambil bercanda, “Tidak. Selain celana dalam yang saya pakai ini, tidak ada sponsor Tiongkok yang menempel di tubuh saya.”
Namun, ia kemudian membalikkan situasi dengan melontarkan sindiran lain. Ia berandai-andai jika stasiun radio tersebut besok dibeli oleh perusahaan Tiongkok, dirinya tentu akan segera mengubah pernyataan.
Ia bahkan menirukan permintaan maaf kepada Beijing dengan mengatakan, “Saya sangat menyesal telah menggunakan istilah ‘diktator’.”
Mailhot juga menyindir bahwa jika dunia sepak bola sekarang bertugas mengubah sejarah, ia mengusulkan agar Mao Zedong dianugerahi Ballon d’Or secara anumerta.
“Setidaknya, dia tahu bagaimana cara memusnahkan lawan secara efisien,” ujarnya.
Kontroversi Berawal dari Video Wawancara MbappéKontroversi permintaan maaf Mbappé bermula dari sebuah video wawancara yang baru-baru ini beredar di internet.
Dalam wawancara tersebut, Mbappé ditanya mengenai meme lucu favoritnya. Ia menyebut meme yang dibuat warganet dengan menggabungkan wajahnya ke dalam gambar “diktator Tiongkok (Mao Zedong)”.
Video itu segera memicu kontroversi besar. Setelah menghadapi tekanan politik, diplomatik, dan ekonomi dari PKT, La Liga Spanyol, klub Real Madrid, serta Mbappé sendiri akhirnya berturut-turut menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.
Namun, upaya PKT membungkam Mbappé justru memicu ketidakpuasan di kalangan masyarakat Prancis terhadap pemerintahan otoriter Tiongkok.
Kandidat Presiden Prancis: Mao Zedong Jelas Seorang DiktatorPada malam 3 November, Ketua Partai Republik Prancis sekaligus kandidat presiden, Bruno Retailleau, membahas kontroversi permintaan maaf Mbappé dalam sebuah wawancara melalui telepon di stasiun televisi BFMTV.
Ketika ditanya apakah Mao Zedong merupakan seorang diktator, Retailleau menjawab tegas, “Tentu saja! Sudah pasti! Mao Zedong menyebabkan kematian puluhan juta orang. Itu merupakan fakta objektif.”
Ia menegaskan, “Saya ingin menjadi kandidat yang mengatakan kebenaran. Bersikap tulus saja tidak cukup. Kita juga harus memiliki keberanian untuk mengatakan kebenaran.”
Menurutnya, fakta sejarah harus diakui. “Kita harus mengakui fakta bahwa komunisme dan Nazisme, dua rezim totaliter, telah menyebabkan kematian puluhan juta orang. Hal itu turut membentuk pandangan politik saya.”
Sementara itu, pada 28 Oktober, pemimpin Partai Hijau Prancis, Marine Tondelier, juga menyatakan dukungannya kepada Mbappé melalui platform X.
Ia menulis, “Mbappé sepenuhnya benar ketika menyebut Mao Zedong sebagai seorang diktator.”
Tondelier sekaligus mengkritik sikap yang terus-menerus tunduk pada tekanan ekonomi Tiongkok.
“Terus-menerus menyerah pada tekanan ekonomi Tiongkok merupakan bentuk kelemahan,” tulisnya.
Presiden Real Madrid, Florentino Pérez, juga mulai kehilangan kesabaran terhadap respons pemerintah PKT atas kontroversi Mbappé.
Dalam sebuah wawancara, Pérez mengatakan, “Masalah ini telah dibesar-besarkan secara berlebihan dan sepenuhnya melampaui batas kewajaran. Mbappé adalah pemain sepak bola profesional, bukan seorang penjahat. Ia berhak mendapatkan penghormatan yang paling mendasar.”
“Kami tidak akan setiap hari mengulang permintaan maaf hanya untuk memuaskan pihak-pihak yang sudah memiliki pendirian sendiri dan sama sekali tidak berniat mengubahnya.”
Reporter Luo Tingting, dirangkum dari berbagai sumber / Editor: Wenhui






Komentar (0)