Polemik Ijazah Terus Bergulir, Reputasi Jokowi Dinilai Tak Terbentuk Hanya dari Kontroversi

viva.co.id
12 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA - Akademisi Universitas Airlangga (Unair), Dr. Suko Widodo, menilai reputasi seorang pemimpin tidak terbentuk hanya dari satu persoalan atau kontroversi yang berkembang di ruang publik, tetapi juga dari pengalaman masyarakat terhadap kebijakan, kepemimpinan, dan integritasnya.

Pandangan tersebut disampaikan Suko dalam menanggapi polemik ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) yang terus menjadi perhatian masyarakat meskipun masa kepemimpinannya telah berakhir.

Baca Juga :
Tak Terima Ibunya Dihina, Jokowi Ungkap Perasaan yang Selama Ini Terpendam
Pengaruh Jokowi Dinilai Masih Besar, Bisa Jadi Faktor Penting Politik 2029

"Reputasi politik terbentuk dari pengalaman masyarakat terhadap kebijakan, kepemimpinan, dan integritas seorang tokoh," ujar Suko.

Menurutnya, reputasi politik merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan penilaian masyarakat terhadap berbagai aspek kepemimpinan. Karena itu, penilaian terhadap Jokowi juga berkaitan dengan pengalaman masyarakat selama dua periode pemerintahannya, termasuk kebijakan maupun capaian yang dirasakan publik.

Suko menjelaskan bahwa kontroversi berkepanjangan dapat memengaruhi cara masyarakat memandang seorang tokoh. Namun, dampak tersebut tidak selalu sama pada setiap kelompok masyarakat.

Perdebatan yang berlangsung berulang kali justru dapat mempertajam perbedaan penilaian yang sebelumnya telah terbentuk.

"Polemik berkepanjangan dapat mempertajam penilaian yang sudah berbeda, tetapi besarnya dampak terhadap kepercayaan publik harus dibuktikan melalui penelitian, bukan diasumsikan," jelasnya.

Suko mengingatkan bahwa ramainya perdebatan di media sosial tidak dapat secara langsung diterjemahkan sebagai perubahan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Jokowi.

Menurutnya, diperlukan pengukuran dan penelitian untuk mengetahui sejauh mana kontroversi tersebut benar-benar memengaruhi reputasi politik seorang tokoh.

Lebih lanjut, Suko menjelaskan bahwa polemik ijazah Jokowi kini telah berkembang menjadi persoalan yang lebih luas, terutama menyangkut kepercayaan politik.

"Polemik ini telah bergeser dari persoalan administratif menjadi persoalan kepercayaan politik," katanya.

Ia menerangkan bahwa dalam teori framing, suatu fakta dapat memperoleh pemaknaan berbeda berdasarkan pandangan politik kelompok yang menafsirkannya.

Algoritma media sosial turut memengaruhi kondisi tersebut melalui pengulangan narasi dan penguatan polarisasi di tengah masyarakat.

Akibatnya, keberlanjutan kontroversi tidak selalu disebabkan oleh kurangnya informasi, tetapi juga dapat mencerminkan melemahnya kepercayaan terhadap sumber informasi maupun lembaga yang memberikan klarifikasi.

Di tengah situasi tersebut, Suko menekankan bahwa rekam jejak kepemimpinan tetap merupakan bagian penting dalam membentuk reputasi seorang tokoh. Meski demikian, reputasi yang telah terbangun tidak serta-merta menghilangkan tanggung jawab untuk memberikan penjelasan terhadap persoalan yang menjadi perhatian masyarakat.

Baca Juga :
Isi Pesan Jokowi Usai Tunjukkan Ijazah SD hingga S1 di Persidangan: Jangan Mudah Membuat Fitnah!
Awal Mula Nama Mulyono Jadi Joko Widodo, Ayah Gibran Singung Kondisi Ekonominya
Cak Imin Lontarkan Komentar Menohok saat Ditanya soal Hak Angket Ijazah Gibran

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
15 Menit Olahraga Bareng Ayah, Bantu Perkuat Ikatan Emosional dan Latih Motorik Anak
• 10 jam lalu
0
thumb
Byeon Woo Seok Bikin Heboh Fan Meeting Jakarta, Turun Panggung hingga Hibur Fans dari Dekat
• 1 jam lalu
0
thumb
Senapan yang Dipakai Saat Perang Vietnam Ini Dijuluki Babi, Kenapa?
• 4 jam lalu
0
thumb
Bahasa Inggris Wajib untuk Kelas III SD Mulai 2027, Kemendikdasmen Siapkan 10 Ribu Guru pada 2026
• 48 menit lalu
0
thumb
Benda Logam di Tubuh Bocah SD di Kendal Disebut Bukan dari Senjata Api Polisi
• 4 jam lalu
0
Berhasil disimpan.