Kaja Kallas Tegaskan Uni Eropa Harus Dilibatkan dalam Kesepakatan Damai Ukraina, Tolak Konsesi Wilayah kepada Rusia

pantau.com
1 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas menegaskan bahwa Uni Eropa harus dilibatkan dalam setiap kesepakatan damai untuk mengakhiri perang Rusia dan Ukraina serta memperingatkan bahwa blok tersebut tidak akan melaksanakan kesepakatan yang dibuat tanpa keterlibatannya.

Pernyataan tersebut disampaikan Kallas dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Polandia Radoslaw Sikorski dan Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha pada Jumat (6/11/2026).

Kallas menekankan bahwa Uni Eropa memiliki kewenangan dalam sejumlah persoalan penting, termasuk sanksi terhadap Rusia, pengelolaan aset Rusia yang dibekukan, jaminan keamanan, serta rekonstruksi Ukraina.

Ia juga menolak pengakuan hukum terhadap klaim Rusia atas wilayah Ukraina yang diduduki dan menegaskan bahwa kedaulatan serta kemerdekaan Ukraina harus dihormati.

Di tengah upaya diplomasi tersebut, Uni Eropa mengumumkan tambahan dukungan keuangan sebesar 4,36 miliar euro atau sekitar Rp91,27 triliun untuk memperkuat ketahanan Ukraina.

Kaja Kallas Tegaskan Kesepakatan Damai Tidak Bisa Abaikan Uni Eropa

Kaja Kallas mengatakan bahwa keterlibatan Uni Eropa menjadi bagian penting dalam upaya mencapai penyelesaian perang Rusia dan Ukraina.

Menurutnya, setiap perundingan yang menyangkut kepentingan keamanan Eropa harus mempertimbangkan peran blok tersebut.

“Setiap kesepakatan yang tidak melibatkan kami sebagai pihak di dalamnya juga tidak akan kami laksanakan,” katanya.

Kallas menjelaskan bahwa berbagai aspek penyelesaian konflik berkaitan langsung dengan kebijakan dan keputusan yang berada dalam kewenangan Uni Eropa.

Aspek tersebut meliputi jaminan keamanan, penerapan sanksi, pembangunan kembali Ukraina, hingga proses keanggotaan Ukraina dalam Uni Eropa.

“Mulai dari jaminan keamanan, sanksi, rekonstruksi, hingga aksesi Ukraina ke Uni Eropa, tidak ada jalan untuk mengesampingkan Uni Eropa,” tambahnya.

Ia juga mengingatkan bahwa keputusan mengenai aset Rusia yang dibekukan dan sanksi Uni Eropa tidak dapat ditentukan tanpa melibatkan blok tersebut.

Pernyataan itu disampaikan ketika muncul upaya diplomatik baru untuk mencari jalan keluar dari perang yang masih berlangsung.

Uni Eropa Dukung Upaya Perdamaian, tetapi Situasi Ukraina Masih Memprihatinkan

Kallas mengungkapkan bahwa sejumlah upaya diplomatik sedang berlangsung untuk mendorong berakhirnya perang Rusia di Ukraina.

Dalam pertemuan bersama para menteri luar negeri Polandia dan Ukraina, mereka membahas langkah yang dapat dilakukan untuk mendukung proses perdamaian.

“Benar-benar ada dorongan diplomatik baru yang intensif untuk mengakhiri perang Rusia. Eropa terus mendukung semua upaya menuju perdamaian yang adil dan berkelanjutan,” katanya.

Namun, Kallas menilai perkembangan diplomatik tersebut belum mengubah kondisi keamanan yang dihadapi masyarakat Ukraina.

“Terlepas dari upaya diplomatik tersebut, kenyataan di lapangan masih sangat memprihatinkan.”

Ia mengatakan sedikitnya 45 warga sipil tewas akibat serangan udara Rusia di Ukraina sepanjang pekan tersebut.

Kallas juga memperingatkan bahwa Ukraina kembali menghadapi musim dingin yang sulit akibat serangan terhadap infrastruktur energi.

Menurutnya, serangan yang menargetkan fasilitas energi berpotensi memperburuk kondisi masyarakat ketika kebutuhan listrik dan pemanas meningkat selama musim dingin.

“Moskow berupaya membuat Ukraina membeku hingga menyerah, tetapi kami tidak akan membiarkan hal itu terjadi,” katanya.

Uni Eropa Salurkan Tambahan Bantuan Rp91,27 Triliun untuk Ukraina

Selain menegaskan dukungan diplomatik, Kallas mengumumkan bahwa Uni Eropa telah menyalurkan tambahan bantuan keuangan kepada Ukraina pada pekan tersebut.

Dana yang disalurkan mencapai 4,36 miliar euro atau sekitar 5,03 miliar dolar Amerika Serikat, setara Rp91,27 triliun.

Bantuan tersebut diberikan melalui skema pinjaman dukungan Uni Eropa untuk memperkuat ketahanan Ukraina.

Kallas menyampaikan bahwa dukungan tersebut menjadi bagian dari komitmen Eropa dalam membantu Ukraina menghadapi dampak perang.

Uni Eropa juga tetap menempatkan persoalan keamanan dan rekonstruksi Ukraina sebagai bagian penting dalam pembahasan penyelesaian konflik.

Menurut Kallas, keterlibatan Eropa diperlukan karena berbagai keputusan terkait pemulihan Ukraina berhubungan dengan kebijakan dan sumber daya Uni Eropa.

Kaja Kallas Tolak Konsesi Wilayah Ukraina kepada Rusia

Kallas menegaskan bahwa Uni Eropa tidak menempatkan dirinya sebagai pihak penengah yang netral dalam perang Rusia dan Ukraina.

Ia menyatakan bahwa blok tersebut tetap mendukung Ukraina dan memiliki kepentingan keamanan yang harus diperhatikan dalam setiap proses perdamaian.

“Kami bukan mediator. Kami dengan tegas berada di pihak Ukraina,” katanya.

Kallas juga menolak kemungkinan pengakuan secara hukum terhadap klaim Rusia atas wilayah Ukraina yang saat ini diduduki.

Menurutnya, penyelesaian konflik harus menghormati kedaulatan, kemerdekaan, dan hak Ukraina untuk menentukan aliansinya sendiri.

Ia turut menyerukan pertanggungjawaban atas kejahatan perang, pembayaran kompensasi atas kerusakan akibat konflik, serta pemulangan anak-anak yang dideportasi dari Ukraina.

“Singkatnya, konsesi seharusnya diberikan oleh pihak agresor, bukan korban,” lanjutnya.

Pernyataan tersebut mempertegas posisi Uni Eropa yang menolak penyelesaian perang melalui pengakuan terhadap klaim wilayah Rusia.

Uni Eropa Pertahankan Kewenangan atas Sanksi dan Aset Rusia

Kallas kembali menegaskan bahwa setiap kesepakatan damai harus mempertimbangkan kewenangan Uni Eropa atas sanksi dan aset Rusia yang dibekukan.

Ia menyatakan bahwa keputusan mengenai kedua persoalan tersebut berada di tangan Uni Eropa sehingga tidak dapat ditentukan sepihak oleh pihak lain.

“Setiap kesepakatan yang tidak melibatkan kami sebagai pihak di dalamnya juga tidak akan kami laksanakan,” katanya.

Kallas menilai keterlibatan blok tersebut diperlukan untuk memastikan bahwa pengaturan keamanan, rekonstruksi, dan hubungan Ukraina dengan Uni Eropa dapat dibahas secara menyeluruh.

Hingga Jumat (6/11/2026), upaya diplomatik untuk mengakhiri perang masih berlangsung, sementara Uni Eropa tetap mempertahankan dukungan politik dan keuangannya kepada Ukraina.

Kallas menegaskan bahwa setiap penyelesaian konflik harus menghormati kedaulatan Ukraina serta mempertimbangkan kepentingan keamanan Eropa.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Sempat Rujuk Lalu Batal, Anthony Xie Akhirnya Buka Suara Soal Keputusan Cerai dengan Audi Marissa
• 20 jam lalu
0
thumb
Timnas Indonesia Dekati Hong Kong untuk Uji Coba di FIFA Matchday November 2026, tapi Belum Dapat Jawaban Pasti
• 16 jam lalu
0
thumb
Timnas Indonesia Akan TC Jika Gagal Dapat Lawan di FIFA Matchday
• 14 jam lalu
0
thumb
KPK: Penyitaan Rp2 Miliar dari Dirut KAI Bobby Rasyidin di Agustus 2025
• 14 jam lalu
0
thumb
Dari Bilik Suara Sekolah, Siswa SMK Belajar Demokrasi
• 13 jam lalu
0
Berhasil disimpan.