Di tengah dunia digital yang kian mendominasi, buku-buku cetak, majalah independen, hingga lembaran zine justru menemukan ruang perjumpaannya tersendiri. Benda-benda yang kerap dianggap sebagai medium lawas itu berkumpul dalam beragam bentuk dan rupa di The Brickhall Fatmawati, Jakarta Selatan, Jumat (6/11/2026).
Press Print Party 2026 menyuguhkan deretan stan berisi aneka publikasi dengan karakter visual yang beragam. Mulai dari buku ilustrasi, publikasi fotografi, majalah independen, hingga zine. Bahkan, beberapa karya hadir dalam bentuk yang lebih eksperimental, membuktikan bahwa kertas tidak hanya menjadi medium cetak, tetapi juga ruang untuk berekspresi.
Press Print Party edisi ketiga berlangsung pada 6–8 November 2026 di The Brickhall Fatmawati, Jakarta Selatan. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Press Print Party 2026 melibatkan 98 kreator dan penerbit yang terdiri dari 68 peserta Indonesia serta 30 peserta internasional. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Peserta internasional, antara lain, datang dari Jepang, Korea Selatan, Vietnam, Australia, Mesir, dan Amerika Serikat. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Di antara deretan karya tersebut, pengunjung dapat menemukan beragam pendekatan dalam mengolah sebuah publikasi. Sebagian mengandalkan kekuatan gambar, sementara lainnya bermain dengan tipografi, tata letak, teknik cetak, dan pilihan material. Setiap karya seolah membawa cerita tersendiri tentang gagasan dan proses kreatif di balik pembuatannya.
Tidak hanya melihat dan membeli karya, percakapan antara pengunjung, seniman, desainer, dan penerbit turut menjadi bagian dari pengalaman mengunjungi Press Print Party. Di tengah samar-samar alunan musik, beberapa pengunjung tampak berdiskusi dengan peserta pameran untuk mengenal lebih jauh publikasi yang mereka tawarkan.
Pertemuan semacam itu yang menjadi salah satu daya tarik penerbitan independen. Karya tidak berhenti sebagai barang yang dipajang atau diperjualbelikan, tetapi membuka kesempatan bagi pembuat dan pembacanya untuk saling bertukar gagasan secara langsung.
Press Print Party tahun ini merupakan penyelenggaraan edisi ketiga yang diinisiasi Yayasan Pustaka Seni Indonesia (YPSI). Sebanyak 98 kreator dan penerbit ambil bagian dalam perhelatan tersebut. Mereka terdiri dari 68 peserta asal Indonesia dan 30 peserta internasional yang datang dari sejumlah negara, antara lain Jepang, Korea Selatan, Vietnam, Australia, Mesir, Spanyol, dan Amerika Serikat.
Mengusung tema Codex, Press Print Party 2026 tidak sekadar menjadi ruang untuk memamerkan dan memperjualbelikan karya cetak. Tema tersebut mengajak para pelaku penerbitan independen untuk melihat kembali bagaimana pengetahuan, pengalaman, dan gagasan diwariskan melalui buku serta berbagai bentuk publikasi.
Dalam konteks penerbitan independen, gagasan tersebut diperluas. Pengetahuan tidak hanya tersimpan dalam isi buku, tetapi juga dalam proses pembuatannya. Pengalaman mengolah desain, menentukan teknik cetak, mencari bahan, hingga mempertahankan keberlangsungan sebuah penerbitan merupakan pengetahuan yang terus diwariskan antarkreator.
Melalui tema tersebut, Press Print Party 2026 menyoroti bagaimana ekosistem penerbitan independen dapat bertahan dan berkembang di tengah berbagai keterbatasan. Terlebih, keberlangsungan penerbitan independen kerap bergantung pada kemampuan para pelakunya untuk saling berbagi pengalaman, membangun jaringan, dan menemukan cara baru untuk terus berkarya.
Pada hari pertama, sejumlah agenda diskusi dan presentasi buku turut mengisi rangkaian acara. Salah satunya bertajuk ”Freedom to Print” yang menghadirkan Buyung Suseno dari Subur Printing dan Antonius Dewanto dari Astragraphia. Diskusi tersebut membicarakan ruang dan kemungkinan dalam praktik produksi cetak.
Press Print Party merupakan perayaan budaya cetak untuk mendorong keberlanjutan ekosistem penerbitan independen. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Press Print Party mengusung tema Codex yang merujuk pada format buku modern dengan lembaran-lembaran yang dijilid. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Buku fisik dan publikasi independen tetap memiliki relevansi sebagai medium ekspresi, dokumentasi, pertukaran gagasan. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Pembahasan kemudian berlanjut pada metode produksi buku fotografi melalui sesi Different Production Methods for Photobooks. Sejumlah praktisi, termasuk Keita Kusaka dari Jepang serta perwakilan Andum Creative dan Felix Dass dari Indonesia, berbagi perspektif mengenai pendekatan dalam memproduksi buku fotografi.
Menjelang malam, sesi Publication as Safe Spaces for Expression. menutup Press Print Party 2026 yang berlangsung hingga Minggu (8/11/2026). Selama tiga hari, The Brickhall Fatmawati akan menjadi tempat bertemunya para penerbit, seniman, desainer, kolektor, dan pembaca yang memiliki ketertarikan terhadap budaya cetak.






Komentar (0)