Jakarta, VIVA - Inisiatif pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular terus diperluas oleh berbagai pihak. Salah satunya melalui peresmian Waste Station di Alun-Alun Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, pada Kamis, 5 November 2026.
Fasilitas hasil kolaborasi BTN, Pemerintah Kabupaten Banyumas, dan Rekosistem ini memungkinkan masyarakat mengubah sampah anorganik menjadi nilai ekonomi yang dapat dicairkan melalui rekening BTN. Inisiatif ini menjadi bukti bahwa sampah yang selama ini dianggap sebagai beban kini dapat dikelola menjadi sumber nilai baru bagi masyarakat dan lingkungan.
Urgensi inisiatif ini terlihat dari data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2024. Sampah rumah tangga menyumbang sekitar 50,8 persen dari total timbulan sampah nasional sebesar 33,79 juta ton. Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan pentingnya pengelolaan sampah sejak dari lingkungan permukiman, bukan hanya di tempat pembuangan akhir.
Jika sampah rumah tangga tidak dipilah dan dikelola sejak dari rumah, beban di tempat pembuangan akhir akan terus meningkat. Potensi material yang masih memiliki nilai ekonomi pun akan hilang begitu saja.
Pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular menawarkan cara pandang yang berbeda. Sampah tidak lagi dilihat sebagai akhir dari konsumsi, melainkan sebagai awal dari siklus baru. Botol plastik, kardus, kertas, kaleng, kaca, hingga limbah elektronik yang sudah dipilah dapat dikumpulkan, ditimbang, dikonversi menjadi nilai ekonomi, lalu disalurkan kembali ke industri daur ulang.
Dengan cara ini, volume sampah tidak hanya berkurang, tetapi material tersebut juga dapat kembali menjadi bahan baku yang bermanfaat dan menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat yang memilahnya.
Keberhasilan model ini membutuhkan sinergi kuat dari pemerintah daerah hingga perguruan tinggi, seperti yang dilakukan di Banyumas, Purwokerto.
Pemerintah daerah berperan menyediakan kebijakan, fasilitas, dan dukungan kelembagaan. Dunia usaha dan perbankan berperan menghubungkan pengelolaan sampah dengan layanan dan insentif keuangan, sementara perguruan tinggi berperan dalam edukasi, riset, dan pengembangan inovasi.
Kolaborasi tersebut menjadi kunci dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan karena tidak ada satu pihak pun yang dapat menyelesaikan persoalan sampah sendirian.






Komentar (0)