Kompas yang Berubah Arah: Ke Mana Talenta Bisnis Dunia Kini Belajar?

katadata.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Ada masa ketika arah perjalanan seorang calon pemimpin bisnis terasa begitu jelas: lulus, bekerja beberapa tahun, lalu berangkat ke Boston, Paris, atau London. Nama besar sekolah bisnis di kota-kota itu menjadi kompas yang seolah tak pernah salah. Banyak di antara kita, para pendidik, dibentuk oleh peta semacam itu.

Belakangan saya semakin sering bertanya: apakah peta itu masih berlaku? Tahun 2026 memberi isyarat bahwa ia sedang digambar ulang. Pertanyaannya tidak lagi sekadar sekolah mana yang paling bergengsi, melainkan sekolah mana yang masih sanggup menepati janjinya kepada mahasiswa.

Ketika Peta Lama Mulai Retak

Retakan pertama datang dari negara-negara yang selama ini paling ramah terhadap mahasiswa asing. Data Graduate Management Admission Council (GMAC) menunjukkan dua pertiga program di kawasan Amerika kehilangan sebagian mahasiswa internasionalnya pada 2025, sementara lebih dari separuh sekolah bisnis di Asia-Pasifik justru tumbuh. 

Permohonan visa studi ke Inggris pada awal 2026 turun sekitar sepertiga. Mahasiswa tidak berhenti belajar; mereka mencari muara yang lebih dekat, terjangkau, dan pasti, termasuk Eropa daratan serta Asia Timur dan Tenggara.

Retakan kedua lebih sunyi tetapi lebih dalam. Ketika AI mampu menyusun model keuangan dan rencana bisnis dalam hitungan menit, calon mahasiswa wajar bertanya, dan kita pun perlu bertanya: apa yang sesungguhnya mereka peroleh dari pendidikan bisnis yang mahal ini?

Mendengar Suara Industri

Berbagai kajian internasional, bila dibaca berdampingan, menyuarakan pesan yang seragam: AI tidak menghapus kebutuhan akan pemimpin bisnis, tetapi mengubah apa yang membuat mereka bernilai. 

Future of Jobs Report 2025 World Economic Forum memperkirakan hampir dua perlima keterampilan inti pekerja berubah menjelang 2030. Namun berpikir analitis tetap paling dicari, diikuti ketangguhan, kepemimpinan, dan daya cipta; keterampilan AI tumbuh paling cepat, tetapi tumbuh bersama, bukan menggantikan, kapasitas manusiawi itu.

Corporate Recruiters Survey 2026 GMAC terhadap 621 perekrut di 39 negara menunjukkan hal serupa. Kini pemberi kerja paling menghargai komunikasi, pemecahan masalah, dan adaptasi; lima tahun lagi, kefasihan memakai AI. 

Yang membuat saya berhenti sejenak: satu dari tiga pemberi kerja telah mengganti sebagian peran level pemula dengan AI. Tangga karier kehilangan beberapa anak tangganya, sehingga lulusan dituntut berkontribusi pada tingkat penilaian sejak hari pertama.

OECD menambahkan bahwa manajer, meski sangat terpapar AI, relatif sulit digantikan karena bertumpu pada penalaran kompleks dan relasi antarmanusia, sementara pembelajaran sepanjang hayat makin penting. Pesannya jernih: pendidikan bisnis masa depan perlu menyatukan fondasi analitis, kefasihan AI yang kritis, dan kematangan manusiawi, dan tidak lagi selesai pada hari wisuda.

Mengapa yang Terbaik Tetap Dipilih

Di tengah guncangan itu, sekolah bisnis terbaik dunia tampak relatif tenang. GMAC mencatat bahwa meski aplikasi menurun, selektivitas, yield, ukuran kelas, dan mutu akademik mahasiswa baru hampir tidak bergeser. 

Sebagai seseorang yang lama bergulat dengan pengelolaan pendidikan bisnis, strategi dan makna merek, saya melihat rahasianya bukan pada reputasi semata. Reputasi hanyalah gema dari janji-janji yang ditepati di masa lalu; ia memudar jika tidak terus diperbarui.

Pembaruan itu paling tampak pada pergeseran dari MBA klasik ke program spesialis. Penurunan aplikasi internasional paling terasa pada MBA penuh waktu, paruh waktu, dan fleksibel, sementara magister bisnis turun jauh lebih landai. 

AACSB mencatat magister analitika bisnis dan keuangan memimpin pertumbuhan, dan perekrutan lulusan magister spesialis kini melampaui masa sebelum pandemi. Alasannya masuk akal: program spesialis lebih singkat, lebih terjangkau, dapat diambil di awal karier, dan menawarkan kedalaman yang langsung terpakai dalam bingkai pemahaman bisnis yang utuh.

Namun ini bukan akhir riwayat MBA. Yang terjadi lebih menyerupai unbundling: pendidikan bisnis yang dulu dijual sebagai satu paket besar kini dipecah menjadi beberapa titik masuk sepanjang karier. 

Seseorang dapat memulai dengan magister spesialis, lalu kembali untuk MBA eksekutif ketika tanggung jawabnya meluas. Sekolah terbaik merangkai keduanya menjadi satu jalur belajar, sehingga mahasiswa tidak perlu pergi untuk tumbuh ke tahap berikutnya.

Mereka juga tidak memperlakukan AI sebagai tempelan. MIT Sloan, Stanford, Chicago Booth, dan INSEAD menanamkannya ke dalam mata kuliah keuangan, operasi, pemasaran, dan strategi, sembari menajamkan hal yang tak tergantikan mesin: kearifan dalam situasi kabur, keberanian etis, dan kepemimpinan lintas budaya. Ketika informasi menjadi murah, kearifanlah yang menjadi langka.

Peluang di Depan Pintu Kita

Bagi Asia Tenggara, pergeseran ini lebih mirip ketukan di pintu. Ketika mahasiswa mencari pendidikan bermutu yang lebih dekat dan terjangkau, kawasan kita berada tepat di jalur arusnya. India sudah menunjukkan kemungkinannya: aplikasi internasional ke program manajemennya melonjak sekitar seperempat dalam setahun.

Namun ketukan tidak otomatis berarti tamu akan masuk. Bagi sekolah bisnis di Indonesia, peluang ini menuntut kejujuran untuk bercermin. Kita tidak perlu menjadi Wharton kecil. Keunggulan kita lahir dari kedekatan dengan denyut bisnis pasar berkembang: kewirausahaan yang tumbuh dari keterbatasan, bisnis keluarga yang beralih generasi, ekonomi digital yang bergerak cepat, dan kelas menengah yang terus membesar. Itu tidak dapat diajarkan dari Boston.

Janji itu harus hidup di ruang kelas, dengan AI sebagai bagian dari cara belajar dan mahasiswa yang terbiasa menggugat keluaran algoritma. Ia juga perlu dibuktikan melalui kisah alumni dan dampak riset, bukan sekadar peringkat. 

Dan karena keterampilan berubah begitu cepat, hubungan dengan pembelajar tidak boleh berakhir di hari wisuda. Program spesialis, pendidikan eksekutif, dan format daring, yang kini dinilai setara oleh mayoritas pemberi kerja, dapat menjadikan sekolah bisnis di Indonesia mitra belajar sepanjang karier.

Memilih Jalan

Simpang jalan selalu menggoda kita untuk menunggu, berharap keadaan kembali seperti semula. Tetapi “normal” yang lama mungkin tak akan kembali. Sekolah bisnis yang tetap dipilih bukanlah yang paling keras menyuarakan kebesarannya, melainkan yang paling tekun menata ulang janjinya dan menepatinya setiap hari.

Bagi Indonesia, barangkali inilah saatnya berhenti memandang diri hanya sebagai pengirim mahasiswa, dan mulai berani membayangkan diri sebagai tujuan. Pertanyaannya bukan apakah kita mampu, melainkan apakah kita cukup jujur mengenali keunggulan sendiri dan cukup berani melangkah di jalan itu.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Polemik Ijazah Berlanjut ke Meja Hijau, UGM Beberkan Perannya di Sidang Kasus Jokowi
• 2 jam lalu
0
thumb
Jalur Hukum untuk Mengungkap Tuduhan Makar
• 11 jam lalu
0
thumb
Final Round Mandalika Racing Series 2026 Dimulai, Pertamina Perkuat Dukungan bagi Pembalap Muda Indonesia
• 14 jam lalu
0
thumb
Disebut Jihadis oleh Trump, Abdul El-Sayed Beri Balasan Menohok
• 21 jam lalu
0
thumb
Kronologi Pembunuhan Wanita di Cimahi, Ternyata Berawal dari Aplikasi Kencan MiChat
• 9 jam lalu
0
Berhasil disimpan.