Pernikahan merupakan langkah hidup yang berat karena menjadi masa transisi menuju permulaan jenjang kehidupan baru yang penuh tanggung jawab. Bagi sebagian orang, momentum sakral ini menjadi sangat personal sehingga ingin dirayakan secara mendalam tanpa banyak distraksi dari banyaknya orang yang hadir.
Kendati demikian, di beberapa budaya kolektif, pernikahan bukan hanya persoalan keinginan mempelai. Ada kalanya acara pernikahan menjelma jadi hajat besar para orangtua untuk mengumumkan kepada publik bahwa mereka telah berhasil mengantarkan anaknya ke gerbang kedewasaan. Acara pernikahan pun kerap menjelma jadi ajang pengakuan sosial.
Prinsip ini dipegang teguh oleh Kurniati (49), warga asal Tangerang, Banten. Anak perempuan pertamanya, Ranti (24), akan menikah dalam waktu dekat. Kedua belah pihak keluarga sudah bertemu untuk berdiskusi lebih lanjut. Namun, pertentangan muncul kala Ranti bersikeras hendak menghelat perayaan secara kecil-kecilan dengan hanya mengundang keluarga inti dan teman terdekatnya.
”Ya, aku enggak suka, lha. Temanku banyak, di RT aku jadi tukang masak. Rekan kerja bapaknya banyak. Saudara-saudara di kampung juga. Kalau undangannya dipilih-pilih, apa kata mereka?” ujar Kurniati atau akrab disapa Nia, Rabu (4/11/2026).
Konsep acara pernikahan yang diharapkan Ranti ramai disebut dengan intimate wedding. Istilah ini menggambarkan acara pernikahan yang hanya melibatkan kerabat terdekat dan dirayakan secara sederhana. Dalam kasus Nia, sang anak menginginkan acara pernikahan berupa akad nikah yang dihadiri 50 tamu undangan dan makan-makan bersama keluarga.
Alasannya, Ranti merasa sayang harus mengeluarkan biaya besar untuk menjamu ratusan orang dalam satu hari. Uang tersebut lebih baik dialokasikan untuk kebutuhan setelah menikah, seperti bulan madu dan cicilan rumah. Ranti juga merasa enggan memberatkan orangtuanya kalau harus turut menanggung biaya pesta yang tidak murah.
Sementara itu, sebagai ibu dari empat anak, Nia ingin pernikahan anak pertamanya ini dirayakan secara meriah sebagai bentuk rasa syukur. Dia bahkan tidak keberatan harus membiayai penuh segala persiapan resepsi demi bisa menjamu seluruh kenalan dan keluarga besar.
”Kita mau namanya anak pertama hajatannya dimeriahkan. Aku sudah bilang, nanti mama yang bayarin, kamu tinggal duduk cantik, terima salaman teman mama, teman ayah, sama tetangga. Kalau diam-diam, nanti malah diomongin di belakang,” ujar Nia.
Sampai sekarang, pembahasan tentang pernikahan menjadi topik sensitif di keluarga Nia. Ia bahkan tidak mengetahui kapan tepatnya Ranti dan calon suaminya menyepakati tanggal pernikahan. Mereka kerap bersitegang karena masih kukuh dengan pendirian masing-masing.
Keinginan menjadikan pernikahan anaknya momentum sekali seumur hidup yang berkesan juga diharapkan Suharti (60), warga Jakarta Barat. Suharti tengah menanti hari spesial anak perempuannya, Melinda (28), yang akan dilangsungkan akhir November 2026. Pernikahan ini sudah direncanakan sejak Melinda dan calon suami bertunangan tahun lalu.
Ketika didatangi di kediamannya, Suharti tengah duduk berbincang bersama Melinda saat sang anak mampir pulang dari menjaga warung sembako milik keluarga yang terletak di ujung gang. Mereka kini hanya tinggal berdua sejak sang ayah berpulang beberapa tahun lalu. Sebagai anak bungsu, Melinda sehari-hari mendampingi ibunya seorang diri karena keempat saudaranya telah berumah tangga dan tinggal terpisah.
Suharti ingin pernikahan anak terakhirnya menjadi momen untuk mempertemukan seluruh keluarga besar dan kenalan dekat. Pasalnya, keluarga dari pihak Suharti sendiri terdiri atas 15 bersaudara yang tinggal di sejumlah daerah di Jabodetabek. Sementara almarhum suami juga mempunyai banyak saudara yang anak keturunannya tersebar di luar kota mencakup Pekalongan, Tegal, Surabaya, Batam, hingga Kalimantan.
Meski Suharti sangat mengharapkan seluruh sanak saudara berkumpul pada acara resepsi, keinginan itu terhalang keputusan Melinda yang meminta pernikahannya diselenggarakan skala kecil. Ia berencana membatasi jumlah tamu undangan menjadi 100 orang, terdiri atas beberapa keluarga dan teman dekat.
Selain itu, acara resepsi yang tadinya akan diadakan sampai sore, dipersingkat menjadi dari pagi sampai siang. Mereka sengaja mencari vendor yang sudah mencakup semua kebutuhan, tanpa bantuan jasa wedding planner. Katering dan seserahan pun diurus secara mandiri guna menekan anggaran.
Melinda memilih konsep ini bukan tanpa pertimbangan. Ia dan calon suaminya merasa biaya pernikahan di Jakarta kian mahal. Dengan konsep yang diusung sekarang, mereka telah menghabiskan kisaran Rp 80 juta-Rp 90 juta. Sisa dananya hendak mereka tabung untuk modal kehidupan setelah menikah, utamanya masa depan anak.
Mendengar pemikiran tersebut, Suharti dengan berat hati lantas membiarkan kemauan Melinda. ”Awalnya merasa nelangsa (sedih) karena kakak-kakaknya acara semua, tapi anak terakhir malah enggak ramai. Tapi, mau gimana lagi, itu keinginannya sendiri,” ucap Suharti saat ditemui Rabu (4/11/2026).
Berbeda dengan Nia dan Suharti, ada pula orangtua yang mendukung anaknya untuk lebih bijak dalam merencanakan pesta pernikahan, seperti Selly Jatmika (55). Selly justru mewanti-wanti anaknya, Valen (28), untuk mempertimbangkan kesiapan finansialnya.
Anak laki-laki pertamanya itu sempat mengutarakan keinginannya untuk menggelar acara lamaran sebelum nantinya berlanjut ke pernikahan yang mengundang seluruh sanak saudara. Pilihan ini diambil setelah berdiskusi dengan calon pasangan dan keluarganya.
Bagi Selly, keputusan tersebut perlu dipikirkan kembali melalui berbagai pertimbangan. Ia menilai, persiapan kebutuhan setelah menikah harus diprioritaskan ketimbang konsep acara lamaran dan pernikahan yang terlalu menguras anggaran. Hal ini mengingat status pekerjaan anaknya yang masih pegawai kontrak dinilai belum stabil secara finansial.
”Menurut saya, menikah itu yang penting layak secara gereja dan negara. Mau menggelar pesta pernikahan boleh saja, tapi dana untuk kehidupan ke depan harus dipersiapkan dulu,” ujar Selly, saat dihubungi Rabu (4/11/2026).
Dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jenderal Soedirman, Rin Rostikawati, menilai, maraknya intimate wedding mencerminkan pergeseran makna pernikahan. Dari yang tadinya pengakuan sosial (social recognition) menjadi kepuasan pribadi (personal satisfaction).
Menurut Rin, selisih pendapat antara orangtua dan anak terjadi karena anak muda kini cenderung menginginkan pernikahan yang intim dan sakral serta lebih menghargai prosesi pernikahan itu sendiri. Generasi sebelumnya, sebaliknya, lebih berfokus pada pesta besar sebagai simbol status sosial atau pemenuhan kewajiban kultural.
Undangan yang bisa mencapai ribuan orang umumnya berangkat dari fungsi sosial pesta pernikahan bagi orangtua, yakni menjaga relasi, status sosial, dan jembatan silaturahmi dengan seluruh jaringan keluarga. Oleh karena itu, orang tua acap berperan besar dalam penyelenggaraan pesta pernikahan anaknya.
Pergeseran ini, menurut Rin, merupakan bentuk negosiasi anak muda terhadap tradisi pernikahan turun-temurun dalam keluarga. Mereka menginginkan pernikahan yang berpusat pada kenyamanan emosional kedua mempelai.
”Kalau saya perhatikan, perubahan tatanan ini mulai lazim sejak pandemi Covid-19. Pembatasan kerumunan waktu itu membuat acara pernikahan hanya dihadiri keluarga inti. Lama-kelamaan, muncul pandangan baru bahwa sebuah pernikahan tidak harus dirayakan besar-besaran,” tutur Rin.
Sementara dosen Sosiologi FISIP Universitas Brawijaya, Astrida Fitri Nuryani, berpendapat, pergeseran makna pernikahan di kalangan generasi muda sangat dipengaruhi paparan teknologi dan dunia digital sejak usia formatif mereka.
Pandangan generasi terdahulu murni dibentuk oleh lingkungan sekitar, seperti orangtua, guru, teman sebaya, dan tetangga. Di sisi lain, generasi muda yang mengonsumsi konten digital sejak dini mulai mengadopsi nilai-nilai global yang membentuk cara pandang baru mengenai pernikahan.
Perbedaan preferensi ini menciptakan kesenjangan antargenerasi (intergenerational gap), yaitu celah perbedaan sudut pandang mengenai arti keluarga dan pernikahan. Bagi generasi terdahulu, pernikahan memiliki tujuan utama menguatkan ikatan kekerabatan (kinship) dan mengusung nilai-nilai kolektif. Sedangkan bagi generasi muda, pernikahan lebih mengedepankan nilai-nilai personal pengantin.
”Nilai-nilai yang dianut berbeda. Antara generasi Boomers dan generasi milenial saja sudah cukup kontras. Apalagi nanti antara gen Z dan gen alfa. Otomatis akan ada perbedaan pendapat. Karena selain arti dari sebuah keluarga, arti dari menikah itu sendiri berbeda antargenerasi,” ucap Astrida.






Komentar (0)