Dari Pesta Impian ke Hitung-hitungan Keuangan

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Pesta pernikahan megah boleh jadi masih menjadi impian banyak pasangan. Namun, untuk mewujudkannya, perlu penuh perhitungan. Kini, sejumlah pelaku usaha jasa penyelenggara pernikahan atau wedding organizer tengah menghadapi kenyataan itu. Anggaran calon pengantin semakin ketat, sementara persaingan harga di antara pelaku usaha WO kian sengit.

Erel, pendiri BT Wedding di Bali, merasakan langsung perubahan tersebut. Setelah menikmati pertumbuhan bisnis pada 2022-2024 seusai pandemi Covid-19, ia mulai melihat penurunan permintaan pada 2025. Bahkan, menurut perkiraannya, pemesanan untuk penyelenggaraan pernikahan pada 2026 turun hingga 60–70 persen dibandingkan sebelumnya.

”Situasinya lebih berat dibandingkan masa pandemi Covid-19 pada 2020–2021,” ujar Erel saat dihubungi, Rabu (4/11/2026), di Jakarta.

Dia melihat, faktor utama yang menyebabkan penurunan ialah ketidakpastian ekonomi. Pasar Erel yang biasanya datang dari luar negeri ikut terpengaruh. Ada pasangan dari luar negeri ingin menikah di Bali, tetapi mereka minta dibuatkan konsep perayaan yang intim sebab tamu internasional yang diundang sedikit.

Di tengah situasi seperti ini, Erel mengurangi belanja iklan. Menurut dia, akan percuma keluar uang beriklan saat permintaan sedang tertekan. 

Segmen ketat

Project Manager Hageya Planner (WO asal Yogyakarta) Brillian Horta memiliki cerita yang mirip dengan Erel. Brillian melihat, ada pergeseran serta koreksi volume pemesanan yang cukup signifikan dalam dua tahun terakhir. Industri pernikahan yang di dalamnya termasuk jasa WO saat ini tidak lagi sesemarak tahun-tahun sebelumnya.

Dia menduga pergeseran ini terjadi karena masyarakat mulai selektif menekan biaya yang dianggap tidak esensial. Secara umum, klien terbagi ke dalam dua segmen utama, yakni segmen budget (hemat) dan segmen fear of missing out (FOMO). Segmen FOMO selalu mengikuti tren demi menjaga gengsi atau ajang unjuk gigi.

Dua tahun terakhir terjadi migrasi besar-besaran dari segmen FOMO ke segmen budget. ”Para calon pengantin kini cenderung menurunkan ekspektasi dan kualitas demi mendapatkan harga semurah-murahnya,” ucapnya.

Segmen budget sebenarnya sudah ada sejak lama, tetapi tidak semasif dua tahun belakangan. Jika sebelumnya klien dari segmen ini masih terbuka untuk diberikan masukan dan menyesuaikan, kini, bagi klien segmen budget, anggaran adalah harga mati.

Estimasi persentase kemampuan revisi anggaran pada tahun-tahun sebelumnya bisa mencapai 80 persen ke atas. Kini, kemampuan menyesuaikan anggaran merosot tajam ke angka 40-50 persen.

Dia bisa memahami, situasi tersebut didorong oleh faktor ekonomi yang kurang stabil, maraknya kasus penipuan paket murah, serta kekecewaan masyarakat saat menghadiri pernikahan kerabat sebagai tamu akibat buruknya kualitas layanan WO terdahulu.

Baca JugaMenikah dan UMR, Apa Hubungannya?

Hal yang mengkhawatirkan bagi Brillian yang sudah bertahun-tahun menekuni bisnis penyelenggara pesta perkawinan adalah kemunculan WO baru yang menawarkan jasa mengelola pesta pernikahan dengan harga kelewat murah, bahkan ekstrem, yakni berkisar Rp 1,5 juta hingga Rp 3,5 juta.

WO ini sebagian adalah mantan pekerja lepas yang mendirikan usaha tanpa persiapan matang. Akibat perang harga yang tidak masuk akal, kualitas pelayanan yang diberikan menjadi seadanya.

Fenomena yang banyak terjadi di kota-kota besar itu melahirkan berbagai masalah di lapangan, mulai dari perencanaan yang tidak maksimal, eksekusi yang buruk, hingga koordinasi hari-H yang berantakan. Tim yang diterjunkan sering kali dibayar murah, tidak sesuai spesifikasi, dan sekadar ”menjalankan agenda” tanpa pemahaman mendalam. 

Akibatnya, ketika terjadi masalah pada hari pernikahan, penanganannya juga menjadi sangat ala kadarnya. Keluarga pengantin pun kerap merasa dirugikan karena mengira WO akan menangani manajemen acara secara menyeluruh, termasuk tata letak area dan manajemen waktu, bukan sekadar membaca kertas agenda acara.

Menghadapi gempuran tantangan tersebut, Brillian memilih tetap konsisten dengan standar pelayanan. Dia tetap menerapkan pembatasan maksimal dua klien pasangan menikah per hari demi menjaga fokus dan kualitas.

Pendekatan yang ditawarkan masih berpijak pada penjualan jasa profesional, bukan sekadar menjual paket yang sangat murah. Dukungan dari lini bisnisnya yang lain, seperti corporate event juga dimanfaatkan untuk melakukan backup (pendapatan) silang. 

Tekanan terhadap bisnis penyelenggara pernikahan tidak hanya dirasakan pelaku usaha WO. Industri perhotelan yang selama ini mengandalkan resepsi pernikahan sebagai salah satu sumber pendapatan juga menghadapi perubahan perilaku konsumen. Apalagi, permintaan penyelenggaraan pertemuan dan kegiatan pemerintah juga menyusut akibat kebijakan efisiensi anggaran

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran, saat dihubungi pada Rabu (4/11/2026), berpendapat, kondisi itu memaksa pengelola hotel untuk bertindak lebih agresif dalam merebut pasar pernikahan guna mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas ruang acara yang ada. Walakin, ruang gerak mereka untuk memberikan promosi maupun insentif tambahan bagi calon pasangan terbatas.

Hasil survei Bridestory (platform e-dagang kebutuhan pernikahan) memperlihatkan gambaran yang menarik. Anggaran pernikahan ratusan juta rupiah masih menjadi pilihan terbesar responden, bahkan proporsinya cenderung meningkat pada periode 2024, 2025, dan 2026.

CEO Bridestory Ayunda Wardhani mengungkapkan, berdasarkan Bridestory Wedding Trend Survey Report 2025, sebanyak 39,9 persen responden menyiapkan anggaran pernikahan Rp 250 juta-Rp 500 juta, meningkat dari 37,8 persen pada survei 2024.

Dalam bocoran survei 2026 yang dijadwalkan dirilis pada Januari 2027, proporsi tersebut kembali naik menjadi 40,9 persen. Sementara itu, responden yang menyiapkan anggaran di bawah Rp 250 juta juga meningkat, dari 22,3 persen pada 2025 menjadi 25,5 persen pada 2026. Total responden survei berkisar 5.000 orang. 

Meski demikian, hasil survei tersebut mencerminkan rencana pengeluaran calon pengantin, bukan realisasi belanja ataupun jumlah pemesanan yang diterima pelaku usaha WO. Lebih dari setengah responden survei berdomisili di Jabodetabek.

Kaum realistis

Di balik semakin ketatnya perhitungan biaya pernikahan, muncul pula kecenderungan generasi muda untuk lebih realistis dalam memandang pernikahan. Peneliti Pusat Riset Kependudukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Andhika Baskoro, menilai, kecenderungan tersebut berkaitan dengan fenomena fear of marriage atau ketakutan terhadap pernikahan yang ia teliti.

Temuannya menunjukkan, sebagian generasi muda semakin realistis dalam mengambil keputusan hidup, termasuk soal pernikahan. Sejumlah orang muda yang memilih menunda atau tidak menikah, sejumlah lain bahkan memandang pernikahan sebagai hubungan yang bersifat transaksional.

”Kalau dinilai merugikan, mereka cenderung menolak atau menundanya,” ujar Andhika.

Salah satu angkatan kerja generasi Z di Jakarta, Julius Tedja, berpendapat, tidak semua generasi muda seberuntung dirinya ketika menikah dan mendapat sokongan dana dari orangtua sehingga bisa menyelenggarakan pesta pernikahan megah. Tamu rekanan dirinya dan orangtua di atas 350 orang.

Ia mengaku memiliki teman-teman yang memilih membiayai pernikahan menggunakan penghasilan dan tabungan pribadi sehingga harus lebih cermat menentukan anggaran pesta.

Tanpa bantuan orangtua, menurut Julius, pasangan muda cenderung memprioritaskan kebutuhan hidup setelah menikah dibandingkan menghabiskan tabungan untuk pesta pernikahan yang berlangsung sehari atau beberapa jam saja.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Rio Dondokambey Beri Sambutan pada KONAS Pemuda PGI 2026
• 10 jam lalu
0
thumb
Polda Metro Jaya Buka Akses Kerja Lewat Program Poliran | KOMPAS PAGI
• 21 jam lalu
0
thumb
Menteri Ekraf: Tenaga kerja ekonomi kreatif didominasi generasi Z
• 16 jam lalu
0
thumb
Veda Ega Pratama Dipastikan Lewatkan Pole Position Karena Ini
• 1 jam lalu
0
thumb
Veda Ega Dapat Hukuman Mundur Enam Posisi Start di Moto3 Qatar, Apa Penyebabnya?
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.