Quiet quitting menggambarkan fenomena di mana karyawan hanya bekerja sebatas deskripsi tugas formal tanpa bersedia memberikan upaya ekstra. Mereka menolak lembur terselubung atau mengambil tanggung jawab tambahan di luar porsi semestinya.
Riset terbaru dari lembaga ekonomi Inggris, Resolution Foundation, menemukan bahwa keterlibatan pekerja terus merosot dalam satu dekade terakhir. Hal tersebut menjadi masalah yang menghambat pertumbuhan produktivitas pascapandemi.
Berdasarkan survei terhadap 4.656 responden dewasa, persentase pekerja yang rela berkorban demi kemajuan perusahaan merosot tajam dari 69 persen pada 2015 menjadi hanya 55 persen pada 2025.
Selain itu, satu dari empat pekerja mengaku tidak puas dengan profesi mereka. Pada periode yang sama, jumlah pekerja yang memandang pekerjaan mereka menarik juga anjlok dari 74 persen menjadi 63 persen.
Resolution Foundation menyimpulkan bahwa generasi pekerja saat ini mengalami penurunan komitmen dan kehilangan ketertarikan intrinsik terhadap dunia kerja dibanding satu dekade lalu. Pergeseran kultur kerja ini diduga kuat berkontribusi langsung pada lambatnya pemulihan produktivitas nasional sejak krisis keuangan global dan era pandemi.
Ekonom Senior Resolution Foundation, Hannah Slaughter, memperingatkan bahwa fenomena ini melampaui isu personal karyawan dan berisiko memicu dampak sistemik pada skala makro.
"Ini jelas buruk bagi para pekerja, tetapi juga bukan pertanda baik bagi produktivitas dan pasokan tenaga kerja, yang keduanya sangat penting untuk meningkatkan standar hidup di tahun-tahun mendatang," ujar Slaughter, dikutip dari laman BBC pada Jumat, 6 November 2026.
Baca Juga :
Quiet Quitting Diam-Diam Mengintai Pekerja, Kenali Tanda-Tandanya Sebelum TerlambatMunculnya tren quiet quitting tidak terlepas dari berbagai persoalan yang dihadapi pekerja. Tuntutan pekerjaan yang tinggi, upah yang dinilai tidak sebanding, dan tekanan terhadap standar hidup membuat sebagian karyawan memilih membatasi kontribusi mereka hanya pada tugas yang diwajibkan.
Alih-alih mengambil pekerjaan tambahan atau terus terhubung dengan urusan kantor di luar jam kerja, mereka lebih memilih menjaga keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Sikap ini juga dikenal dengan istilah acting your wage, yaitu bekerja sesuai dengan kompensasi yang diterima.
Laporan Resolution Foundation turut menemukan bahwa pekerja kini semakin mempertimbangkan besaran gaji dibandingkan sebelumnya. Kondisi tersebut dinilai tidak mengejutkan mengingat standar hidup masyarakat cenderung stagnan selama satu dekade terakhir.
Profesor politik sekaligus editor laporan Resolution Foundation, Sir John Curtice, menegaskan bahwa temuan ini bukan berarti generasi muda menjadi semakin malas bekerja atau pekerja secara umum enggan berpindah pekerjaan.
Namun, perusahaan perlu memahami bahwa keterlibatan karyawan tidak hanya ditentukan oleh tuntutan pekerjaan. Pemberian upah yang layak dan fleksibilitas jam kerja juga semakin penting agar pekerja merasa terlibat dengan pekerjaan mereka.
Fenomena quiet quitting tidak semata-mata menunjukkan perubahan etos kerja karyawan, tetapi menjadi sinyal bahwa hubungan antara pekerja dan perusahaan sedang mengalami perubahan, terutama dalam hal penghargaan, beban kerja, dan batas antara kehidupan profesional dengan pribadi. (Wisa Irena Br Sitepu)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
- URL Berhasil di Salin Quiet Quitting Makin Marak, Benarkah Pekerja Kini Enggan Kerja Lebih Keras? Klik untuk baca: https://www.medcom.id/ekonomi/bisnis/Gbm0V63N-quiet-quitting-makin-marak-benarkah-pekerja-kini-enggan-kerja-lebih-keras
(ANN)






Komentar (0)