Orang Tua Jangan Asal Pukul Anak, Psikolog Ungkap Risiko bagi Kesehatan Mentalnya

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Memarahi anak mungkin menjadi salah satu respons orang tua ketika si kecil melakukan kesalahan atau sulit diarahkan. Dalam situasi tertentu, emosi yang memuncak bahkan bisa membuat orang tua kehilangan kendali hingga menggunakan hukuman fisik, seperti memukul anak.

Padahal, memukul bukanlah metode pendisiplinan yang direkomendasikan, Moms. Alih-alih membantu anak memahami kesalahannya, hukuman fisik justru dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan mental dan perkembangan emosionalnya.

Psikolog klinis anak, remaja, dan keluarga Roslina Verauli, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa anak yang berhenti melakukan suatu perilaku setelah dipukul belum tentu memahami bahwa perbuatannya salah.

"Anak mungkin berhenti berperilaku tertentu karena takut, namun mereka tidak belajar memahami mengapa perbuatannya salah," jelas Roslina saat dihubungi kumparanMOM beberapa waktu lalu.

Dengan kata lain, kepatuhan yang muncul karena rasa takut berbeda dengan pemahaman anak terhadap aturan dan batasan. Anak bisa saja tidak lagi mengulangi perbuatannya di hadapan orang tua, tetapi bukan berarti ia telah belajar mengelola perilakunya dengan baik.

Dampak Memukul Anak terhadap Kesehatan Mental

Menurut Roslina, hukuman fisik yang terus diberikan dapat memicu berbagai dampak psikologis pada anak. Beberapa di antaranya adalah munculnya perasaan cemas dan takut, menurunnya rasa percaya diri, hingga risiko depresi dan trauma psikis.

Selain itu, anak juga berpotensi meniru pola agresi yang dilakukan orang tuanya. Hal ini dapat terjadi karena anak melihat kekerasan sebagai salah satu cara untuk menyelesaikan masalah atau menghadapi perilaku orang lain.

Karena itu, perlu memahami bahwa mendisiplinkan anak bukan berarti membuatnya takut kepada orang tua.

"Disiplin yang sehat mengajarkan batasan dan tanggung jawab tanpa menyakiti atau merendahkan anak," tutur Roslina.

Moms, ketika anak melakukan kesalahan, bantu ia memahami perilaku apa yang tidak tepat dan mengapa hal tersebut tidak boleh dilakukan. Orang tua juga perlu memberikan batasan yang konsisten agar anak memiliki gambaran jelas mengenai perilaku yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan.

Dengan begitu, anak tidak hanya belajar menghindari hukuman, tetapi juga memahami alasan di balik aturan yang diberikan.

Pada akhirnya, tujuan disiplin bukan membuat anak selalu takut melakukan kesalahan, melainkan membantunya tumbuh menjadi pribadi yang mampu memahami tanggung jawab dan mengendalikan perilakunya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Wajah Baru Uma Oma Cafe Blok M, Hadirkan Teras Lebih Luas dan Ragam Menu Baru
• 22 jam lalu
0
thumb
Mahasiswi S3 Ilmu Kedokteran UI Ditemukan Tewas Membusuk di Kamar Kos
• 21 jam lalu
0
thumb
Mensesneg Kasih Angin Segar, Aliansi PPPK Paruh Waktu Kawal Terbitnya Perpres Alih Status PPPK
• 1 jam lalu
0
thumb
BMKG Rilis Prakiraan Cuaca Sepekan 6-12 November 2026: Waspada Peningkatan Hujan
• 7 jam lalu
0
thumb
Pramono Anung Akan Tata Tanah Abang dari Parkir Liar hingga Premanisme, Nasib Pedagang Jadi Perhatian
• 9 jam lalu
0
Berhasil disimpan.