Riset Indonesia-Australia Olah Limbah Udang dan Lalat Jadi Inovasi Ekonomi Biru

republika.co.id
4 jam lalu
Cover Berita
 

LOMBOK UTARA -- Kolaborasi riset Indonesia dan Australia mengembangkan pemanfaatan limbah perikanan menjadi produk bernilai ekonomi. Dua penelitian yang didukung pendanaan bersama BRIN-KONEKSI mengolah cangkang udang menjadi astaksantin serta mengembangkan pakan lobster berkelanjutan berbahan larva lalat tentara hitam dan kerang lokal.

Duta Besar Australia untuk Indonesia Rod Brazier mengunjungi Pusat Riset Budidaya Laut, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), di Lombok Utara, Rabu (4/11/2026). Kunjungan tersebut untuk melihat perkembangan dua proyek penelitian di bidang bioekonomi kelautan.

Baca Juga
  • Lahan Wakaf untuk Pertanian Berkelanjutan, Green Waqf Dorong Kemandirian dan Kelestarian Lingkungan
  • Raperda RPPLH Kota Tangerang 2026-2056: Tujuh Kebijakan untuk Lingkungan Berkelanjutan
  • Kabut Asap Karhutla: Lingkungan Rusak, Masyarakat Menanggung Akibatnya

Brazier mengatakan, kerja sama penelitian kedua negara diarahkan untuk menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat, terutama dalam menjaga keberlanjutan sumber daya laut dan memperkuat ekonomi pesisir.

"Australia dan Indonesia berinvestasi pada penelitian yang memberikan manfaat praktis bagi masyarakat. Melalui kemitraan dengan BRIN, kami mendukung inovasi yang membantu memastikan sumber daya laut kita lebih berkelanjutan, memperkuat mata pencaharian masyarakat pesisir, serta menciptakan peluang baru untuk kerja sama ekonomi," ujar Brazier dalam pernyataan KONEKSI, Kamis (5/11/2026).

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Penelitian pertama dipimpin peneliti BRIN Syahputra Wibowo bersama Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, dan Curtin University. Tim mengembangkan metode ekstraksi astaksantin dari limbah cangkang udang. Senyawa antioksidan bernilai tinggi tersebut berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku produk kesehatan.

Dalam pemaparan hasil penelitian, tim menyebut potensi kandungan astaksantin mencapai 78,13 persen. Penelitian telah memasuki tahap pengembangan ekstrak dan karakterisasi senyawa, termasuk pengembangan kompleks astaksantin untuk mendukung kajian potensinya terhadap diabetes.

Tahap berikutnya mencakup pengujian aktivitas biologis, termasuk pengujian secara in vivo. Tim juga menjajaki kerja sama dengan industri farmasi untuk membuka peluang komersialisasi. Penelitian ini sekaligus menerapkan pendekatan ekonomi sirkular dengan meningkatkan nilai limbah cangkang udang.

Penelitian kedua dipimpin peneliti BRIN Sunarti Sinaga bersama Universitas Brawijaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), serta Griffith University. Tim mengembangkan pakan lobster berkelanjutan dengan memanfaatkan larva lalat tentara hitam (black soldier fly/BSF) dan kerang lokal.

Inovasi tersebut menyasar persoalan ketergantungan budidaya lobster di Nusa Tenggara Barat (NTB) terhadap pakan alami, terutama ikan rucah. Dalam materi penelitian disebutkan, NTB merupakan sentra produksi yang memenuhi sekitar 80 persen kebutuhan lobster nasional, dengan produksi berkisar 120-150 ton per tahun.

Namun, budidaya lobster masih menghadapi tantangan efisiensi pakan. Rasio konversi pakan (feed conversion ratio/FCR) tercatat mencapai 17,3-20,1, yang menunjukkan tingginya kebutuhan pakan untuk menghasilkan pertumbuhan lobster.

Tim mengembangkan pemanfaatan limbah organik perkotaan sebagai bahan baku pakan berbasis larva BSF. Kerang invasif Mytilopsis sallei juga dimanfaatkan sebagai sumber protein alternatif.

Hasil pengujian menunjukkan, formulasi pakan dengan komposisi 70 persen kerang dan 30 persen ikan rucah menghasilkan biomassa akhir sekitar 183,98 gram, dengan tingkat kelangsungan hidup (survival rate) 85 persen. Sementara itu, perlakuan dengan 100 persen kerang mencatat tingkat kelangsungan hidup 90 persen, mortalitas terendah, serta potensi pengurangan biaya paling besar.

Tim juga mengembangkan pelet berbahan larva BSF dengan kandungan protein kasar 46,71 persen. Pakan tersebut mengandung sejumlah asam amino esensial, termasuk leusin, valin, dan arginin.

Penelitian mencatat pertumbuhan harian larva BSF sebesar 18,54 persen. Panen optimal dapat dilakukan pada hari ke-20 untuk mendukung efisiensi produksi bahan baku pakan.

Selain pengembangan pakan, penelitian juga mengidentifikasi kerang invasif di perairan Lombok. Analisis DNA mengonfirmasi kerang cokelat yang ditemukan merupakan Mytilopsis sallei, yang sebelumnya diduga sebagai M. adamsi. Temuan tersebut menjadi catatan molekuler pertama spesies itu di Teluk Sekotong.

Kerang tersebut juga memiliki kandungan mineral alami, terutama kalsium dan fosfor, yang mencapai 29,99 persen. Kandungan itu membuka peluang pemanfaatannya sebagai sumber protein dan mineral alternatif untuk budidaya lobster.

Kedua penelitian tersebut menunjukkan pemanfaatan limbah dan sumber daya lokal untuk menghasilkan produk bernilai tambah. Selain berpotensi meningkatkan efisiensi budidaya, inovasi ini diharapkan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir sekaligus mendukung pengelolaan sumber daya laut berkelanjutan.

Kerja sama Indonesia-Australia melalui KONEKSI (Australia-Indonesia Knowledge Partnership Platform) menjadi salah satu wadah penguatan kolaborasi penelitian dan inovasi kedua negara, khususnya dalam pengembangan ekonomi biru dan pengelolaan sumber daya kelautan.

 

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
IHSG Menguat 1,96% ke Level 5.016 di Sesi I, Saham Emas Melaju
• 23 jam lalu
0
thumb
Chempa Puteri dan Hyori Mika Akui Chemistry sebagai Kakak-Adik di Film Desember Jani Terbangun Tanpa Banyak Usaha
• 16 jam lalu
0
thumb
Gunung Semeru Erupsi Lagi, Luncurkan Awan Panas Guguran Sejauh 4 Kilometer
• 12 jam lalu
0
thumb
Anthony Hudson Sebut Penundaan Piala Asia 2027 Menguntungkan Timnas Thailand
• 19 jam lalu
0
thumb
Neraca Perdagangan Luar Negeri Jabar Surplus USD22,09 Miliar
• 20 jam lalu
0
Berhasil disimpan.