MG Motor Indonesia tengah bersiap dengan kebijakan pemerintah untuk menerapkan spesifikasi bahan bakar minyak (BBM) dengan campuran etanol 10 persen atau E10. Salah satunya adalah dengan penyesuaian rincian teknis produk mobilnya.
Head of Product MG Motor Indonesia, Eko Fachruroji menyambut baik rencana tersebut dan menjelaskan akan mendukung peta jalan transisi energi bersih yang telah dicanangkan oleh pemerintah.
Salah satunya menghadirkan produk elektrifikasi jenis Hybrid Electric Vehicle (HEV) yang masih pakai mesin bakar internal sebagai salah satu sumber tenaga. Selain emisi gas buang yang lebih rendah, mobil hibrida disebut mampu kurangi konsumsi BBM sangat signifikan.
"Karena kan kita melihat produk hybrid itu juga sebenarnya salah satu chance buat brand untuk comply juga plan dari pemerintah menuju ke elektrifikasi. Dan memang hybrid itu kami pandang juga sebagai salah satu opsi yang baik untuk masyarakat Indonesia," buka Eko ditemui di Yogyakarta, Rabu (4/11/2026) malam.
Mengenai kompabilitas model-model MG Motor yang ada saat ini untuk bahan bakar E10, Eko bilang telah melakukan kalibrasi ulang agar mesin dapat tetap bekerja optimal meski menggunakan BBM campuran senyawa nabati tersebut.
"Sebenarnya kalau di Eropa ini kan standarnya RON 95 ya. Sedangkan kita melihat market di Indonesia ini lebih rendah, itu juga kemarin sempat kita propose dan sekarang sudah dikalibrasi di sini juga untuk RON 92 sekarang," jelasnya.
Langkah koordinasi dengan kantor pusat manufaktur di prinsipal juga terus berjalan agar riset mengenai kecocokan racikan BBM bioetanol E10 dapat segera tuntas sebelum aturan resmi diberlakukan. Eko bilang, MG Motor telah mengetahui adanya rencana tersebut.
"Jadi ketika seandainya umpamanya ke depan pemerintah ada program seperti tadi (bioetanol), itu sudah kita sounding. Kita bilang ke headquarter bahwa ada future plan-nya seperti ini dari pemerintah. Mereka sudah mau, kalau memang market lari ke situ pasti ada," pungkasnya.
Bahan bakar etanol siap diimplementasikan lebih luas tahun depanMenteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia memastikan penerapan BBM yang menggunakan campuran etanol dengan kadar 10 hingga 20 persen mulai terlaksana tahun 2027 mendatang.
"Etanol 2027 tahap pertama 10-20 persen, sehingga etanol bisa mengikuti jejak dari biodiesel. Nanti (pakai) tebu, singkong, jagung," ujar Bahlil saat acara peluncuran Biodiesel B50 di Karawang, Kamis (9/7/2026).
Bahan etanol yang akan dicampur dengan BBM jenis bensin merupakan hasil proses pengolahan unsur nabati seperti tebu, singkong, dan sebagainya. Tujuan utamanya mengurangi komposisi minyak bumi pada bahan bakar.
Bahlil menambahkan, pasokan etanol nantinya akan dikelola oleh berbagai pihak, seperti Danantara, Pertamina, hingga menggandeng pihak swasta. Sebelumnya dia menjelaskan bahwa pemerintah akan bertindak sebagai pembeli utama (off-taker) untuk menjamin penyerapan produksi etanol yang dihasilkan petani dan pelaku usaha di sektor hulu.
Bahlil mencatat, saat ini kebutuhan BBM jenis bensin (gasoline) di Indonesia mencapai 40 juta KL per tahun. Nantinya, pemerintah membutuhkan sekitar 4 juta KL etanol untuk dicampurkan ke dalam konsumsi bensin nasional tersebut.
Menurutnya, program bioetanol termasuk bagian dari strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
“Kebutuhan bensin kita itu kurang lebih sekitar 40 juta kiloliter, dan dari 40 juta kiloliter itu, kapasitas produksi kita itu hanya 14,3 juta kiloliter jadi impornya hampir 25 juta kiloliter," ungkap Bahlil.






Komentar (0)