Mereka yang Tertawa Keras dan Menangis Karena Kekalahan Trump di Pemilu

cnbcindonesia.com
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Hasil pemilu sela Amerika Serikat (AS) pada Selasa (3/11/2026) membawa perubahan besar terhadap peta politik Washington sekaligus mengguncang pasar komoditas global. Sejumlah komoditas mengalami penguatan harga, sementara komoditas lainnya justru berada dalam tekanan.

Partai Demokrat berhasil merebut kendali Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representatives) dari Partai Republik. Kemenangan ini menjadi pukulan politik bagi Presiden AS Donald Trump, sekaligus membuka peluang perubahan arah kebijakan ekonomi, perdagangan, dan energi negara tersebut.

Mengutip NBC News, Demokrat diproyeksikan meraih sedikitnya 259 kursi di DPR AS. Kemenangan tersebut juga meluas ke sejumlah wilayah yang selama ini menjadi basis dukungan Partai Republik.

Hasil Pemilu AS Foto: Reuters

Hasil pemilu ini berpotensi membatasi ruang gerak pemerintahan Trump dalam menjalankan agenda legislatifnya. Dengan Kongres yang dikuasai Demokrat, berbagai kebijakan pemerintah berisiko menghadapi hambatan politik, termasuk dalam persoalan anggaran, regulasi, dan kebijakan ekonomi.

Perubahan peta politik tersebut langsung direspons pasar keuangan global.

Dolar AS melemah, sementara investor mulai memperhitungkan kemungkinan perlambatan belanja pemerintah, perubahan kebijakan energi, serta arah suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Meski demikian, dampaknya terhadap pasar komoditas tidak berlangsung seragam. Emas, perak, dan tembaga mendapatkan momentum penguatan, sedangkan sejumlah komoditas energi menghadapi tekanan seiring perubahan ekspektasi pasar terhadap perkembangan geopolitik.

Komoditas yang Tertawa Lebar 1. Emas Pesta

Harga emas dunia melanjutkan penguatan pada perdagangan Kamis (5/11/2026), setelah mencatat lonjakan harian terbesar sejak Agustus pada perdagangan sebelumnya.

Berdasarkan data Refinitiv pukul 09.30 WIB, harga emas spot (XAU/USD) berada di level US$4.125,69 per troy ons, naik 1,62% dibandingkan posisi sehari sebelumnya sebesar US$4.059,74.

Pada Rabu (4/11/2026), emas juga melonjak sekitar 3,35% dibandingkan perdagangan Selasa, mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap logam mulia setelah kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela AS.

Mengutip Reuters, penguatan emas terutama didorong pelemahan dolar AS setelah hasil pemilu mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan ekonomi pemerintahan Trump.

Baca: Harga Emas Mengamuk 3% Rayakan Kekalahan Trump, Tembus US$ 4.000 Lagi

Penguasaan Kongres oleh Demokrat berpotensi menciptakan kebuntuan politik antara pemerintah dan legislatif.

Kondisi tersebut dinilai dapat membatasi ekspansi belanja pemerintah dan menekan prospek pertumbuhan ekonomi AS, sehingga berpotensi mengurangi kebutuhan pengetatan moneter The Fed.

Meski demikian, pasar masih menantikan laporan ketenagakerjaan AS atau non-farm payrolls yang dijadwalkan rilis Jumat (6/11/2026) untuk membaca arah kebijakan suku bunga selanjutnya.

2. Perak Melambung

Tidak hanya emas, harga perak dunia juga menikmati momentum penguatan setelah hasil pemilu sela AS.

Berdasarkan data Refinitiv pukul 09.30 WIB, harga perak spot (XAG/USD) mencapai US$53,19 per troy ons pada Kamis (5/11/2026), naik 1,87% dibandingkan sehari sebelumnya sebesar US$52,21.

Penguatan ini melanjutkan reli pada Rabu (4/11/2026), ketika perak melonjak sekitar 4,90% dari posisi Selasa sebesar US$49,77 per troy ons.

Sejalan dengan emas, kenaikan harga perak turut didukung pelemahan dolar AS setelah Partai Demokrat memenangkan kendali kedua kamar Kongres.

Pelemahan dolar membuat logam mulia yang diperdagangkan dalam mata uang AS menjadi lebih terjangkau bagi pembeli yang menggunakan mata uang lainnya.

Baca: Kripto Pesta Pora Rayakan Kekalahan Trump, Bitcoin Terbang ke Bulan

Selain itu, perak juga mendapat dukungan dari meningkatnya perhatian investor terhadap risiko fiskal AS dan prospek kebijakan moneter The Fed. Namun, sebagai logam yang juga digunakan dalam berbagai kegiatan industri, pergerakan perak tetap rentan terhadap perubahan prospek pertumbuhan ekonomi global.

3. Tembaga Pulih

Harga tembaga dunia mulai menunjukkan pemulihan setelah sempat tertekan oleh ketidakpastian kebijakan ekonomi AS menyusul kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela.

Berdasarkan data Refinitiv, harga tembaga berjangka COMEX pada Rabu (4/11/2026) ditutup di level US$6,403 per pon, naik 0,38% dibandingkan sehari sebelumnya sebesar US$6,3785 per pon.

Mengutip Reuters, harga tembaga sempat tertekan oleh kekhawatiran bahwa kemenangan Demokrat dapat mengurangi prospek penerapan tarif impor tembaga AS serta memperketat regulasi pembangunan pusat data (data center) berbasis kecerdasan buatan (AI).

Namun, tekanan tersebut mulai mereda berkat permintaan fisik yang masih kuat dan keterbatasan pasokan tembaga di luar AS. Kondisi ini membantu menopang harga meskipun pasar masih mencermati perubahan kebijakan perdagangan dan prospek investasi teknologi.

Pergerakan tembaga mencerminkan tarik-menarik antara ketidakpastian kebijakan AS dan fundamental pasar yang masih didukung oleh permintaan serta pasokan yang ketat.

Komoditas Ambruk 1. Minyak Mentah Dunia

Harga minyak mentah dunia mengalami tekanan tajam setelah kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela AS memunculkan harapan meredanya konflik antara AS dan Iran.

Berdasarkan data Refinitiv pukul 10.00 WIB, harga minyak Brent pada Kamis (5/11/2026) berada di level US$94,15 per barel, turun 0,50% dibandingkan sehari sebelumnya. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,86% menjadi US$87,36 per barel.

Penurunan tersebut memperpanjang pelemahan tajam pada perdagangan Rabu (4/11/2026), ketika harga Brent anjlok 8,67% dan WTI merosot 8,29% dalam sehari.

Mengutip Reuters, kemenangan Demokrat yang menguasai kedua kamar Kongres meningkatkan ekspektasi bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump akan menghadapi tekanan politik untuk meredakan konflik dengan Iran, terutama setelah lonjakan harga energi menjadi salah satu sumber ketidakpuasan pemilih AS.

Baca: Asia Pesta Usai Kubu Trump Tumbang: Ringgit-Rupiah Tertawa, Won Nangis

Harapan berkurangnya eskalasi perang turut menekan premi risiko geopolitik pada harga minyak. Jika konflik mereda, kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah juga berpotensi berkurang.

Reuters mencatat Brent telah kehilangan sekitar 20% nilainya sepanjang pekan berjalan. Jika tekanan berlanjut hingga akhir pekan, minyak berpotensi mencatat penurunan mingguan terdalam sejak April 2020.

2. CPO Tertekan

Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) turut berada dalam tekanan setelah hasil pemilu sela AS ikut menekan harga minyak mentah dunia, di tengah sentimen fundamental pasar sawit yang memang sudah bearish.

Berdasarkan data Refinitiv pukul 10.00 WIB, harga CPO kontrak Bursa Malaysia untuk pengiriman Januari 2027 pada Kamis (5/11/2026) berada di level 4.424 ringgit Malaysia per ton, turun 1,60% dibandingkan posisi sehari sebelumnya di 4.496 ringgit Malaysia per ton.

Pelemahan ini memperpanjang tren penurunan dalam empat hari perdagangan beruntun. Pada Rabu (4/11/2026), harga CPO juga turun 1,21% dan ditutup di level terendah sejak awal Juli.

Tekanan terhadap CPO datang dari beberapa arah. Mengutip Reuters, pasar dibebani ekspektasi persediaan minyak sawit Malaysia pada Oktober mencapai rekor tertinggi, yakni diperkirakan naik 6,8% dari 3,51 juta ton pada September menjadi sekitar 3,75 juta ton. Proyeksi stok yang melimpah ini memicu kekhawatiran kelebihan pasokan.

Baca: Harga Batu Bara Ambruk 3 Hari Beruntun, Terburuk Sebulan Lebih

Di saat yang sama, harga minyak nabati pesaing juga melemah. Kontrak palm olein di Dalian, kontrak minyak sawit Dalian, serta harga soyoil di Chicago sama-sama turun, sehingga menambah tekanan pada CPO yang bersaing langsung di pasar minyak nabati global.

Sentimen negatif juga datang dari pelemahan harga minyak mentah dunia. Setelah Demokrat menang dalam pemilu sela AS, pasar berharap tensi konflik AS-Iran dapat mereda. Harapan itu mendorong harga minyak turun tajam, sehingga CPO menjadi kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel.

Selain itu, penguatan nilai tukar ringgit Malaysia terhadap dolar AS juga membuat CPO menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli luar negeri, sehingga turut membebani permintaan.

3. Batubara Ambruk

Harga batu bara dunia turut melemah di tengah anjloknya harga minyak mentah dan tekanan permintaan dari sejumlah negara importir utama.

Berdasarkan data Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Rabu (4/11/2026) ditutup di level US$146 per ton, turun 1,02% dibandingkan sehari sebelumnya sebesar US$147,50 per ton.

Pelemahan ini memperpanjang tren penurunan selama tiga hari perdagangan beruntun. Sejak akhir Oktober, harga batu bara telah merosot sekitar 4,23% dari posisi US$152,45 per ton pada Jumat (30/10/2026).

Tekanan terhadap batu bara turut dipengaruhi anjloknya harga minyak mentah setelah kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela AS meningkatkan harapan meredanya konflik AS-Iran. Prospek penurunan harga energi berpotensi mengurangi daya tarik batu bara sebagai alternatif bahan bakar di tengah gangguan pasokan energi global.

Baca: Harga Emas Antam Logam Mulai Hari ini Naik Rp 3.000, Buyback Rp 13.000

Dari sisi permintaan, pasar batu bara juga menghadapi tekanan dari China dan India. Pembeli batu bara di China masih berhati-hati, sementara pengiriman batu bara ke India sepanjang Januari-Oktober 2026 turun 7% secara tahunan akibat meningkatnya biaya impor.

Meski demikian, pergerakan pasar batu bara tidak seragam. Reuters melaporkan harga batu bara kokas dan kokas China justru menguat masing-masing 2,49% dan 1,92% pada Kamis (5/11/2026), didukung ekspektasi perbaikan aktivitas industri baja dan pemulihan pasokan yang masih terbatas.

4. Nikel

Harga nikel dunia masih menghadapi tekanan akibat kelebihan pasokan global, meskipun mulai menunjukkan pemulihan pada awal November 2026.

Berdasarkan data Trading Economics, harga nikel berada di kisaran US$16.137 per ton pada Kamis (5/11/2026). Posisi tersebut masih jauh di bawah puncaknya pada Mei 2026 yang mendekati US$19.500 per ton.

Harga Nikel Dunia 5 November 2026, pukul 11:00 WIB Foto: Trading Economics

Berbeda dengan emas dan minyak, dampak kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela AS terhadap nikel cenderung tidak langsung. Pelemahan dolar AS berpotensi mendukung harga logam industri, tetapi ketidakpastian arah kebijakan perdagangan dan investasi AS masih membayangi prospek permintaan.

Tekanan utama berasal dari melimpahnya pasokan, terutama akibat ekspansi produksi Indonesia. Di sisi lain, pertumbuhan permintaan nikel untuk baterai kendaraan listrik tertahan oleh meningkatnya penggunaan baterai lithium iron phosphate (LFP) yang tidak membutuhkan nikel.

Baca: Mimpi Buruk Trump Dimulai, Demokrat Kuasai Senat dan DPR AS

Mengutip Trading Economics, produsen nikel di Indonesia juga tengah mempertimbangkan pengurangan produksi untuk mengatasi kelebihan pasokan. Langkah tersebut berpotensi menopang harga apabila benar-benar terealisasi.

Dengan demikian, pergerakan nikel lebih banyak dipengaruhi ketidakseimbangan pasokan dan permintaan global dibandingkan hasil pemilu sela AS secara langsung.

5. Dolar AS dan Imbal Hasil Treasury Ikut Melemah

Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela AS turut menekan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury), seiring perubahan ekspektasi investor terhadap kebijakan ekonomi pemerintahan Donald Trump.

Berdasarkan data Refinitiv, indeks dolar AS (DXY) pada Kamis (5/11/2026) berada di level 101,258, melemah 0,30% dibandingkan sehari sebelumnya. Sementara itu, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun ke level 4,84%, dari 4,89% pada perdagangan sebelumnya.

Mengutip laporan ICICI Bank, kemenangan Demokrat berpotensi membatasi ekspansi fiskal pemerintah AS sekaligus memperketat pengawasan terhadap pembangunan pusat data (data center) dan investasi kecerdasan buatan (AI).

Sebanyak 141 gigawatt (GW) kapasitas pusat data yang masih direncanakan di Texas, Georgia, dan Ohio berpotensi menghadapi pembatasan kebijakan. Kondisi tersebut dapat memperlambat investasi teknologi, mengurangi kebutuhan pembiayaan, serta meredam tekanan pertumbuhan ekonomi dan inflasi.

Di sisi lain, meningkatnya harapanmeredanya konflik AS-Iran juga berpotensi menekan harga energi dan inflasi, sehingga mengurangi kebutuhan kenaikan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve (The Fed).

Baca: Harga Emas Galeri 24, UBS, Antam & Antam Retro Hari Ini Melonjak Semua

Kombinasi sentimen tersebut mendukung penguatan obligasi pemerintah AS dan melemahkan dolar, sekaligus meningkatkan daya tarik emas dan perak di pasar global.

Pergerakan harga komoditas setelah pemilu sela AS menunjukkan bahwa perubahan peta politik Washington memberikan dampak yang berbeda di pasar global. Emas, perak, dan tembaga mendapatkan momentum penguatan, sementara minyak, batu bara, dan CPO menghadapi tekanan akibat perubahan ekspektasi geopolitik dan kondisi permintaan.

Meski demikian, arah harga komoditas ke depan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintahan Trump, tetapi juga perkembangan konflik Timur Tengah, kebijakan suku bunga The Fed, serta keseimbangan pasokan dan permintaan masing-masing komoditas.

(slm/slm)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Cuaca Jawa Timur 5 November 2026, Waspada Potensi Hujan Petir Sejak Pagi
• 7 jam lalu
0
thumb
Siasat Pekerja Jakarta. Cukupkah Hidup Irit di Kamar Sempit?
• 2 jam lalu
0
thumb
Harley-Davidson Bikin Motor Murah, Mesin Satu Silinder
• 12 jam lalu
0
thumb
Jenazah Ibu-Anak Berupa 15 Fragmen Tulang Korban Pembunuhan Sadis Madiun Diserahkan ke Keluarga
• 21 jam lalu
0
thumb
Syarat Penerima BSU 2026 Rp900.000 Resmi Kemnaker, Cek Batas Gaji
• 19 jam lalu
0
Berhasil disimpan.