Harga emas dunia melonjak lebih dari 3 persen pada perdagangan Rabu (4/11/2026), mencatatkan kenaikan harian terbesar sejak pertengahan Agustus.
IDXChannel – Harga emas dunia melonjak lebih dari 3 persen pada perdagangan Rabu (4/11/2026), mencatatkan kenaikan harian terbesar sejak pertengahan Agustus.
Penguatan terjadi setelah dolar Amerika Serikat (AS) tertekan menyusul kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela AS (midterm elections).
Di sisi lain, investor juga mencermati laporan ketenagakerjaan nonpertanian (nonfarm payrolls) AS yang akan dirilis pekan ini untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
harga emas di pasar spot naik 3,31 persen menjadi USD4.060,36 per troy ons.
Kenaikan tersebut membawa harga emas kembali menembus level psikologis USD4.000 per troy ons.
Sebelumnya, harga logam mulia tersebut sempat merosot ke USD3.869,85 pada 30 Oktober, menjadi level terendah sejak Oktober 2025.
Kemenangan besar Partai Demokrat dalam pemilu paruh waktu AS menyeret dolar ke level terendah dalam lebih dari satu bulan.
Investor mempertimbangkan kemungkinan pengetatan regulasi kecerdasan buatan (AI) serta dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi AS.
Partai Demokrat berhasil menguasai Senat dan DPR AS, sekaligus mencatatkan kemenangan di sejumlah wilayah yang selama ini menjadi basis Partai Republik.
Hasil tersebut mencerminkan penolakan luas pemilih terhadap Presiden AS Donald Trump.
Pelemahan dolar menjadi katalis positif bagi emas karena membuat komoditas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar tersebut lebih murah bagi pembeli di luar AS.
Analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff, mengatakan, seperti dikutip Reuters, emas mendapat dukungan dari pelemahan dolar AS.
Kondisi tersebut mencerminkan pandangan bahwa kebuntuan politik di Kongres AS berpotensi menghambat sejumlah agenda legislasi dan memberikan tekanan terhadap perekonomian.
Situasi itu juga membuka ruang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk menerapkan kebijakan moneter yang lebih longgar.
Sementara itu, kekhawatiran inflasi masih membayangi pasar.
Harga minyak tetap tinggi dengan minyak mentah Brent diperdagangkan di atas USD100 per barel, seiring investor menantikan langkah Washington selanjutnya terkait perang AS-Israel melawan Iran.
Di pasar keuangan, pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang The Fed menaikkan suku bunga pada Desember mencapai sekitar 83 persen, berdasarkan CME Group FedWatch Tool. Suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) dalam memegang emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil.
Dari sisi ekonomi, pertumbuhan jumlah tenaga kerja sektor swasta AS meningkat pada Oktober, berdasarkan laporan ADP National Employment Report yang dirilis Rabu.
Investor selanjutnya menantikan laporan NFP AS yang dijadwalkan terbit pada Jumat untuk mendapatkan gambaran lebih lanjut mengenai prospek kebijakan moneter. Sebelumnya, bank sentral AS mempertahankan suku bunga pada Oktober.
Kepala Riset Logam Deutsche Bank, Daniel Ghali, mengatakan data ketenagakerjaan yang kuat berpotensi memperkuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed.
Namun, menurut dia, data tersebut kemungkinan tidak akan mengubah ekspektasi mengenai level puncak suku bunga karena kondisi pasar tenaga kerja saat ini bukan menjadi faktor utama yang mendorong prospek inflasi. (Aldo Fernando)






Komentar (0)