Jakarta, CNBC Indonesia - Dewan Pengupahan Bangladesh sepakat menaikkan upah minimum pekerja industri garmen setelah gelombang demonstrasi dan bentrokan melanda sejumlah kawasan industri selama lima hari. Kenaikan tersebut diharapkan mulai berlaku pada Januari 2027, tetapi besaran upah baru belum ditetapkan.
Perwakilan pekerja dalam dewan pengupahan, Babul Akter, mengatakan pihak buruh dan pengusaha telah mencapai kesepakatan mengenai waktu kenaikan upah.
"Para pekerja menuntut kenaikan upah pada bulan Desember agar mereka dapat menerima gaji yang telah disesuaikan pada bulan Januari," ujarnya, Rabu (4/11/2026), seperti dikutip AFP.
Akter menambahkan perwakilan pemilik pabrik juga menyetujui usulan tersebut. Sementara itu, ABM Shamsuddin, perwakilan Asosiasi Produsen dan Eksportir Garmen Bangladesh (BGMEA), mengatakan dewan akan menyelesaikan pembahasan pada Desember agar pekerja bisa menerima kenaikan gaji mulai Januari.
Ribuan buruh sebelumnya menggelar demonstrasi sejak Sabtu untuk menuntut kenaikan upah minimum bulanan menjadi 30.000 taka Bangladesh atau sekitar Rp4,53 juta. Angka tersebut naik 140% dari upah minimum saat ini sebesar 12.500 taka atau sekitar Rp1,89 juta, di tengah inflasi sekitar 8% yang membuat biaya pangan, tempat tinggal, transportasi, dan layanan kesehatan semakin membebani pekerja.
Dewan pengupahan yang terdiri atas perwakilan pengusaha dan pekerja dibentuk pemerintah pada Minggu untuk merundingkan tuntutan tersebut. Meski telah mencapai kesepakatan mengenai waktu pemberlakuan, dewan belum mengumumkan besaran kenaikan upah yang akan diberikan.
Aksi demonstrasi masih berlangsung di sejumlah pusat industri, termasuk Gazipur, Mirpur, Narayanganj, dan Savar. Dalam beberapa aksi, pekerja melemparkan batu dan mendirikan barikade, sementara polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa.
Superintenden Polisi Industri Narayanganj, Abdullah Al Mahmud, mengatakan sejumlah demonstran merusak pabrik dan mengajak pekerja lain mengikuti pemogokan. "Kami tidak akan membiarkan mereka memasang blokade di mana pun," ujarnya kepada wartawan.
Sementara itu, Kepala Polisi Industri Gazipur Amjad Hossain menggambarkan situasi di wilayahnya masih dalam kondisi tegang.
Industri garmen merupakan tulang punggung perekonomian Bangladesh yang mempekerjakan lebih dari empat juta orang dan menyumbang sekitar 80% pendapatan ekspor negara tersebut. Nilai ekspornya mencapai US$38 miliar atau sekitar Rp687,8 triliun, dengan Amerika Serikat sebagai pasar tunggal terbesar dan Uni Eropa sebagai blok perdagangan utama.
Adapun Bangladesh merupakan eksportir pakaian terbesar kedua di dunia setelah China.
(luc/luc)





Komentar (0)