PT Pupuk Indonesia (Persero) menjajaki investasi hingga akuisisi tambang fosfat dan kalium di sejumlah negara untuk mengamankan pasokan bahan baku pupuk nitrogen, fosfat, dan kalium (NPK). Langkah tersebut disiapkan karena perusahaan masih bergantung pada impor kedua komoditas tambang tersebut, sementara Indonesia belum memiliki sumber daya fosfat dan kalium yang memadai untuk memenuhi kebutuhan industri pupuk.
SVP Corporate Strategic PT Pupuk Indonesia, Dade Sanja Wijaya, mengatakan, perusahaan tengah menjajaki peluang investasi pertambangan di Belarus, Kanada, Aljazair, dan Rusia. Penjajakan tersebut menjadi bagian dari strategi integrasi vertikal untuk mengamankan bahan baku sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasar impor.
"Hanya Pupuk Indonesia saja di dunia ini perusahaan pupuk yang tidak memiliki tambang P sama K. Nah inilah yang menjadi bottleneck kami karena kami sangat bergantung terhadap impor," ujar Dade dalam Minerba Convex di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Dia menjelaskan, kebutuhan fosfat dan kalium selama ini dipenuhi dari sejumlah negara pemasok. Fosfat antara lain berasal dari Yordania, Maroko, Mesir, dan Australia. Sementara itu, pasokan kalium sebagian besar berasal dari Kanada, Belarus, dan Rusia, dengan tambahan pasokan dari Laos.
Menurut Dade, ketergantungan terhadap impor membuat perusahaan belum memiliki kendali yang cukup kuat atas ketersediaan bahan baku. Pasalnya, sebagian besar pengadaan komoditas tersebut masih bergantung pada transaksi di pasar spot (spot market).
Karena itu, Pupuk Indonesia berencana memperkuat penguasaan bahan baku melalui penjajakan investasi pertambangan di luar negeri. Perusahaan akan mengedepankan kerja sama antarpemerintah (government to government/G2G) maupun antarbadan usaha (business to business/B2B).
"Ke depannya kita akan melakukan opsi penjajakan tambang baik itu di Belarus, di Kanada, maupun di Aljazair dan Rusia," katanya.
Upaya tersebut juga berkaitan dengan rencana ekspansi kapasitas produksi pupuk NPK. Pupuk Indonesia menargetkan kapasitas produksi NPK meningkat dari 4,6 juta ton saat ini menjadi 5,9 juta ton pada 2030. Penambahan kapasitas sebesar 1,3 juta ton tersebut berpotensi meningkatkan kebutuhan bahan baku fosfat dan kalium.
Dade menyebut kebutuhan impor fosfat diperkirakan meningkat dari 1,8 juta ton menjadi 2,3 juta ton. Sementara itu, kebutuhan kalium juga diproyeksikan bertambah sekitar 400.000 ton seiring peningkatan kapasitas produksi.
"Implikasinya apa terhadap penambahan ini? Tentu impor untuk P dan K-nya juga akan bertambah," ujarnya.
Baca Juga: PTPP Raih Kontrak Rp400 Miliar dari Pupuk Kaltim, Garap Proyek Dermaga 11
Baca Juga: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
Selain menjajaki kepemilikan tambang, Pupuk Indonesia juga memperkuat kontrak pasokan jangka panjang dengan industri pengolahan mineral dalam negeri. Salah satunya melalui kerja sama dengan smelter untuk memperoleh sekitar 1,6 juta ton asam sulfat yang digunakan sebagai bahan baku produksi NPK.
Dade mengatakan, pengamanan bahan baku menjadi salah satu prioritas perusahaan karena ketersediaannya berpengaruh langsung terhadap kelancaran produksi pupuk.
"Karena ya kami tentu inginnya bahan baku itu karena sangat krusial bagi kami," katanya.






Komentar (0)