Liputan6.com, Jakarta - Suara notifikasi dari ponsel menjadi bagian dari keseharian Radhit (27). Bukan hanya satu, melainkan dari lima aplikasi ojek online (ojol) yang selalu siaga di ponselnya. Ia harus pandai mengatur semuanya agar peluang mendapatkan pesanan semakin besar.
Bagi Radhit, menjalankan lima aplikasi sekaligus bukan sekadar strategi untuk mendapatkan lebih banyak penumpang atau pesanan makanan. Ada kebutuhan hidup yang harus dipenuhi, sementara pendapatan dari satu aplikasi saja kini dirasanya tak lagi cukup.
Advertisement
Sudah dua tahun terakhir Radhit menjalani profesi sebagai pengemudi ojol. Awalnya, pekerjaan ini hanya menjadi sampingan ketika dirinya masih menunggu kepastian lamaran kerja di bidang content creator dan social media specialist.
Saat itu, ia bekerja sebagai pengemudi ojol di Jakarta sembari menunggu proses seleksi di sebuah perusahaan. Lamaran tersebut akhirnya diterima dan ia sempat bekerja sesuai bidang yang diminatinya.
Namun, perjalanan kariernya tak berjalan mulus. Gaji yang tak kunjung dibayarkan selama dua bulan membuat Radhit mengambil keputusan untuk mengundurkan diri. Sejak itu, ia memilih mengandalkan ojol sebagai pekerjaan utama.
"Oktober tahun kemarin, saya memilih resign karena gaji saya tidak cair selama dua bulan, lalu menjadi driver ojol sepenuhnya," ujar Radhit saat berbincang dengan Liputan6.com, Selasa (3/11/2026).
Sejak saat itu, jalanan menjadi tempatnya mencari nafkah. Namun, ia merasakan pekerjaan sebagai pengemudi ojol semakin berat dibandingkan ketika pertama kali menjalaninya pada 2024.
Menurut Radhit, salah satu persoalannya adalah jumlah pengemudi yang terus bertambah, sementara pesanan yang tersedia semakin terbatas. Kondisi ini membuat persaingan mendapatkan orderan semakin ketat.
"Saat ini, menjadi driver ojol sangat berat untuk dilakukan. Aplikator seperti Shopee, Maxim, Lalamove, dan InDrive selalu membuka peluang driver baru yang mengakibatkan driver semakin banyak, sementara orderan semakin sedikit," tuturnya.
Situasi tersebut membuat Radhit harus memutar otak. Sejak awal 2025, ia mulai menerapkan strategi multi-apping, yakni menggunakan beberapa aplikasi ojol secara bersamaan untuk memperbesar peluang mendapatkan pesanan.
Kini, ada lima aplikasi yang aktif digunakannya, yakni Shopee, Maxim, InDrive, Lalamove, dan ACI, sebuah aplikasi ojol lokal di Jawa Timur.
Penggunaannya disesuaikan dengan lokasi tempat ia bekerja. Saat ini, Radhit berdomisili di Jombang, Jawa Timur. Di wilayah tersebut, Shopee, Maxim, dan ACI menjadi aplikasi yang paling ramai digunakan. Sementara ketika masih di Jakarta, ia mengandalkan aplikasi ojol hijau.
Bagi Radhit, mengandalkan satu aplikator saja sudah semakin sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebab, pendapatan yang diterima bukan sepenuhnya uang bersih yang bisa dibawa pulang.
Ada biaya bensin, paket data, oli, makan, listrik, hingga perawatan kendaraan yang harus disisihkan dari penghasilan harian. Belum lagi kebutuhan rumah tangga bagi pengemudi yang sudah berkeluarga.
"Sebenarnya untuk saat ini memanglah tidak cukup kalau mengandalkan 100 persen pendapatan dari ojol di satu aplikasi saja. Karena kita belum menyisihkan pendapatan harian untuk keperluan bensin, paket data, oli, makan, listrik, dan beberapa part untuk diservis. Belum lagi jika sudah berkeluarga, harus membagi lagi untuk kebutuhan dapur dan rumah tangga," jelasnya.
Dengan mengaktifkan beberapa aplikasi, Radhit punya kesempatan lebih besar untuk mendapatkan pesanan. Ia juga bisa memilih orderan berdasarkan nilai tarif dan arah perjalanan.
Namun, strategi tersebut bukan berarti penghasilannya otomatis meningkat. Radhit justru menilai persoalan tarif dan potongan yang diterapkan aplikator masih menjadi beban bagi pengemudi.
Ia mencontohkan tarif pesanan di salah satu aplikasi yang digunakannya. Untuk perjalanan sejauh 1-4 kilometer, pengemudi terkadang hanya memperoleh sekitar Rp7.200. Nilai tersebut bahkan bisa lebih rendah ketika pesanan digabungkan atau double order.
"Jarak 1-4 km kita mendapatkan argo Rp7.200. Jika di Jakarta Rp8.000 untuk reguler, dan hub di Rp5.000 sampai Rp6.400. Belum lagi ketika double order. Yang seharusnya Rp7.200 x 2 = Rp14.400, kita cuma dapat di Rp12 ribu sekian," ungkapnya.
Radhit juga menyoroti pilihan layanan pengantaran yang ditawarkan kepada konsumen, mulai dari prioritas, reguler, hingga hemat. Menurut dia, perbedaan harga yang dibayarkan pelanggan belum tentu berbanding lurus dengan pendapatan yang diterima pengemudi.
"Semisal kita sebagai customer akan diberikan tiga pilihan pengantaran, prioritas, reguler dan hemat. Prioritas customer bayar lebih mahal, reguler standar, hemat lebih murah Rp3-4 ribu. Namun, dari pilihan tersebut tidak masuk ke kantong driver, melainkan ke aplikator," ujarnya.





Komentar (0)