Produksi Batu Bara Capai 77% dari RKAB, Pengusaha Pantau Cuaca-Logistik Jelang Akhir Tahun

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Asosiasi Pertambangan Batu bara Indonesia (APBI) memantau produksi batu bara jelang akhir tahun. Saat ini, realisasi produksi mencapai 77% dari target Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB).

Direktur Eksekutif APBI, Gita Mahyarani, mengatakan pengusaha belum bisa memperkirakan apakah target produksi batu bara tahun ini dapat tercapai sesuai kesepakatan RKAB.

"Kita perlu melihat perkembangan realisasi produksi bulanan hingga akhir tahun, termasuk dibandingkan dengan persetujuan RKAB masing-masing perusahaan," jelasnya kepada kumparan, Rabu (4/11).

Gita menyebut dengan waktu yang tersisa 2 bulan sebelum akhir tahun, pengusaha melihat pencapaian target masih akan bergantung pada kelancaran operasional, pengangkutan, serta kondisi permintaan pasar.

"Selain kegiatan produksi, faktor cuaca dan logistik juga perlu diperhitungkan," katanya.

Berdasarkan catatan Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM, realisasi produksi batu bara mencapai 77 persen dari target RKAB tahun 2026 sebesar 735,97 juta ton, yakni 566,74 juta ton.

Adapun nilai ekspor batu bara mencapai USD 23,49 miliar dengan total volume 343,08 juta ton. Porsi ekspor tersebut mencapai 56 persen dari total produksi, dengan tujuan ke China dan India.

Sementara realisasi penyaluran kewajiban pasokan dalam negeri atau Domestic Market Obligation (DMO) untuk PLTU mencapai 186,45 juta ton atau dengan porsi 58 persen dari total DMO.

Di sisi lain, Ditjen Minerba juga mencatat capaian hilirisasi untuk komoditas mineral masih jauh dari target. Dari total produksi bijih tembaga, nikel, dan bauksit yang melampaui target masing-masing 136 persen, 113 persen, dan 106 persen.

Sementara persentase progres hilirisasi mineral masih di bawah target, yakni feronikel 66 persen, katoda tembaga baru 32 persen, dan logam emas sebesar 29 persen. Dengan demikian, terjadi kesenjangan realisasi antara produksi bijih dan jumlah smelter.

Saat ini, terdapat 28 fasilitas pengolahan mineral atau smelter yang terintegrasi dengan pertambangan, mencakup 10 komoditas timah, 6 nikel, 5 alumina, 4 emas, 2 tembaga, dan 1 besi.

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan hasil dari pemangkasan produksi batu bara dalam dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Usai pemangkasan, Bahlil mengungkap harga batu bara sudah mulai membaik.

“Saya katakan kalau begitu daripada harga diatur oleh asing, barang-barang kita, 540 juta itu sama dengan 43 persen suplai batubara dunia dari Indonesia. Saya bilang kalau begitu kita jaga antara supply and demand. Potong RKAB. Apa yang terjadi? Hari ini harga batubara bisa mencapai USD 154 untuk kalori 633,” kata Bahlil dalam Minerba Convex di JIEXPO, Jakarta pada Senin (2/11).


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Rano Karno Kenalkan Gotong Royong dan Keberagaman Budaya Jakarta kepada Delegasi Asia-Pasifik dalam Pertemuan CityNet
• 14 jam lalu
0
thumb
Soal Babysitter Bakal Jadi Saksi Kunci Sidang Hak Asuh Anak, Pihak Ruben Onsu Masih Rahasiakan Sosoknya
• 8 jam lalu
0
thumb
Mahfud MD Sebut Penyadapan Ilegal Terhadap Prabowo Lebih Besar dari Kasus Sambo, Ini Alasannya

• 13 jam lalu
0
thumb
Hukuman Pelaku Pelecehan Anak Dikurangi, Warga Chile Turun ke Jalan
• 39 menit lalu
0
thumb
Pengamat Soroti Dugaan Penyadapan Presiden, Singgung Ancaman Kedaulatan Negara
• 4 jam lalu
0
Berhasil disimpan.