Yang Hancur dan Yang Bertahan di Kejatuhan Teleskop Luar Angkasa Swift

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

Hari kejatuhan kembali ke Bumi teleskop luar angkasa Swift tiba pada Rabu (4/11/2026). Lokasi pasti jatuhnya sampah antariksa tersebut di muka Bumi memang tidak diketahui pasti lantaran teleskop tersebut jatuh tidak terkendali.

Namun hal yang pasti, wilayah di sekitar garis khatulistiwa berada dalam kerentanan tinggi. Sebagian besar bagian teleskop dipastikan hancur terbakar di atmosfer dan risiko sisa bagian teleskop ini melukai siapapun di Bumi hanya 1 banding 2.100.

Prediksi terakhir Aerospace Corporation, perusahaan asal Amerika Serikat, menyebut Observatorium Neil Gehrels Swift atau populer disebut teleskop luar angkasa Swift akan jatuh atau masuk kembali ke atmosfer Bumi pada Rabu (4/11/2026) pukul 10.19 waktu universal (UTC) atau pukul 17.19 WIB. Ketidakpastian waktu jatuh Swift itu hanya sekitar dua jam.

Prakiraan terakhir Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (PRA BRIN) menyebut Swift akan masuk atmosfer Bumi di dekat ujung utara Pulau Sumatera, Rabu (4/11) pukul 12.42 UT atau 19.42 WIB dengan waktu ketidakpastian sekitar dua jam. Data diambil Rabu pukul 04.22 WIB saat ketinggian Swift tinggal 178,6 kilometer (km).

Baca JugaTeleskop Luar Angkasa Swift Bisa Jatuh di Wilayah Indonesia

Sebuah sampah antariksa dianggap memasuki atmosfer Bumi jika ketinggiannya mencapai 120 kilometer. “Prakiraan ini akan diperbarui dengan waktu ketidakpastian masuk ke atmosfer Bumi makin sempit, dalam rentang menit,” kata Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika BRIN Thomas Djamaluddin, Rabu (4/11) siang.

Sementara perhitungan Angkatan Antariksa AS pada Senin (2/11) memperkirakan Swift akan masuk kembali ke atmosfer Bumi pada Rabu (4/11) pukul 03.30 waktu pantai timur AS (EST) atau pukul 15.30 WIB. Perhitungan ini mirip dengan prakiraan PRA BRIN sebelumnya.

Meski PRA BRIN bisa menentukan lokasi masuk kembalinya Swift ke atmosfer Bumi bisa ditentukan, lokasi di permukaan Bumi yang bisa jadi tempat jatuhan sisa teleskop yang tak habis terbakar di atmosfer, tidak diketahui pasti mengingat teleskop jatuh tidak terkendali.

Hal yang pasti, karena inklinasi orbit Swift sebesar 20,6 derajat, maka sampah antariksa tersebut akan jatuh di antara 20,6 derajat lintang utara dan 20,6 derajat lintang selatan.

Sebuah sampah antariksa dianggap memasuki atmosfer Bumi jika ketinggiannya mencapai 120 km.

Kejatuhan benda-benda yang dikirimkan manusia ke luar angkasa itu, terutama di orbit rendah Bumi (LEO) adalah sebuah kepastian. Banyak yang menyayangkan Swift tidak bisa kembali mengorbit.

Terlebih, teleskop ini telah membentuk pemahaman manusia tentang obyek-obyek eksotik kosmik berenergi tinggi, mulai dari semburan sinar gama, lubang hitam, supernova, dan obyek transien kosmik lainnya. Namun hukum fisika menegaskan benda yang naik umumnya akan turun.

Peneliti senior di LeoLabs, perusahaan pengawasan aktivitas luar angkasa yang ada di Menlo Park, California, AS, Darren McKnight mengatakan Swift kemungkinan akan hancur cukup parah saat memasuki kembali atmosfer Bumi.

Karena itu, potensi jatuhan sampah antariksa ini menimbulkan korban jiwa di darat sangat kecil. Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) memperkirakan sisa teleskop yang tidak habis terbakar untuk melukai apapun yang ada di permukaan Bumi hanya 1 banding 2.100.

Swift adalah satelit teleskop yang terdiri atas tiga teleskop, yaitu Teleskop Peringawan Semburan (BAT), Teleskop Sinar X (XRT), dan Teleskop Ultraviolet/Optik. Satelit ini diluncurkan pada 2004, untuk misi selama dua tahun dan disiapkan untuk hidup di orbit selama tujuh tahun. Nyatanya, teleskop mampu bekerja dan bertahan di orbit hingga 22 tahun.

Baca JugaIndonesia dalam Risiko Tinggi Tertimpa Jatuhan Benda-benda Antariksa

Namun gaya hambatan di LEO dan aktivitas Matahari yang intensif beberapa tahun terakhir akibat puncak aktivitas Matahari membuat teleskop terus turun ketinggiannya.

Tinggi satelit saat baru beroperasi tahun 2004 mencapai 600 km dan menjadi 275 km pada 20 Oktober 2026 yang membuat NASA mengakhiri misi ini karena Swift tak dapat diselamatkan lagi. Setelah itu ketinggian Swift akan turun dan siap untuk hancur setelah memasuki atmosfer Bumi.

Hancur

Menurut McKnight, seperti dikutip Space.com, Minggu (1/11), bagian teleskop Swift yang kemungkinan selamat sampai Bumi, tidak hancur terbakar di atmsofer adalah bagian dalam Teleskop sinar X dan Teleskop Ultraviolet/Optik.

Kejatuhan benda-benda yang dikirimkan manusia ke luar angkasa itu, terutama di orbit rendah Bumi (LEO) adalah sebuah kepastian.

Begitu Swift mencapai ketinggian 120 km, lanjut manajer kualitas di Accu Components, perusahaan pemasok komponen teknik presisi asal Honley, Holmfirth, Inggris, Dean Sladen, maka itu berarti kehancuran Swift sudah ada di depan mata.

Udara di bagian depan satelit yang jatuh akan memanas sehingga satelit pun mulai berpendar dan itulah tanda bahwa sampah antariksa sudah terbakar. Bagian teleskop yang pertama kali terlepas adalah panel surya dan antena.

Selanjutnya, di ketinggian 78 km atau sekitar delapan kali ketinggian pesawat terbang, badan utama satelit akan hancur berkeping-keping. “Sebagian besar (bagian satelit) akan meleleh dan menguap,” katanya.

Selama proses kehancuran sampah antariksa tersebut, dia akan terus mengitari Bumi mengikuti jalur orbit satelit tersebut. Bagian tubuh satelit Swift yang terbuat dari alumunium, kabel-kabel, dan komponen elektroniknya dipastikan akan meleleh paling awal.

Bagian Swift yang kemungkinan bisa bertahan sampai di permukaan Bumi, baik daratan maupun lautan, alias tidak terbakar habis di udara adalah bagian-bagian berukuran kecil, padat, dan tahan panas seperti titanium, baja, dan kaca.

Baca JugaWahana Progress 86 dan Pengelolaan Sampah dari Luar Angkasa

“Bagian teleskop luar angkasa Swift yang paling mungkin selamat (dari proses kehancuran Swift) adalah enam roda reaksi berat, roda yang bisa berputar untuk mengarahkan teleskop. Selain itu ada bagian teleskop lebih kuat seperti lensa dan cermin. Lapisan pelindung teleskop yang terdiri dari 52.000 potongan kecil timah hampir pasti akan meleleh,” tambah Sladen.

Meski demikian, Sladen menilai saat ini belum ada penilaian risiko terperinci yang dipublikasikan terkait jatuhnya Swift. Namun itu bukan berarti NASA tak melakukan apa-apa. NASA dalam pernyataannya tentang puing-puing orbital menyebut risiko terjadi korban jiwa akibat jatuhan sampah antariksa tidak boleh melebihi dari 1 banding 10.000.

Karena itu, Sladen yakin NASA sejatinya telah menilai risiko atas jatuhnya Swift, tapi tidak mempublikasikannya. Secara pribadi, ia berharap NASA segara mengumumkan risiko tersebut, sama seperti yang telah dilakukan terhadap satelit-satelit jatuh sebelumnya.

Bagian satelit Swift yang terbuat dari alumunium, kabel-kabel, dan komponen elektroniknya dipastikan akan meleleh paling awal.

Risiko mengenai adanya korban akibat jatuhan sampah antariksa tersebut memang sangat kecil, tetapi informasi yang pasti akan memberikan kejelasan bagi masyarakat.

Lonjakan sampah

Selain itu, seiring meningkatnya jumlah satelit yang dikirimkan ke LEO dan pembaharuan teknologi satelit, jumlah sampah antariksa yang masuk kembali ke atmosfer Bumi akan ikut melonjak drastis. Saat ini, menurut McKnight, jumlah sampah antariksa yang masuk kembali ke atmosfer Bumi 10 kali lipat dibandingkan lima tahun lalu.

Untuk mengatasi masalah itu, kini pengembangan satelit lebih mengarah ke teknologi, desain, ataupun material ramah lingkungan. Dengan demikian, saat masa operasi satelit selesai, maka dia tidak mengotori luar angkasa, tidak menambah makin banyak sampah antariksa.

Kini, banyak satelit yang dirancang memiliki daya dorong mandiri yang cukup untuk mengarahkan satelit yang telah jadi sampah itu untuk jatuh ke wilayah laut terpencil yang jauh dari permukiman manusia.

Bus atau rangka satelit, segala komponen, maupun berbagai instrumen ilmiah pendukung juga diarahkan untuk dibuat menggunakan material yang mudah hancur atau habis terbakar di atmosfer Bumi serta tidak membahayakan kehidupan di bawahnya.

Baca JugaStasiun Luar Angkasa Internasional Akan Dibuang ke Laut

Jika semua itu tidak memungkinkankan, satelit atau sampah antariksa itu diharapkan bisa jatuh kembali ke Bumi secara terkendali. Dengan demikian, pengontrol misi di Bumi bisa mengarahkannya untuk jatuh di tempat aman dan tidak menganggu kehidupan di Bumi.

Saat ini lokasi di muka Bumi yang sering dijadikan kuburan untuk sampah-sampah antariksa meliputi kawasan Point Nemo di selatan Samudra Pasifik.

Karena itu, Sladen, NASA, LeoLabs, maupun PRA BRIN, menilai risiko Swift untuk melukai manusia amat kecil. Kalaupun ada bagian sampah antariksa ini yang tidak habis terbakar di atmosfer, maka bagian itu kemungkinan besar akan jatuh di laut atau di daratan tak berpenghuni, di hutan, gurun, gunung, hingga perkebunan atau lahan pertanian.

Meski demikian, kekhawatiran terkait dengan makin seringnya jatuhan sampah antariksa tersebut merupakan ancaman nyata dalam jangka panjang di Bumi.

Seiring perlombaan sejumlah perusahaan satelit internet dan lembaga negara membangun konstelasi satelit di LEO untuk berbagai keperluan, ancaman pada keselamatan makhluk hidup di Bumi kian jelas. Untuk itu, desain satelit yang bisa dibuang dengan aman dan terkendali menjadi kian penting.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kapolri Mutasi 9 Pejabat Polda Metro, Brigjen Ade Ary Syam Dapat Jabatan Strategis
• 8 jam lalu
0
thumb
Smelter Membeludak tapi Produknya Masih Setengah Jadi, ESDM Siapkan Kajian Ini
• 20 jam lalu
0
thumb
Guru Besar USU: Kasus Dugaan Penyadapan ke Presiden Bisa Jadi Alasan Segera Sahkan UU Penyadapan
• 1 jam lalu
0
thumb
Delegasi pemuda Indonesia jelajahi arsitektur kuno, situs bersejarah, dan warisan budaya di Shanxi, China
• 8 jam lalu
0
thumb
Jadwal Liga Voli Korea, Rabu 4 November: Menanti Kembalinya Vanja Bukilic, Red Sparks Hadapi Pink Spiders
• 8 jam lalu
0
Berhasil disimpan.