Smelter Membeludak tapi Produknya Masih Setengah Jadi, ESDM Siapkan Kajian Ini

idxchannel.com
3 jam lalu
Cover Berita

Pemerintah kini mengkaji apakah pembangunan smelter yang hanya menghasilkan produk antara masih perlu dilanjutkan, atau diarahkan hingga ke produk akhir.

Smelter Membeludak tapi Produknya Masih Setengah Jadi, ESDM Siapkan Kajian Ini. Foto: Freepik.

IDXChannel - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi/Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan smelter terus bermunculan di berbagai daerah, tetapi sebagian besar produknya masih berhenti di tengah jalan sebagai bahan setengah jadi. 

Pemerintah kini mengkaji apakah pembangunan smelter yang hanya menghasilkan produk antara masih perlu dilanjutkan, atau diarahkan hingga ke produk akhir. Bahlil mengakui, mayoritas produk industri hilirisasi saat ini baru berada di tahap tengah.

Baca Juga:
Kementerian ESDM Temukan Dugaan Penyimpangan Distribusi Solar B50 406 KL di Semarang

"Tetapi jujur saya katakan kepada teman-teman pengusaha, industri hilirisasi kita sekarang masih mayoritas produknya itu baru di tengah, baru di 60-50. Persen. Dan ini membludak sekarang," kata Bahlil saat membuka Mineral dan Batubara Convention - Expo (Minerba Convex) 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, dikutip Selasa (3/11/2026).

Karena itu, Bahlil meminta dilakukan kajian. Pemerintah ingin menimbang apakah smelter yang produknya hanya setengah jadi masih memungkinkan dibangun, atau perlu diatur lebih lanjut.

Baca Juga:
Kementerian ESDM Sebut Rasio Elektrifikasi Nasional Capai 99,8 Persen

"Yang perlu kita dorong adalah produk akhirnya, supaya bahan baku setengah jadi tidak semuanya diekspor ke luar. Jadi Indonesia ini benar-benar mendapatkan manfaatnya secara utuh. Ini yang sekarang kita lagi mau kaji," ujarnya.

Arah ini berangkat dari pengalaman hilirisasi nikel. Bahlil menuturkan, pada 2017-2019 nilai ekspor nikel Indonesia hanya sekitar USD3,3 miliar. Setelah pemerintah menyetop ekspor nikel dan membangun industri pengolahan di dalam negeri, nilai ekspornya melonjak menjadi sekitar USD34 miliar.

Baca Juga:
Kepmen ESDM 365/2026 Dinilai Jadi Angin Segar Bagi Perusahaan Jasa Tambang Lokal

Menurut Bahlil, kunci keberhasilan itu adalah konsistensi kebijakan. Dia mencontohkan ekosistem baterai kendaraan listrik yang kini terintegrasi dari tambang, smelter, prekursor, katoda, hingga baterai.

Bahlil menyebut gagasan tersebut sempat diragukan saat dia sampaikan pada 2020. Kini, Amerika Serikat (AS) sudah mendapatkan bahan baku prekursor dan katoda dari Indonesia. Indonesia juga telah memiliki tiga pabrik baterai, termasuk pabrik di Karawang yang diresmikan pada 2024.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Tri Winarno dalam laporannya juga menyebut, langkah berikutnya adalah memperdalam rantai industri menuju produk dengan nilai tambah yang semakin tinggi, termasuk bahan antara dan komponen untuk industri baterai.

Kajian ini menjadi penanda arah hilirisasi tahap berikutnya. Pemerintah ingin memastikan mineral yang diolah di dalam negeri tidak berhenti sebagai bahan setengah jadi, tetapi berlanjut menjadi produk akhir yang memberi nilai tambah lebih besar bagi Indonesia.

(NIA DEVIYANA)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Mengurai Skema Pajak Digital 2026: Tantangan Kesiapan Sistem dan Optimalisasi Potensi Fiskal
• 8 jam lalu
0
thumb
Prediksi PSMS Vs Persija di League Cup: Kesempatan Emas Pemain Pelapis Unjuk Gigi
• 15 jam lalu
0
thumb
Xiaomi Redmi M100 Pro vs Samsung Galaxy A55 5G, Duel HP Mid-Range yang Bikin Calon Pembeli Penasaran
• 18 jam lalu
0
thumb
Mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo Ditetapkan Tersangka Penyadapan Telepon Presiden
• 2 jam lalu
0
thumb
[FULL] Khozinudin-Purnawirawan TNI Desak Pemakzulan Wapres Gibran, Minta Prabowo-DPR Hal Ini
• 6 jam lalu
0
Berhasil disimpan.