Pemerintah kini mengkaji apakah pembangunan smelter yang hanya menghasilkan produk antara masih perlu dilanjutkan, atau diarahkan hingga ke produk akhir.
IDXChannel - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi/Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan smelter terus bermunculan di berbagai daerah, tetapi sebagian besar produknya masih berhenti di tengah jalan sebagai bahan setengah jadi.
Pemerintah kini mengkaji apakah pembangunan smelter yang hanya menghasilkan produk antara masih perlu dilanjutkan, atau diarahkan hingga ke produk akhir. Bahlil mengakui, mayoritas produk industri hilirisasi saat ini baru berada di tahap tengah.
"Tetapi jujur saya katakan kepada teman-teman pengusaha, industri hilirisasi kita sekarang masih mayoritas produknya itu baru di tengah, baru di 60-50. Persen. Dan ini membludak sekarang," kata Bahlil saat membuka Mineral dan Batubara Convention - Expo (Minerba Convex) 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, dikutip Selasa (3/11/2026).
Karena itu, Bahlil meminta dilakukan kajian. Pemerintah ingin menimbang apakah smelter yang produknya hanya setengah jadi masih memungkinkan dibangun, atau perlu diatur lebih lanjut.
"Yang perlu kita dorong adalah produk akhirnya, supaya bahan baku setengah jadi tidak semuanya diekspor ke luar. Jadi Indonesia ini benar-benar mendapatkan manfaatnya secara utuh. Ini yang sekarang kita lagi mau kaji," ujarnya.
Arah ini berangkat dari pengalaman hilirisasi nikel. Bahlil menuturkan, pada 2017-2019 nilai ekspor nikel Indonesia hanya sekitar USD3,3 miliar. Setelah pemerintah menyetop ekspor nikel dan membangun industri pengolahan di dalam negeri, nilai ekspornya melonjak menjadi sekitar USD34 miliar.
Menurut Bahlil, kunci keberhasilan itu adalah konsistensi kebijakan. Dia mencontohkan ekosistem baterai kendaraan listrik yang kini terintegrasi dari tambang, smelter, prekursor, katoda, hingga baterai.
Bahlil menyebut gagasan tersebut sempat diragukan saat dia sampaikan pada 2020. Kini, Amerika Serikat (AS) sudah mendapatkan bahan baku prekursor dan katoda dari Indonesia. Indonesia juga telah memiliki tiga pabrik baterai, termasuk pabrik di Karawang yang diresmikan pada 2024.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Tri Winarno dalam laporannya juga menyebut, langkah berikutnya adalah memperdalam rantai industri menuju produk dengan nilai tambah yang semakin tinggi, termasuk bahan antara dan komponen untuk industri baterai.
Kajian ini menjadi penanda arah hilirisasi tahap berikutnya. Pemerintah ingin memastikan mineral yang diolah di dalam negeri tidak berhenti sebagai bahan setengah jadi, tetapi berlanjut menjadi produk akhir yang memberi nilai tambah lebih besar bagi Indonesia.
(NIA DEVIYANA)






Komentar (0)