Asap Karhutla Tidak Berhenti di Paru-Paru

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita
Mengapa partikel halus dapat memicu peradangan dan mengganggu kesehatan tubuh?

Bayangkan seorang ibu menutup jendela ketika bau asap mulai memasuki rumah. Anak yang biasanya bermain di halaman diminta masuk. Jemuran dipindahkan, perjalanan ditunda, dan batuk mulai terdengar menjelang malam. Saat kebakaran hutan dan lahan terjadi, keputusan sederhana berubah menjadi lebih serius. Bukan hanya batuk yang terasa, namun seringkali timbul keluhan seperti perih di mata dan tenggorokan gatal. Hal ini terjadi karena terdapat berbagai proses di dalam tubuh yang berlangsung.

Asap karhutla merupakan campuran gas dan partikel hasil pembakaran. Salah satu yang perlu diwaspadai adalah PM 2,5, yaitu partikel berdiameter paling besar 2,5 mikrometer. Ukurannya memungkinkan partikel mencapai bagian dalam paru-paru. Menurut WHO, sekitar 90% massa partikel yang dilepaskan kebakaran vegetasi berupa PM2,5. Asap juga dapat terbawa angin hingga ribuan kilometer. Artinya, tinggal jauh dari titik api belum tentu membuat seseorang bebas paparan.

Di ujung saluran pernapasan terdapat alveolus, kantong udara tempat oksigen berpindah menuju darah. Ketika partikel terhirup hingga bagian ini, sel pertahanan tubuh berusaha menanganinya. Respons tersebut dapat memicu peradangan. Bayangkan alarm rumah yang menyala karena ada penyusup. Alarm dibutuhkan, tetapi rangsangan yang terus datang dapat membuat respons pertahanan ikut membebani jaringan yang seharusnya dilindungi.

Berdasarkan jurnal dijelaskan bagaimana asap kebakaran dapat memicu lingkaran peradangan dan kerusakan sel di saluran pernapasan. Partikel debu seperti PM2,5 dan PM10, alergen, serta komponen mikroba dalam asap dapat mengiritasi lapisan pelindung saluran napas. Gas pencemar juga dapat bereaksi dengan bantuan sinar matahari membentuk ozon yang menambah iritasi. Sel yang terganggu kemudian melepaskan “sinyal bahaya” untuk memanggil sel pertahanan tubuh. Respons ini membantu menghadapi zat asing, tetapi juga dapat meningkatkan pembentukan molekul reaktif. Jika jumlahnya melampaui kemampuan antioksidan tubuh, terjadilah stres oksidatif, yang dapat merusak lemak penyusun membran sel, protein, dan DNA, serta mengganggu surfaktan, zat yang membantu kantong udara paru tetap terbuka. Kerusakan tersebut selanjutnya memperkuat peradangan sehingga terbentuk siklus yang dapat terus berlangsung selama paparan asap berlanjut.

Pada saat bersamaan, paparan komponen asap dapat meningkatkan pembentukan molekul reaktif. Tubuh sebenarnya memiliki sistem antioksidan untuk menjaga keseimbangan. Ketika beban molekul reaktif melampaui kemampuan pertahanan itu, terjadilah stres oksidatif. Kondisi ini dapat merusak komponen sel dan memperkuat peradangan.

Penelitian Barros dan kolega yang terbit pada 2025 meneliti sampel urine dari 23 petugas pemadam kebakaran hutan di Portugal sebelum dan setelah bertugas. Peneliti menemukan hubungan antara kadar zat pencemar yang masuk ke tubuh dengan penanda gangguan pada paru, kerusakan lemak penyusun sel, dan kerusakan DNA akibat proses oksidasi. Temuan ini menunjukkan bahwa paparan asap dapat meninggalkan jejak pada tingkat sel, bukan hanya menimbulkan batuk atau mata perih. Namun, karena jumlah peserta masih sedikit dan sebagian perubahan belum bermakna secara statistik, hasilnya perlu diperkuat melalui penelitian yang lebih besar.

Namun, kita juga perlu menahan diri dari kesimpulan berlebihan. Tidak semua orang yang terpapar akan mengalami penyakit berat. Risiko dipengaruhi kadar polusi, lamanya paparan, aktivitas, serta kondisi kesehatan. Bukti untuk dampak jangka panjang masih perlu dipelajari lebih lanjut. Meski demikian, ketidakpastian ilmiah bukan alasan untuk menunda pengurangan paparan yang dapat dilakukan sekarang.

Anak-anak memerlukan perhatian khusus karena organ dan sistem pertahanan tubuhnya masih berkembang. Mereka juga menghirup lebih banyak udara per kilogram berat badan dibandingkan orang dewasa. Lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit jantung atau paru termasuk kelompok rentan. Pekerja di luar ruangan menghadapi persoalan lain: menghindari asap dapat berarti kehilangan penghasilan.

Oleh sebab itu, anjuran menjaga kesehatan perlu disesuaikan dengan kondisi setiap keluarga. Menutup jendela belum tentu cukup karena asap masih bisa masuk melalui celah rumah, sementara udara di dalam menjadi panas. Membeli alat penyaring udara juga tidak selalu memungkinkan karena harganya mahal. Jika perlindungan dari asap hanya bergantung pada kemampuan membeli alat, banyak keluarga akan kesulitan melindungi diri.

Pantau kualitas udara dan kurangi aktivitas berat di luar saat polusi tinggi. Jika tersedia, gunakan alat penyaring udara yang sesuai dengan ukuran ruangan. Saat harus keluar, gunakan masker N95 yang menutup hidung dan mulut dengan rapat, tanpa celah di tepinya.

Menurut saya, pemerintah daerah perlu menyediakan ruang publik berudara lebih bersih, informasi yang mudah dipahami, serta perlindungan bagi sekolah dan pekerja. Pencegahan kebakaran dan pengelolaan lahan harus menjadi bagian dari kebijakan kesehatan. Setiap keputusan yang mencegah pembakaran juga mengurangi kesempatan asap memasuki rumah warga.

Ketika seorang ibu menutup jendela, ia sedang melakukan perlindungan sebisanya. Tugas bersama kita adalah memastikan perlindungan itu tidak berakhir pada celah pintu rumahnya. Udara yang lebih bersih membutuhkan keputusan yang menjangkau sumber apinya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Terdakwa Tabrak Lari di Depan Grahadi Menangis, Ayah Korban Minta Hukuman Berat
• 22 jam lalu
0
thumb
Anwar Ibrahim Waspadai Intelijen Israel di Negara Tetangga, Malaysia Khawatir Jadi Target Perang Siber
• 5 jam lalu
0
thumb
Anggota Polresta Sleman Dilarang Nge-Vape, Kapolresta: Bisa Kena Sanksi Disiplin dan Kode Etik
• 18 jam lalu
0
thumb
Ledakan Beruntun! AS Serang Pulau Qeshm di Iran dekat Selat Hormuz | SAPA MALAM
• 15 jam lalu
0
thumb
Gerebek Gudang di Krapyak Lor, Polisi Amankan Hampir 10 Ribu Liter Solar Diduga Ilegal
• 23 jam lalu
0
Berhasil disimpan.